News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Toviyani dan Perjuangan di Balik Toga: Dua Tunanetra, Saling Menguatkan hingga Raih Gelar Magister

Toviyani dan Perjuangan di Balik Toga: Dua Tunanetra, Saling Menguatkan hingga Raih Gelar Magister


WARTAJOGJA.IDSenyum Toviyani Widi Saputri pada prosesi wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode I Tahun Akademik 2026-2027 bukan sekadar senyum seorang lulusan yang telah meraih gelar magister. Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah perjuangan yang jauh lebih dalam: tentang seorang penyandang disabilitas netra yang menuntaskan pendidikan S2 saat hamil, sekaligus tentang keluarga kecil yang dibangun bersama seorang suami yang juga penyandang disabilitas netra.

Toviyani, lulusan Program Magister Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNY, berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya dengan predikat Cumlaude. Pencapaian tersebut terasa semakin istimewa karena proses studinya dijalani sebagai penyandang disabilitas netra sekaligus dalam kondisi hamil.

Perjalanan menuju hari wisuda itu tidak selalu berjalan mudah. Ketika sebagian mahasiswa berkutat dengan penelitian dan penyelesaian tesis, Toviyani harus membagi tenaga dan perhatian dengan kondisi kehamilannya. Pada Januari hingga Februari, ia bahkan sempat berhenti mengerjakan tesis karena harus menjalani perawatan medis hingga mendapatkan infus.

Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya memilih menyerah. “Tidak mudah mengerjakan tesis sekaligus menjadi penerima beasiswa LPDP. Harus komitmen, benar-benar berjuang keras, dan lulus tepat waktu. Kalau saya putus asa dan menyerah, rasanya sayang sekali,” ungkap Toviyani, Minggu (23/8/26).

Bagi Toviyani, menyelesaikan pendidikan bukan semata tentang memperoleh gelar. Keputusan melanjutkan pendidikan magister berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan orang lain. Sebelum menempuh S2 di UNY, ia menyelesaikan pendidikan S1 Bimbingan dan Konseling Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan mendampingi anak-anak penyandang disabilitas.

Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa ilmu bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan untuk membantu mereka menghadapi berbagai persoalan kehidupan. “Saya mendampingi anak-anak disabilitas dan merasa ilmu konseling itu sangat dibutuhkan. Saya merasa ilmu saya masih kurang, makanya saya memutuskan untuk lanjut,” tutur Toviyani.

Namun, kisah perjuangan Toviyani tidak berdiri sendiri. Di balik keberhasilannya menyelesaikan S2, ada sosok Misbahul Arifin, sang suami, yang juga merupakan penyandang disabilitas netra. Keduanya menjalani kehidupan rumah tangga dengan kondisi yang sama-sama tidak mudah. Ketika Toviyani harus berjuang menyelesaikan penelitian dan revisi tesis, Misbahul hadir bukan hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai teman seperjuangan yang memahami betul tantangan yang dihadapi istrinya.

Saat kondisi Toviyani tidak selalu prima, terlebih ketika kehamilan membuat aktivitasnya semakin berat, Misbahul mengambil alih berbagai urusan rumah tangga agar istrinya dapat lebih fokus menyelesaikan studi. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Toviyani hingga akhirnya mampu berdiri di panggung wisuda.

Bagi Misbahul, keberhasilan istrinya bukan hanya pencapaian akademik, tetapi juga kemenangan atas berbagai keterbatasan yang mereka hadapi bersama. “Yang pasti saya sangat bangga dan senang. Karena istri saya itu penyandang disabilitas, tetapi ia mampu lulus tepat waktu. Itu menjadi kebanggaan tersendiri,” ungkapnya.

Kisah keduanya menjadi gambaran bahwa keterbatasan penglihatan tidak harus membatasi cita-cita. Dua tunanetra yang menjalani kehidupan bersama justru saling menjadi kekuatan ketika salah satunya harus menghadapi tuntutan akademik, kehamilan, hingga berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Dukungan Misbahul tidak berhenti sampai Toviyani menyelesaikan studi. Ia berharap istrinya kelak dapat berkiprah di dunia pendidikan sebagai dosen dan memiliki kesempatan untuk mengajar serta mengabdikan ilmunya, utamanya di UNY.

Perjalanan Toviyani dan keluarganya juga menghadirkan pesan penting tentang pendidikan tinggi yang inklusif. Misbahul menilai lingkungan UNY telah memberikan suasana yang baik dan inklusif bagi mahasiswa. Namun, ia berharap ke depan layanan dan kebijakan kampus dapat semakin memberikan perhatian kepada kelompok yang membutuhkan dukungan khusus.

“UNY sudah bagus, sangat bagus, dan inklusif. Tapi ke depannya tentu bisa lebih inklusif lagi. Kelompok-kelompok tertentu bisa diprioritaskan, seperti ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia,” ujarnya.

Kini, setelah melewati berbagai tantangan dan akhirnya mengenakan toga, Toviyani membawa pulang lebih dari sekadar gelar Magister Bimbingan dan Konseling. Dalam waktu dua tahun, ia berhasil menuntaskan pendidikan S2 dengan IPK 3,81, di tengah kondisi yang tidak sederhana.

Di balik toga itu ada perjuangan seorang ibu, keteguhan seorang penyandang disabilitas, dan dukungan seorang suami yang juga tunanetra. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Bagi Toviyani, perjalanan tersebut belum selesai. Gelar yang diraihnya justru menjadi awal untuk mengabdikan ilmu yang dimiliki agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNY tidak berhenti sebagai gelar akademik, tetapi menjadi bekal untuk mendampingi, menguatkan, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak, penyandang disabilitas, serta masyarakat luas.


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment