News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Sambut HUT RI ke 81, Librestyle School Gelar Pelatihan Teknisi HP Gratis Khusus Difabel di Yogyakarta Dorong Kemandirian

Sambut HUT RI ke 81, Librestyle School Gelar Pelatihan Teknisi HP Gratis Khusus Difabel di Yogyakarta Dorong Kemandirian

WARTAJOGJA.ID – Menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81, Librestyle School of Mobile Technology menggelar Pelatihan Teknisi HP Khusus Difabel secara gratis yang diikuti oleh 15 peserta dari wilayah Jogja, Sleman, dan Magelang di Yogyakarta pada 20 sampai 25 Juli 2026.

Pelatihan ini guna mendorong kemandirian ekonomi para penyandang disabilitas melalui industri servis ponsel pintar. 

Program ini mengusung tema Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju serta slogan Belajar, Berkarya, Mandiri sebagai wujud nyata dari semangat Merdeka Belajar, Merdeka Berkarya!. Seluruh peserta mendapatkan fasilitas tanpa dipungut biaya berupa ilmu dengan kurikulum berbasis industri teknologi handphone, alat service atau obeng set sebagai modal awal berkarya, baju, konsumsi, hingga sertifikat resmi dari Librestyle School.

​Direktur Librestyle School of Mobile Technology, Hery Mulyono, didampingi Owner Librestyle, Hendry, menegaskan bahwa dana kegiatan ini murni dikumpulkan secara mandiri melalui patungan bersama sejumlah sponsor seperti online, libre style, BTACC, mitosansen, B plus, dan pihak lainnya tanpa menggunakan bantuan pemerintah atau Corporate Social Responsibility perusahaan. 

Langkah perdana ini sengaja difokuskan pada perbaikan ponsel karena jumlah teknisi dari kalangan difabel pada sektor ini masih sangat minim dibandingkan sektor elektronik lain seperti televisi. 

Mayoritas peserta yang disaring sebanyak 70 persen merupakan penyandang tunadaksa pada bagian kaki—baik akibat polio, sengatan listrik, maupun gagal ginjal—namun memiliki fungsi tangan yang normal untuk bekerja.

​"Tujuannya supaya peserta-peserta atau teman-teman disabilitas itu kalau ada kendala di dalam handphonenya itu mereka bisa mengerjakan di rumah tanpa dia harus pergi ke tempat servis mungkin ya kalau bisa ngerjain sendiri mungkin lebih murah. Tujuan umumnya untuk teman-teman disabilitas mudah-mudahan nanti kalau sudah selesai dari pelatihan itu bisa membuka usaha sendiri dengan ilmu yang kita berikan disini," kata Hery Mulyono.

​Pihak Librestyle menargetkan 50 persen hingga 70 persen dari total peserta mampu lolos menjadi teknisi ponsel yang andal. Setelah satu minggu masa pelatihan tatap muka selesai, manajemen tetap berkomitmen memberikan dukungan ilmu secara daring tanpa batas waktu. 

Bahkan bagi peserta yang dinilai mampu, Librestyle siap merekrut mereka menjadi karyawan atau mencarikan tempat kerja di kontraktor servis terdekat. Dukungan lanjutan berupa penyediaan peralatan hingga banner usaha juga dijanjikan bagi peserta yang siap membuka usaha mandiri.

​"Jadi saatnya disabilitas naik kelas gak hanya teman-teman yang tanpa keterbelakangan yang bisa berkarya. Dan disitu nanti untuk teman-teman dari yang ikut pelatihan disini itu kalau memang nanti mereka mampu itu akan kita rekrut jadi karyawan," ujar Hery Mulyono.

​Tingginya target kelulusan ini didasari oleh potensi pendapatan dari jasa perbaikan ponsel yang dinilai sangat menjanjikan dan tidak ada matinya seiring pembaruan teknologi yang terus berkembang.

​"Dengan per hari kita mendapatkan 5 servisan itu penghasilan teknisi kurang lebih rata-rata 10-15 juta. Lumayan, jadi kita berharap untuk teman-teman disabilitas itu bisa meniru, bisa meniru teman-teman yang udah buka kontra sebelum-sebelumnya," tutur Hery Mulyono menambahkan.


​Sebagai distributor dan pengecer suku cadang serta alat servis terlengkap di Jogja yang menyediakan fasilitas tempat, Libre melihat program ini sebagai sinergi jangka panjang yang saling menguntungkan.

​"Kita kan yang disini yang men-support alat SPEPA, jadi kalau bisa membantu menciptakan lebih banyak teknisi, jadi kan buat sama-sama win-win gitu, dia bisa dapat pekerjaan, kita juga bisa dapat pengguna yang lebih banyak," ucap Hendry selaku Owner Libre.

​Gedung Librestyle di Jogja ini ke depannya diproyeksikan menjadi pusat pelatihan mandiri. Sebagai kelanjutan dari program kemerdekaan ini, mereka juga berencana menggelar perlombaan teknisi tingkat nasional pada bulan Agustus mendatang yang mencakup kompetisi penggantian LCD, IC, hingga konektor pengisi daya dengan hadiah menarik.

​Program pelatihan ini mendapat respons positif dari para peserta, salah satunya Endang Sundayani. 

Perempuan berusia 47 tahun asal Bandung yang kini menetap di Sleman ini memilih beralih profesi dari aktivitas sebelumnya sebagai penyanyi dan perajut karena melihat tingginya potensi ekonomi dari perbaikan ponsel di masyarakat.
​"Setiap hari kita memegang HP dan tidak tertutup kemungkinan kalau HP itu sering rusak. Nah, di situ ada peluang untuk cuan-cuan. Semoga ke depannya banyak yang bisa menjadi teknisi HP, khususnya para difabel," kata Endang Sundayani.

​Bagi Endang, pelatihan ini menjadi ruang kesetaraan yang langka bagi penyandang disabilitas untuk meningkatkan keahlian. Selain berharap ilmu ini minimal bisa digunakan untuk memperbaiki ponsel keluarganya, ia memiliki tekad kuat untuk membuka usaha servis sendiri setelah modal peralatannya terpenuhi.
​"Biar lebih terlihat lagi kalau difabel juga bisa mandiri," tutur Endang Sundayani menegaskan motivasinya.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment