Manfaatkan Shopee, Usaha Rumahan Dear June dari Sleman Berdayakan Warga hingga Tembus Pasar Manca
WARTAJOGJA.ID : Yunita Fauziah Putri (28), seorang pemilik usaha asal Sleman, Yogyakarta, tidak pernah menyangka bisnisnya kini berkembang menjadi jenama fashion perempuan yang sukses mempekerjakan penjahit lokal dan menjangkau pembeli hingga ke luar negeri melalui marketplace Shopee.
Usaha yang berfokus pada pakaian atasan dan bawahan khusus wanita dengan target pasar usia 18 sampai 30 tahun ini awalnya bernama Shop at Lokal.
Mengingat adanya keterbatasan untuk mengeksplorasi desain pakaian basic, Yunita memutuskan untuk melakukan rebranding pada tahun 2021 menjadi Dirjun Official atau Dear June Official, sebuah nama yang diambil dari bulan kelahirannya yaitu Juni.
"Kita akhirnya memutuskan untuk rebranding ke Dear June Official dengan kita juga menambahkan beberapa koleksi yang ada. Walaupun basic tapi ada sentuhan variasinya seperti itu," kata Yunita.
Meskipun berlatar belakang pendidikan manajemen dan belajar desain secara otodidak, Yunita terus berinovasi menuangkan inspirasinya dengan memberikan modifikasi foto kepada penjahit sesuai keinginannya.
Ciri khas Dear June terletak pada motif garis atau stripe, namun mereka tetap mengikuti tren pasar seperti motif polkadot. Produk-produk berkualitas ini dipasarkan dengan rentang harga Rp100.000 sampai Rp290.000-an atau kisaran Rp300.000.
Perjalanan selama 10 tahun ini tidak luput dari kendala, terutama di bagian produksi karena awalnya kesulitan memenuhi permintaan (demand) saat masih bekerja sama dengan konveksi lain.
Mengatasi problem tersebut, sejak satu setengah tahun terakhir Dear June memberanikan diri membangun in-house production demi memberikan dampak besar bagi perkembangan bisnisnya.
"Dimulai dari satu penjahit dulu, terus sekarang mulai berkembang kayak gitu. Dan alhamdulillahnya dari kita solve problem itu, itu juga memberikan impact yang besar sekali ke perkembangan bisnisnya sih," jelas Yunita yang mengawali usahanya dengan mencari penjahit rumahan di sekitar tempat tinggalnya.
Saat ini, kapasitas produksi harian Dear June sudah mampu mencapai ratusan potong pakaian, tergantung pada kerumitan modelnya.
Perkembangan ini ikut menggerakkan ekonomi warga sekitar Sleman. Dear June kini memiliki 5 penjahit in-house serta sekitar 5 penjahit rumahan yang bertugas mengambil potongan kain untuk dijahit di rumah mereka masing-masing.
Dampak lapangan kerja ini dirasakan langsung oleh warga sekitar, termasuk para ibu rumah tangga seperti Efi Nia Astuti (38) yang bekerja di bagian finishing manual sejak sebelum bulan puasa lalu. Nia bertugas memasang dan mengancingkan baju yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin konveksi.
"Bisa bantuin keluarga sih, Mas. Ini jelas. Ya, yang jelas tuh nek saya kan cuman buat jajan anak-anak, gitu. Heeh, buat tambahan ya," kata Nia.
Nia mengaku sangat terbantu dengan sistem kerja yang kondisional dan fleksibel karena ia tetap bisa memprioritaskan urusan keluarga dan anak-anaknya. "Saya tergantung habis jemput anak-anak yang jelas, gitu. Habis jemput anak-anak pulang sekolah baru ke sini," tambahnya yang juga menyatakan kesiapannya untuk lembur hingga malam jika ada target produksi yang harus diselesaikan pada hari itu.
Kenyamanan bekerja di Dear June juga diungkapkan oleh Johan Siti Nur Aini atau yang biasa dipanggil Nur. Mantan pemilik modiste rumahan yang sempat sepi orderan akibat dampak pandemi ini telah bekerja sebagai penjahit sekaligus pembuat sampel di Dear June sejak April 2025.
"Alhamdulillah kerja di sini juga enak, suasananya juga bagus ya, kondisinya juga apa? Gimana ya, Pokoke enak ajalah, gitu. Nyaman," tutur Nur. Saat ditanya mengenai pendapatannya, ia menjawab, "Alhamdulillah, lumayan, dan sangat-sangat lumayan."
Keberhasilan Dear June dalam menjaga stabilitas usaha dan kesejahteraan karyawannya tidak lepas dari strategi pemasaran digital.
Pada awal berdiri di tahun 2016, Yunita memanfaatkan Instagram dan WhatsApp dengan sistem promosi melalui kolaborasi bersama para influencer berskala nano hingga mega.
Titik balik bisnis terjadi saat pandemi Covid-19 melanda. Alih-alih terpuruk, omzet Dear June justru melonjak tajam karena kemampuan beradaptasi secara cepat lewat strategi pivot produk.
"Jadi waktu itu kita pivot dari awalnya kita jualan baju ya, kita akhirnya mikir gimana ya caranya kita tetap berjalan dengan kondisi yang saat ini. Kayak gitu kita jualan masker, masker kain kayak gitu. Dan alhamdulillahnya itu terjual puluhan ribu pieces, jadi cukup membantu cash flow kita juga sih," kenang Yunita.
Sejak tahun 2018, Dear June mulai memperluas pasarnya ke marketplace Shopee yang terbukti sangat membantu kelangsungan bisnis mereka. Bagi Yunita, sukses di marketplace membutuhkan strategi yang matang dan agresif, bukan sekadar memajang produk.
"Jadi kalau di Shopee itu sendiri enggak cuman asal upload katalog aja terus kita pasrah gitu ya tapi kita juga manfaatin semua fitur, hampir semua fitur sih yang ada di Shopee kayak gitu. Mulai dari Shopee Video, Shopee Live, Shopee Ads, kayak gitu kita manfaatin semuanya, seperti itu," paparnya. Untuk mengoptimalkan Shopee Live, Dear June bekerja sama dengan jaringan afiliasi (affiliate) yang tidak hanya diberikan sampel gratis tetapi juga ditugaskan untuk melakukan siaran langsung (live streaming).
Melalui Shopee, kini Dear June mencatatkan pengiriman puluhan hingga ratusan resi setiap harinya. Penjualan domestik terjauh bahkan telah mencapai Papua. Tidak hanya itu, Dear June mulai serius memanfaatkan Program Ekspor Shopee pada tahun ini untuk menembus pasar luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
"Heeh, ternyata produk-produk kita itu paling match sama market Singapura kayak gitu," kata Yunita mengenai pasar ekspornya yang paling ramai sejauh ini.
Aktivitas penjualan harian di Shopee sangat terbantu oleh kehadiran promo tanggal kembar (Double Date) serta program Payday. Meskipun momen Lebaran menjadi puncak penjualan tahunan, Dear June baru-baru ini mencatatkan pertumbuhan omzet harian yang bahkan lebih tinggi dari momen Lebaran setelah melakukan pembenahan manajemen stok pasca pembagian produk untuk keperluan pameran (bazar) dan penjualan online. Lonjakan orderan yang tinggi ini terkadang membuat tim kewalahan hingga membutuhkan bantuan tim khusus untuk proses pengemasan (packing).
Keterikatan Dear June terhadap platform Shopee juga didasari oleh transparansi sistem dan keamanan niaga jika dibandingkan dengan kompetitor atau platform marketplace lainnya. Yunita mengaku tidak terlalu fokus pada platform lain seperti toko hitam karena Shopee menawarkan banyak kelebihan dari sudut pandang penjual.
"Dari segi misal kayak retur, retur itu kan di marketplace lain itu sangat sulit untuk kita bisa tracing, terus kita bisa ajukan banding, dan sebagainya. Tapi kalau di Shopee ini dari sisi apa ya? Sisi retur itu sangat minim sekali sih dibandingkan yang lainnya, sehingga kita saat ini cuman fokus di Shopee aja," tegas Yunita.
Mengenai keluhan para penjual di luar sana tentang kenaikan biaya administrasi, Yunita menganggap skema biaya di Shopee masih relatif aman dan logis untuk pertumbuhan bisnisnya yang sehat selama perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) dan margin keuntungan dikelola dengan baik.
"Iya, secara perhitungan biaya admin ya, kalau secara perhitungan biaya admin itu saya lebih ngerasanya lebih aman lewat Shopee, lebih mudah gimana saya bisa tracing biaya admin apa aja yang dikenakan kayak gitu, dibandingkan dengan marketplace yang lainnya," jelas Yunita yang merasa biaya tersebut sebanding dengan limpahan traffic pembeli yang diberikan Shopee kepada tokonya.
Melihat prospek cerah yang ada di depan mata, Yunita berharap Dear June Official dapat terus bertumbuh lebih tinggi lagi baik dari segi kapasitas produksi maupun performa penjualan, seraya memperluas komitmen sosialnya untuk memberdayakan dan mendukung perekonomian tetangga di sekitar tempat tinggalnya.
Post a Comment