Sido Muncul Gandeng Perdami dan RS UniMedika Gelar Operasi Katarak Gratis 100 Mata di Cirebon
WARTAJOGJA.ID – PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk melalui dua produk unggulannya, Tolak Angin dan Kuku Bima, kembali merealisasikan komitmen nyata dalam menekan angka kebutaan akibat katarak di Indonesia.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui penyelenggaraan program bakti sosial operasi katarak gratis yang menyasar 100 penderita katarak di wilayah Cirebon dan sekitarnya pada Rabu, 24 Juni 2026.
Dalam menyukseskan agenda kemanusiaan tersebut, Sido Muncul menjalin kerja sama strategis dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat dan Rumah Sakit UniMedika Sumber Waras Cirebon.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, kepada Direktur RS UniMedika Sumber Waras Cirebon, dr. H. Budi S. Soenjaya, MM.
Prosesi penyerahan ini turut disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni.
Melalui momentum tersebut, Sido Muncul menegaskan bahwa penyediaan layanan kesehatan mata cuma-cuma ini menjadi instrumen penting untuk menekan laju pertumbuhan penderita katarak di tanah air yang grafiknya terus merangkak naik setiap tahun.
Rekam jejak kepedulian Tolak Angin dan Kuku Bima bersama Perdami ini sejatinya telah berlangsung lama.
Sejak tahun 2011, kolaborasi tersebut tercatat telah berhasil mengoperasi lebih dari 57.000 mata di seluruh pelosok Indonesia. Konsistensi pergerakan ini terus dijaga, di mana pada tahun sebelumnya mereka telah menuntaskan operasi bagi 1.050 penderita katarak.
"Tahun lalu, kami sudah mengoperasi sebanyak 1.050 penderita katarak. Tahun ini, Tolak Angin dan Kuku Bima akan terus konsisten melakukan operasi katarak gratis, apalagi penderita katarak di Indonesia masih mencapai puluhan hingga ratusan ribu," ujar Irwan Hidayat dalam keterangan resminya pada Kamis, 25 Juni 2026.
Bagi manajemen Sido Muncul, keberlanjutan sebuah korporasi tidak boleh hanya ditakar dari skala kuantitas bisnisnya semata, melainkan dari seberapa besar dampak positif yang mampu dihantarkan kepada masyarakat luas. Skema promosi yang adaptif pun dilebur bersama aksi filantropi, di mana pendanaan tidak hanya mengandalkan pos Corporate Social Responsibility (CSR), tetapi juga memanfaatkan instrumen anggaran iklan.
"Sebuah usaha bisa sukses dan langgeng kalau bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Ini cara saya berpromosi sambil membantu. Jadi, saya menggunakan seluruh kemampuan dana Tolak Angin dan Kuku Bima untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat. Dana yang digunakan pun bukan hanya dari anggaran CSR, tetapi juga dari anggaran iklan," jelas Irwan.
Meningkatnya kebutuhan operasi membuat Sido Muncul berkomitmen untuk terus menggulirkan program intervensi medis ini secara berkesinambungan.
Mengingat katarak dikategorikan sebagai penyakit degeneratif yang melekat pada proses penuaan, kehadiran pihak swasta dinilai sangat krusial untuk mengisi ruang kosong yang belum sepenuhnya terjangkau oleh jaminan kesehatan berskema nasional.
"Jadi ini (operasi katarak) akan terus ada, tidak akan selesai, karena ini penyakit degeneratif. Pemerintah memang ada BPJS, tapi tidak semua tercover, dan kami masuk di sela-sela itu. Bagi kami, kegiatan seperti ini adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan. Banyak orang sakit tanpa kemampuan finansial, inilah saatnya kita membantu," tambah Irwan.
Melalui program ini, Sido Muncul juga berupaya mengikis stigma dan ketakutan masyarakat terhadap tindakan bedah mata. Irwan mengimbau para penderita katarak untuk membuang jauh-jauh persepsi negatif agar kondisi fisik mereka bisa segera dipulihkan demi mengembalikan produktivitas serta kualitas hidup.
"Kesehatan mata adalah faktor penting penentu kualitas hidup seseorang. Kalau orang itu sudah kehilangan penglihatan, 50 persen kualitas hidupnya hilang. Semoga operasi katarak ini tidak menjadi hal yang menakutkan untuk masyarakat, khususnya para penderita katarak, karena satu-satunya cara untuk sembuh dari katarak hanya dengan operasi. Begitu selesai operasi, maka bisa langsung kembali melihat," lanjut Irwan.
Langkah Sido Muncul dalam ranah sosial ternyata tidak berhenti pada penanganan indra penglihatan.
Perusahaan jamu terkemuka ini juga dikenal konsisten menjalankan berbagai program CSR lintas sektor secara simultan, mulai dari pembiayaan operasi bibir sumbing gratis hingga penyaluran paket bantuan nutrisi guna mengintervensi kasus anak-anak penderita stunting di berbagai wilayah nusantara.
Di samping itu, gerakan sosial di bidang kesehatan juga marak dilakukan oleh berbagai pihak, seperti halnya Pertagas yang menggelar cek kesehatan gratis untuk kelompok lanjut usia di wilayah Prabumulih.
Respon positif dan apresiasi tinggi datang dari jajaran birokrasi setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, menyampaikan rasa terima kasihnya atas inisiatif baksos kolektif yang diinisiasi oleh Tolak Angin, Kuku Bima, Perdami, serta jajaran tim medis RS UniMedika Sumber Waras Cirebon. Pemerintah daerah berharap model kolaborasi lintas sektor semacam ini dapat terus dipertahankan demi membebaskan masyarakat dari ancaman kebutaan.
"Semoga kerja sama seperti ini terus berlanjut dan jumlah penderita katarak makin berkurang," ujar Eni.
Post a Comment