News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pengda GABSI DIY Perbanyak Kejuaraan Daerah dan Sasar Dunia Pendidikan Demi Penjaringan Bibit Atlet Bridge Terbaik

Pengda GABSI DIY Perbanyak Kejuaraan Daerah dan Sasar Dunia Pendidikan Demi Penjaringan Bibit Atlet Bridge Terbaik


WARTAJOGJA.ID – Pengurus Daerah Gabungan Bridge Seluruh Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (Pengda GABSI DIY) bakal memperbanyak gelaran kejuaraan di tingkat kabupaten dan kota sebagai langkah strategis menjaring bibit atlet terbaik. Upaya memasyarakatkan cabang olahraga bridge tersebut juga akan terus dimasifkan dengan menyasar dunia pendidikan secara langsung.

​Fokus utama dari langkah Pengda GABSI DIY ini adalah memacu regenerasi atlet muda secara masif, memperluas pengenalan olahraga bridge di kalangan pelajar, serta menyiapkan para atlet daerah menuju kompetisi berskala nasional maupun internasional.

​Langkah strategis tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Pengda GABSI DIY, Arianto Wibowo, usai membuka Kejuaraan Daerah (Kejurda) DIY 2026 yang berlangsung di Komplek Perkantoran Pemkab Bantul II Manding pada Sabtu, 25 Juli 2026.

​Kejurda yang digelar selama dua hari pada Sabtu, 25 Juli 2026 dan Minggu, 26 Juli 2026 ini diikuti oleh ratusan atlet. Pada hari pertama pelaksanaan, sebanyak 100 atlet atau 50 pasang bertanding pada kategori Mini Bridge serta kelompok umur U-13, U-16, dan U-19. Sementara itu, kategori untuk peserta umum baru digelar pada hari kedua, yakni Minggu, 26 Juli 2026.

​Menurut Arianto Wibowo, Kejurda DIY 2026 ini menjadi ajang uji coba yang valid dalam mengukur mental dan strategi atlet sebelum mereka melangkah ke ajang kejuaraan nasional maupun turnamen resmi di bawah naungan KONI dan PB GABSI.

​"Ajang yang berlangsung hari ini merupakan wadah pembinaan, silaturahmi, sekaligus mengukur kemampuan atlet dalam menghadapi kompetisi di tingkat yang lebih tinggi," kata Arianto Wibowo pada Sabtu, 25 Juli 2026.

​Mengusung semangat "Memasyarakatkan Bridge", Kejurda DIY 2026 diharapkan mampu memperluas pengenalan olahraga bridge kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda dan kalangan pelajar, sehingga semakin banyak lahir bibit atlet yang siap mengharumkan nama Daerah Istimewa Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional.

​Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap regenerasi atlet usia dini, Pengda GABSI DIY menggratiskan seluruh biaya pendaftaran bagi peserta kategori kelompok umur.

​Ke depan, menyusul tidak diselenggarakannya Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) pada tahun 2027, Pengda GABSI DIY akan berfokus memperbanyak kompetisi lokal. Pihaknya juga memaksimalkan fungsi sertifikat kejuaraan di daerah agar tetap bisa digunakan para pelajar untuk menambah nilai melalui jalur prestasi.

​"Program kerja ini merupakan salah satu upaya mengangkat potensi atlet bridge di Yogyakarta yang sangat besar. Namun, cabor ini masih menghadapi tantangan kemasyarakatan serta pengembangan di tingkat nasional yang belum mendapat dukungan optimal," kata Arianto Wibowo.

​Dalam agenda kerja yang tengah disusun, Pengda GABSI DIY terus menjalin koordinasi erat dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk memfasilitasi sosialisasi olahraga bridge ke sekolah-sekolah, dengan harapan cabang olahraga ini nantinya bisa resmi menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa.

​Arianto Wibowo mengakui bahwa langkah regenerasi saat ini harus segera dilakukan mengingat dalam beberapa tahun terakhir belum banyak lahir atlet baru di wilayah DIY.

​"Apa yang sudah dilakukan Gunungkidul dan Sleman dalam meregenerasi atletnya perlu dicontoh daerah lainnya, sehingga ke depan kita bisa mendapatkan bibit baru yang siap bertanding. Kita juga mempromosikan cabor Bridge ini melalui unggahan-unggahan di media sosial," kata Arianto Wibowo.

​Berdasarkan data peserta Kejurda pada hari pertama, Kabupaten Gunungkidul menjadi daerah yang mengirimkan pasangan atlet terbanyak dengan rincian 5 pasang Mini Bridge, 6 pasang KU-13, 6 pasang KU-16, dan 5 pasang KU-19. Kabupaten Sleman menyusul di posisi kedua dengan mengirimkan 6 pasang Mini Bridge, 2 pasang KU-13, 3 pasang KU-16, dan 1 pasang KU-19.

​Sementara itu, Kota Yogyakarta mengirimkan 1 pasang Mini Bridge, 2 pasang KU-16, dan 6 pasang KU-19. Kabupaten Bantul tercatat hanya mengirimkan 1 pasang KU-16 dan 2 pasang KU-19, serta Kabupaten Kulon Progo mendatangkan 2 pasang KU-13 dan 4 pasang KU-19.

​Keberhasilan regenerasi di kawasan Bumi Handayani turut ditegaskan oleh Ketua Pengcab GABSI Gunungkidul, Trini Eko Dewi. Ia mengungkapkan bahwa regenerasi pemain bridge di wilayahnya terbilang sukses karena pihak pengurus aktif mengambil inisiatif mengundang guru-guru olahraga untuk mengikuti pelatihan khusus agar mengenal skema permainan mini bridge.

​"Melalui upaya ini kami ingin mengenalkan Bridge dan menghilangkan stigma negatif bahwa ini bukan permainan judi. Hasilnya kami berhasil menjaring ratusan bibit muda yang rutin berlatih setiap Sabtu," kata Trini Eko Dewi.

​Kesuksesan program pembinaan di Kabupaten Gunungkidul tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan dimasukkannya cabang olahraga bridge sebagai kegiatan ekstrakurikuler resmi di SDN Wonosari, SD Kanisius, serta SMP AL Mujahidin. Gerakan berkesinambungan ini juga terbukti sukses melahirkan tiga klub bridge baru di wilayah Gunungkidul.

​Adapun hasil pertandingan pada hari pertama Kejurda DIY 2026 mencatatkan pasangan Davit dan Elfri sebagai juara pertama di kategori Mini Bridge, disusul pasangan Azwan dan Anindya di tempat kedua, pasangan Ansel dan Bintang di tempat ketiga, serta pasangan Arman dan Erlangga di tempat keempat.

​Untuk kategori U-13, pasangan Alisha dan Ello berhasil menduduki peringkat pertama, diikuti pasangan Rakha dan Alfath di tempat kedua, serta pasangan Kevin dan Kenzie yang mengamankan tempat ketiga.

​Sementara itu pada kategori U-16, posisi peringkat pertama berhasil diraih oleh pasangan Nayla dan Cinta, posisi kedua diduduki oleh pasangan Arsakha dan Naresh, sedangkan tempat ketiga diraih oleh pasangan Nadhif dan Hanna.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment