Atasi Krisis Air Bersih, Komisi C DPRD DIY Monitoring Proyek Sumur Bor Danais di Selopamioro
WARTAJOGJA.ID — Komisi C DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memantau pembangunan sumur bor untuk penyediaan air bersih di Lanteng 2, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Bantul, Senin (21/9/2026).
Pembangunan sumur bor tersebut dibiayai melalui Dana Keistimewaan (Danais) dengan anggaran sekitar Rp488 juta. Sumur ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air warga yang selama ini menghadapi persoalan kekeringan.
Kunjungan dipimpin Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro bersama sejumlah anggota Komisi C. Dalam monitoring tersebut, DPRD memastikan pelaksanaan pembangunan sekaligus melihat perkembangan sumber air yang mulai keluar dari hasil pengeboran.
Nur Subiyantoro mengatakan program tersebut merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah untuk membantu masyarakat di wilayah yang mengalami kesulitan air.
“Alhamdulillah mulai hari ini sudah mulai bisa keluar airnya. Kemudian sudah dibuat penampungannya dan nanti ada jaringan menuju resapan air yang akan dikirim untuk memenuhi air tanah bagi kebutuhan warga,” ujar Nur.
Menurutnya, sumber air tersebut diproyeksikan dapat membantu sekitar 350 kepala keluarga di wilayah Lanteng dan sekitarnya. Program serupa juga dilaksanakan di sejumlah lokasi lain di Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo.
“Ini bentuk kepedulian Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui alokasi Dana Keistimewaan untuk membantu kesulitan masyarakat ketika suasana kekeringan seperti ini,” katanya.
Anggota Komisi C DPRD DIY Aslam Ridlo menjelaskan, anggaran awal Rp488 juta digunakan untuk pembangunan sumur, bak penampungan, dan sambungan listrik. Anggaran tersebut belum mencakup jaringan distribusi air hingga ke rumah-rumah warga.
Atas usulan Dinas PU ESDM DIY, kata Aslam, akan dilakukan adendum untuk menambah fasilitas jaringan dari bak penampungan menuju jaringan warga. Tambahan anggaran diperkirakan sekitar 8 persen dari nilai awal proyek.
“Sumur ini diperkirakan menghasilkan satu liter per detik dan bisa untuk lebih dari 200 KK. Kami berharap pada 2027 sudah bisa direalisasikan jaringan tersebut,” kata Aslam.
Ia juga menekankan pentingnya masyarakat mengetahui bahwa pembangunan fasilitas tersebut bersumber dari Dana Keistimewaan DIY.
Sementara itu Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas PU ESDM DIY, Subarjo, mengatakan progres pembangunan sumur bor saat ini berjalan sesuai rencana. Pekerjaan ditargetkan selesai sebelum batas waktu kontrak pada awal Desember 2026.
“Progres aman, surplus. Insyaallah sebelum berakhirnya waktu, yakni awal Desember 2026, ini bisa selesai. Semoga berhasil dan bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar Lanteng dan sekitarnya,” ujar Subarjo.
Anggota Komisi C DPRD DIY Lilik Syaiful Ahmad mengatakan penanganan kekeringan menjadi salah satu perhatian DPRD DIY. Menurutnya, pembangunan infrastruktur air seperti sumur bor perlu terus didorong, terutama di wilayah yang belum memiliki akses air memadai.
“Kami akan terus mendorong solusi pembiayaan. Kalau perlu, kami datang ke kementerian atau Komisi V di Senayan untuk mencari solusi,” kata Lilik.
Kepala Bidang Urusan Tata Ruang Paniradya Kaistimewan, Gunawan, menjelaskan pembangunan sumur bor merupakan salah satu program penanganan kekeringan yang dibiayai Dana Keistimewaan melalui urusan tata ruang.
Program tersebut, kata dia, diprioritaskan untuk wilayah yang mengalami kesulitan air, salah satunya kawasan yang belum terjangkau jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Pembangunan sumur bor memang diprioritaskan untuk daerah-daerah yang kesulitan air. Salah satu kriterianya adalah belum ada jaringan PDAM yang masuk,” ujar Gunawan.
Pembangunan sumur bor di Selopamioro diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek saat musim kemarau, tetapi juga memperkuat ketersediaan sumber air bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Post a Comment