Penjualan Global Sido Muncul Jangkau 34 Negara, Ekspor Tumbuh 28 Persen
WARTAJOGJA.ID — PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) terus memperkuat jangkauan pasar internasionalnya di tengah tantangan penyesuaian distribusi di pasar domestik. Hingga semester I-2026, produk-produk Sido Muncul tercatat telah berhasil menjangkau 34 negara dengan pertumbuhan penjualan ekspor mencapai 28 persen secara tahunan (year on year).
Penguatan pasar mancanegara ini memberikan dorongan positif bagi kinerja perseroan, di mana kontribusi penjualan global naik menjadi 13 persen dari total penjualan bersih. Manajemen SIDO memproyeksikan porsi pasar luar negeri tersebut bakal terus ditingkatkan hingga berada di kisaran 15 sampai 17 persen dalam tiga hingga lima tahun mendatang, dengan pasar utama mencakup Malaysia, Filipina, dan Nigeria.
Direktur sekaligus Corporate Secretary Sido Muncul, Budiyanto, mengungkapkan bahwa capaian positif di pasar global menjadi penopang utama kinerja di kala penjualan domestik mengalami proses penyehatan persediaan. Penjualan bersih konsolidasi SIDO pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp1,47 triliun, dengan laba bersih terakumulasi senilai Rp334 miliar akibat dampak normalisasi stok produk Tolak Angin Group di tingkat distributor pada Februari hingga Mei 2026.
“Pertumbuhan penjualan ekspor kami secara year on year di semester pertama bertumbuh 28 persen. SIDO juga telah hadir di 34 negara dan saat ini penjualan ekspor berkontribusi 13 persen terhadap total penjualan. Untuk posisi sell-out saat ini stabil dan tidak ada penurunan, sehingga demand dari end consumer tetap stabil,” ujar Budiyanto dalam pemaparannya di Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).
Meskipun segmen herbal dan suplemen terkoreksi menjadi Rp639 miliar akibat normalisasi stok, segmen Makanan dan Minuman justru mencatatkan pertumbuhan 11 persen menjadi Rp760 miliar. Pertumbuhan ini didukung oleh penetrasi varian produk baru seperti C+Collagen, minuman Ready-to-Drink (RTD), serta Alang Sari Cooling Water yang diterima baik oleh konsumen muda. Adapun pangsa pasar produk utama Tolak Angin di pasar dalam negeri tetap dominan di angka 71 persen.
Di sisi pengelolaan keuangan dan kapasitas, SIDO mempertahankan posisi neraca tanpa utang bank atau obligasi dengan kas dan setara kas sebesar Rp476 miliar per 30 Juni 2026. Perseroan juga mengalokasikan anggaran belanja modal (capex) sebesar Rp120 miliar hingga Rp150 miliar pada tahun ini, di mana sekitar Rp24 miliar telah direalisasikan pada semester pertama.
“Kami gunakan dana capex itu untuk efisiensi dan pemeliharaan mesin. Tidak ada untuk peningkatan kapasitas. Semuanya masih cukup karena utilisasi kita baru sekitar 50 persen hingga 55 persen,” jelas Budiyanto.
Menghadapi paruh kedua tahun 2026, manajemen optimistis tren penjualan akan kembali pulih seiring dengan tuntasnya program penyehatan stok distributor. SIDO menargetkan capaian kinerja pada kuartal III dan IV 2026 setidaknya dapat menyamai raihan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Post a Comment