Sinergi ISI Yogyakarta dan BRIN Buka Ruang Kolaborasi AI demi Kedaulatan Data Seni Budaya
WARTAJOGJA.ID — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi sepakat untuk mencari dan membuka ruang kolaborasi serta elaborasi yang produktif dalam memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Langkah strategis dari kampus seni terbesar di Indonesia ini diambil atas dasar prinsip yang kuat, yaitu menempatkan manusia sebagai pusat kendali utama dari seluruh perkembangan teknologi yang sedang terjadi saat ini, sehingga keberadaan AI tidak semestinya dipandang sebagai musuh yang harus dihindari.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr Irwandi M Sn, menegaskan bahwa institusinya sejauh ini terus mengamati setiap pergerakan dan dinamika teknologi AI secara intensif. Pihak manajemen kampus pun telah merancang serta mengimplementasikan berbagai macam langkah antisipasi guna menyikapi dampak pergeseran masif akibat disrupsi digital tersebut. Keterangan tersebut disampaikan secara langsung kepada awak media di sela-sela penyelenggaraan Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta pada Rabu, 17 Juni 2026, bertempat di lingkungan kampus setempat.
Seminar ilmiah yang mengusung tema besar "Dialektika Seni dan Artificial Intelligence dalam Rekonstruksi Nilai Estetika" ini menjadi wadah bagi Irwandi untuk memaparkan pandangan visionernya mengenai posisi krusial seni, nilai-nilai kemanusiaan, serta ruang kreativitas di tengah kepungan era kecerdasan buatan. Menurut Irwandi, keputusan menyematkan isu AI ke dalam perayaan Dies Natalis merupakan wujud nyata kelanjutan visi institusi, sebab pada beberapa tahun sebelumnya saat teknologi AI pertama kali mencuat ke publik, ISI Yogyakarta sudah pernah mengangkat tema serupa. Pada tahun 2026 ini, isu krusial tersebut kembali digaungkan secara lebih riil sebagai strategi konkret untuk merespons disrupsi yang tengah berlangsung.
Dalam kesempatan tersebut, Irwandi menjabarkan komitmen teguh pihak kampus dalam menghadapi dinamika zaman yang serba cepat. Ia menyatakan, "ISI Yogyakarta saat ini terus memantau perkembangan teknologi AI secara intensif serta telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi terhadap dampak perubahannya." Pihak kampus secara sadar memilih sikap untuk tidak memusuhi atau menjauhi fenomena disrupsi teknologi ini, melainkan berupaya keras menemukan titik temu kolaboratif agar ekosistem teknologi dapat diadaptasi dengan optimal demi kemajuan institusi, dengan catatan mutlak bahwa kendali sentral tetap berada di tangan manusia.
Melalui forum ilmiah berskala nasional ini, ISI Yogyakarta sengaja menggandeng BRIN untuk mengupas tuntas korelasi antara eksistensi manusia dan kapabilitas AI secara mendalam. Kerja sama riset ini diharapkan mampu memperjelas arah kebijakan strategis ISI Yogyakarta di masa mendatang, terutama dalam memitigasi dampak teknologi, menjaga kedaulatan data nasional, serta merumuskan regulasi yang kokoh di bidang seni dan budaya. Irwandi tidak menampik bahwa kehadiran AI membawa dua sisi mata uang yang berbeda, yakni dampak positif dan negatif. Ia menekankan tekad kampus untuk meminimalkan seluruh dampak minus AI dan di saat yang sama memacu potensi positifnya guna mendorong akselerasi mutu pendidikan.
Irwandi mengungkapkan bahwa saat ini tim akademik sudah mematangkan perencanaan guna mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum dan sistem pembelajaran formal. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa para mahasiswa secara praktis telah mulai bersinggungan langsung dengan berbagai instrumen AI dalam aktivitas harian mereka. Meskipun saat ini kampus masih berpatokan pada standar etika akademik konvensional yang mewajibkan pencantuman atribusi yang jelas selama bukan tindakan plagiasi, namun ke depan posisi AI dalam struktur kurikulum akan diatur lewat regulasi spesifik yang jauh lebih gamblang.
Pandangan senada disampaikan oleh Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN, Dr Eng Budi Prawara, yang hadir secara langsung mewakili Kepala BRIN, Prof Dr Arif Satria SP M Si, selaku pembicara kunci dalam seminar tersebut. Budi memaparkan bahwa sebagai lembaga riset nasional, tugas pokok dan fungsi utama BRIN adalah mengeksekusi kegiatan riset serta inovasi, di mana salah satu prioritas tertinggi mereka saat ini adalah menyusun draf regulasi mengenai tata cara pemanfaatan AI pada ranah riset dan penyusunan karya ilmiah. Ia menjelaskan, "Salah satu fokus utamanya saat ini adalah merumuskan regulasi mengenai pemanfaatan AI di bidang riset dan karya ilmiah."
Budi memberikan ilustrasi konkret bahwa regulasi pembatasan tersebut sangat mendesak demi menetapkan persentase maksimal konten berbasis AI yang diperbolehkan dalam naskah publikasi ilmiah atau paper. Kebijakan ini dipicu oleh maraknya temuan indikasi pelanggaran etika akademik belakangan ini, di mana tim pengawas menemukan adanya karya ilmiah yang diproduksi secara totalitas atau 100 persen oleh mesin AI. Saat ini BRIN tengah mengintensifkan formulasi aturan batas maksimal tersebut dengan harapan agar seluruh aktivitas riset dan inovasi di tanah air tetap tegak lurus pada standar etika yang baik, baik yang berlaku di level global maupun yang nanti disahkan dalam regulasi domestik.
Budi juga mengakui secara terbuka bahwa ekspansi teknologi AI kini telah merambah masuk ke berbagai sektor kehidupan, termasuk ranah ekspresi seni. Transformasi ini mengubah cara kerja para seniman yang pada awalnya menciptakan karya seni secara konvensional serta individual, kini mulai mengolaborasikan keahlian estetik mereka dengan sokongan mesin serta algoritma kecerdasan buatan. Sinergi antara daya cipta seniman dan komputasi mesin AI dinilai memiliki prospek masif untuk mendongkrak nilai ekonomis sekaligus kualitas dari karya seni itu sendiri.
Hasil dari perpaduan teknologi dan seni ini diyakini tidak hanya menawarkan pengalaman estetis yang segar bagi para penikmat seni, namun juga diproyeksikan mempunyai nilai jual yang tinggi di pasar global sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat laju pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Budi menggarisbawahi bahwa kemampuan beradaptasi merupakan kunci utama dalam memenangkan persaingan zaman, dan ia menyatakan dukungan penuh terhadap rencana strategis Rektor ISI Yogyakarta untuk memasukkan materi AI ke dalam kurikulum pendidikan tinggi seni.
Menutup pemaparannya, Budi menyampaikan kesepakatannya bahwa di tengah lompatan ilmu pengetahuan yang begitu cepat, Indonesia wajib mengambil langkah taktis agar tidak tertinggal dari bangsa lain. Indonesia harus bertransformasi dari sekadar negara konsumen yang bergantung pada teknologi besutan asing menjadi bangsa kreator inovasi unggul yang mampu melahirkan pertumbuhan ekonomi baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain dihadiri oleh jajaran rektorat dan perwakilan BRIN, kegiatan ilmiah yang memikat antusiasme kalangan praktisi seni ini turut menghadirkan jajaran narasumber ahli lainnya, yakni komposer dan seniman suara Dr Monica Lim, pakar bidang mentoring education and learning specialist Arman L Wirjawan M PSi, serta dua peneliti sekaligus staf pengajar senior ISI Yogyakarta, yaitu Dr Nadiyah Tunnikmah dan Kurniawan Adi Saputro SIP MA Ph D.
Post a Comment