News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Media Kartu Cetak ENVOICE Mahasiswa UII Bangun Literasi Digital dan Komunikasi Asertif Santri Tanpa Gawai

Media Kartu Cetak ENVOICE Mahasiswa UII Bangun Literasi Digital dan Komunikasi Asertif Santri Tanpa Gawai


WARTAJOGJA.ID :  Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Indonesia (PKM-PM UII) meluncurkan Program ENVOICE di Pondok Pesantren Bima Bhakti, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kegiatan pendampingan berbasis media Kartu Edukasi Interaktif ini dirancang untuk mengasah kemampuan komunikasi asertif sekaligus literasi digital preventif bagi santri jenjang Madrasah Aliyah tanpa bergantung pada penggunaan perangkat gawai. Program pendampingan ini berlangsung selama tiga bulan, terhitung sejak Juli hingga September 2026.

​Langkah inovatif ini dihadirkan untuk menjembatani kesenjangan literasi digital akibat adanya kebijakan pembatasan gawai di lingkungan pesantren. Di sisi lain, tingginya frekuensi interaksi antar-santri di asrama selama 24 jam penuh acapkali memicu potensi gesekan dan konflik interpersonal. Kondisi tersebut diperberat oleh hasil temuan awal yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan rata-rata santri dalam memecahkan masalah serta menyampaikan pendapat secara objektif.

​Guna mengatasi persoalan tersebut, Program ENVOICE memanfaatkan simulasi analog media kartu cetak interaktif sebanyak 90 butir yang memuat berbagai studi kasus dari kehidupan sehari-hari santri. Rangkaian modul pelatihan ini dikemas dalam tiga pilar utama, yakni Logic Filter untuk mengasah pemikiran kritis dan prinsip tabayyun, Speak Up untuk melatih penyampaian pendapat secara santun dan tegas, serta Peer Mediator yang membekali santri keterampilan menengahi perselisihan secara netral.

​Metode pembelajaran kelompok interaktif yang diterapkan terbukti memicu antusiasme tinggi dari para peserta selama jalannya pelatihan. “Kami menyadari bahwa santri tidak dapat terus terhindar dari arus informasi di tengah masyarakat luas. Oleh karena itu, edukasi literasi digital tetap harus diberikan, namun disesuaikan dengan kebijakan pesantren tanpa menggunakan perangkat gawai. Semoga ENVOICE menjadi bekal berpikir kritis bagi santri sebelum mereka kembali ke masyarakat,” ujar Ketua Pelaksana Program ENVOICE UII, Kamalia Salsabila.

​Inisiatif pengabdian masyarakat ini juga mendapat apresiasi hangat dari pengasuh Pondok Pesantren Bima Bhakti yang menyambut positif dampak perubahan pola komunikasi santri menuju arah yang lebih terbuka dan kondusif. Berdasarkan evaluasi pengukuran pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan, para santri kini terbukti lebih mampu memilah kebenaran informasi, berani bersuara secara asertif, serta aktif menciptakan keharmonisan di lingkungan tempat tinggal mereka.

​Sebagai langkah menjaga keberlanjutan program secara mandiri, tim PKM-PM UII secara resmi menyerahkan Buku Panduan Mitra beserta set lengkap media kartu edukasi, sekaligus membentuk Duta ENVOICE dari kalangan santri.


Program yang didanai oleh Belmawa Ristekdikti bersama Universitas Islam Indonesia ini diusung oleh tim mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB) UII yang terdiri dari Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Indonesia (PKM-PM UII) meluncurkan Program ENVOICE di Pondok Pesantren Bima Bhakti, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kegiatan pendampingan berbasis media Kartu Edukasi Interaktif ini dirancang untuk mengasah kemampuan komunikasi asertif sekaligus literasi digital preventif bagi santri jenjang Madrasah Aliyah tanpa bergantung pada penggunaan perangkat gawai. Program pendampingan ini berlangsung selama tiga bulan, terhitung sejak Juli hingga September 2026.

​Langkah inovatif ini dihadirkan untuk menjembatani kesenjangan literasi digital akibat adanya kebijakan pembatasan gawai di lingkungan pesantren. Di sisi lain, tingginya frekuensi interaksi antar-santri di asrama selama 24 jam penuh acapkali memicu potensi gesekan dan konflik interpersonal. Kondisi tersebut diperberat oleh hasil temuan awal yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan rata-rata santri dalam memecahkan masalah serta menyampaikan pendapat secara objektif.

​Guna mengatasi persoalan tersebut, Program ENVOICE memanfaatkan simulasi analog media kartu cetak interaktif sebanyak 90 butir yang memuat berbagai studi kasus dari kehidupan sehari-hari santri. Rangkaian modul pelatihan ini dikemas dalam tiga pilar utama, yakni Logic Filter untuk mengasah pemikiran kritis dan prinsip tabayyun, Speak Up untuk melatih penyampaian pendapat secara santun dan tegas, serta Peer Mediator yang membekali santri keterampilan menengahi perselisihan secara netral.

​Metode pembelajaran kelompok interaktif yang diterapkan terbukti memicu antusiasme tinggi dari para peserta selama jalannya pelatihan. “Kami menyadari bahwa santri tidak dapat terus terhindar dari arus informasi di tengah masyarakat luas. Oleh karena itu, edukasi literasi digital tetap harus diberikan, namun disesuaikan dengan kebijakan pesantren tanpa menggunakan perangkat gawai. Semoga ENVOICE menjadi bekal berpikir kritis bagi santri sebelum mereka kembali ke masyarakat,” ujar Ketua Pelaksana Program ENVOICE UII, Kamalia Salsabila.

​Inisiatif pengabdian masyarakat ini juga mendapat apresiasi hangat dari pengasuh Pondok Pesantren Bima Bhakti yang menyambut positif dampak perubahan pola komunikasi santri menuju arah yang lebih terbuka dan kondusif. Berdasarkan evaluasi pengukuran pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan, para santri kini terbukti lebih mampu memilah kebenaran informasi, berani bersuara secara asertif, serta aktif menciptakan keharmonisan di lingkungan tempat tinggal mereka.

​Sebagai langkah menjaga keberlanjutan program secara mandiri, tim PKM-PM UII secara resmi menyerahkan Buku Panduan Mitra beserta set lengkap media kartu edukasi, sekaligus membentuk Duta ENVOICE dari kalangan santri. Program yang didanai oleh Belmawa Ristekdikti bersama Universitas Islam Indonesia ini diusung oleh tim mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB) UII yang terdiri dari Kamalia Salsabila (Hubungan Internasional - International Program), Arif Ardiansyah (Ilmu Komunikasi - International Program), Maulana Fazlurrahman Arif (Hubungan Internasional - International Program), Abidah Hasanah (Hubungan Internasional - International Program), dan Elsha Sabara Fajaristy (Pendidikan Bahasa Inggris), di bawah bimbingan dosen pendamping Farhan Abdul Majiid, S.Sos., M.A.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment