News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Taru Martani Genjot Kebangkitan Tembakau Grompol di DIY, Target 200 Hektare untuk Sejahterakan Petani

Taru Martani Genjot Kebangkitan Tembakau Grompol di DIY, Target 200 Hektare untuk Sejahterakan Petani


WARTAJOGJA.ID – PT Taru Martani terus memperkuat komitmennya membangkitkan kembali kejayaan pertanian tembakau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui pengembangan tembakau varietas Grompol, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemda DIY itu menargetkan perluasan lahan hingga lebih dari 200 hektare guna meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjamin kepastian pasar hasil panen.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam rangkaian kunjungan panen perdana tembakau varietas Grompol di Dukuh Seropan, Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Kamis (23/7/2026). Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan pengembangan tembakau Grompol di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama PT Taru Martani Widayat Joko Priyanto juga berdialog dengan kelompok petani tembakau dan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dari Bantul maupun Gunungkidul.

Taru Martani Hidupkan Kembali Sentra Tembakau DIY

Widayat mengatakan pengembangan varietas Grompol merupakan bagian dari peran Taru Martani sebagai BUMD yang tidak hanya mengejar keuntungan perusahaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani tembakau.

Menurutnya, program ini dijalankan melalui kemitraan bersama petani dan APTI di Kabupaten Sleman, Bantul, serta Gunungkidul.

"Kami mengajak petani dan kelompok tani kembali menanam tembakau. Tahun pertama pada 2025 hasilnya sangat baik sehingga tahun ini kembali kami lanjutkan. Luas tanamnya kini sudah mencapai lebih dari 90 hektare di tiga kabupaten. Panen perdana hari ini dilakukan di Dlingo karena menjadi lokasi yang pertama kali memasuki masa panen," ujar Widayat.
Ia menjelaskan kawasan Sleman, Bantul, dan Gunungkidul memiliki sejarah panjang sebagai sentra budidaya tembakau. Karena itu, Taru Martani berupaya menghidupkan kembali potensi tersebut dengan menghadirkan kemitraan yang memberi kepastian pasar bagi petani.

"Ketiga wilayah ini sebenarnya pernah menjadi sentra tembakau. Sekarang kami menggerakkan kembali petani agar menanam tembakau karena kualitas hasilnya tidak kalah dengan daerah lain," katanya.

Target Produksi 100 Ton Tembakau Kering

Varietas Grompol yang dikembangkan Taru Martani dimanfaatkan sebagai bahan baku tembakau iris (TIS) dan sebagian untuk kebutuhan cerutu melalui proses pengeringan dengan pengasapan.

Melihat tingginya minat petani, luas tanam di Dlingo meningkat signifikan, dari hanya dua hektare pada awal program menjadi sekitar 20 hektare dalam satu tahun.

Meski demikian, luas lahan yang ada masih jauh dari kebutuhan industri.

"Tahun ini luas tanam baru sekitar 90 hektare. Padahal kebutuhan kami untuk varietas Grompol mencapai sekitar 100 ton tembakau kering atau sekitar 700 ton basah. Idealnya diperlukan lahan lebih dari 400 hektare," ungkapnya.

Selain memperluas areal tanam, Taru Martani juga akan terus meningkatkan kualitas daun tembakau, mulai dari ukuran, ketebalan, hingga mutu hasil panen agar mampu memenuhi standar industri.

Widayat menegaskan, kehadiran Taru Martani juga menjadi solusi bagi petani yang selama ini kesulitan mendapatkan pembeli tetap.

"Harapannya, dengan pengembangan ini petani tembakau di Yogyakarta semakin sejahtera. Kami sebagai representasi Pemda DIY berkomitmen hadir untuk mendorong kesejahteraan petani tembakau," tegasnya.

Ia menambahkan berbagai masukan petani, seperti kebutuhan air irigasi dan pupuk, akan menjadi perhatian perusahaan untuk dicarikan solusi bersama.

*Petani Dlingo Rasakan Peningkatan Pendapatan*

Koordinator Petani Tembakau Dlingo sekaligus Ketua APTI Bantul, Muhammad Samsul Malik, mengatakan kemitraan bersama Taru Martani telah membawa perubahan besar bagi petani.

Pada 2025, luas tanam Grompol di Dlingo baru sekitar dua hektare. Kini berkembang menjadi sekitar 20 hektare dengan melibatkan lebih dari 100 petani.

"Panen perdana tahun ini kualitasnya lebih bagus dan produksinya meningkat dibanding tahun lalu. Setelah menjadi mitra Taru Martani, petani semakin semangat menanam Grompol," ujarnya.

Menurut Samsul, varietas Grompol memiliki keunggulan berupa daun yang lebih panjang, lebih lebar, lebih tebal, dan bobot lebih berat dibanding tembakau lokal. Secara ekonomi pun dinilai jauh lebih menguntungkan.

Ia menjelaskan satu tanaman Grompol mampu menghasilkan sekitar satu hingga 1,5 kilogram daun. Selain itu, dalam satu musim tanam selama hampir tiga bulan, setiap tanaman dapat dipanen hingga dua sampai tiga kali.

"Kalau dihitung secara usaha tani, Grompol lebih menguntungkan dibanding tembakau lokal yang dijual sistem tebasan," katanya.

Pada panen perdana kali ini, produktivitas petikan pertama diperkirakan mencapai sekitar tiga ton per hektare. Di Kapanewon Dlingo sendiri, budidaya Grompol kini telah berkembang di empat kalurahan, yakni Temuwuh, Muntuk, Dlingo, dan Mangunan.

Kepastian Pembeli Jadi Daya Tarik Utama

Menurut Samsul, kepastian pembelian hasil panen oleh Taru Martani menjadi alasan utama petani beralih menanam Grompol.

Sebelumnya, petani sangat bergantung pada penebas yang kerap membatalkan pembelian saat musim hujan karena proses pengolahan tembakau rajangan membutuhkan sinar matahari.

Berbeda dengan Taru Martani yang memiliki fasilitas pengolahan melalui sistem pengasapan sehingga tetap mampu menerima hasil panen meski kondisi cuaca kurang mendukung.

"Kehadiran Taru Martani sangat membantu petani pada musim kemarau maupun saat cuaca tidak menentu karena hasil panen sudah pasti dibeli," ujarnya.

Ke depan, petani berharap pemerintah dapat membantu pembangunan embung, penampungan air, maupun sumur bor agar kebutuhan air pada awal masa tanam dapat terpenuhi.

Petani Gunungkidul Siap Perluas Tanam

Sementara itu, Ketua APTI Kabupaten Gunungkidul, Sukimin, menyebut respons petani terhadap program kemitraan Taru Martani sangat positif.

Menurutnya, meski baru berjalan di wilayah Semin dan Ngawen, antusiasme petani terus meningkat.
"Sambutan petani luar biasa. Mereka melihat program ini mampu meningkatkan kesejahteraan karena sudah ada kepastian pembeli dengan harga yang menguntungkan," katanya.

Saat ini, luas tanam varietas Grompol di Gunungkidul telah mencapai lebih dari 10 hektare, dengan sekitar dua hingga tiga hektare siap dipanen dalam waktu dekat.

Sukimin memperkirakan sekitar 600 petani telah ikut mengembangkan varietas Grompol, dari total lebih dari 3.000 petani tembakau yang tersebar di Kabupaten Gunungkidul.

"Ke depannya kalau sukses pasti akan lebih banyak petani yang tertarik menanam tembakau jenis grompol dan bermitra dengan Taru Martani. Ini memang sudah menjadi karakter petani, kalau sudah melihat lainnya sukses, pasti ikut menanam," ujarnya.

Ia berharap kemitraan bersama Taru Martani terus diperluas sehingga semakin banyak petani memperoleh manfaat ekonomi.

"Dengan hadirnya Taru Martani, kami berharap petani tembakau di Gunungkidul semakin sejahtera karena hasil panen memiliki kepastian pasar dan harga yang menguntungkan," pungkasnya.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment