News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

​FTI UII Dorong Transformasi Berkelanjutan Industri Batik Melalui Strategi Bridging Intervention

​FTI UII Dorong Transformasi Berkelanjutan Industri Batik Melalui Strategi Bridging Intervention


WARTAJOGJA.ID – Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta kembali menegaskan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi nyata bagi industri nasional. 

Melalui penelitian yang dilakukan oleh salah satu akademisinya, FTI UII memperkenalkan Strategi Bridging Intervention sebagai langkah taktis untuk menjembatani transisi industri batik dari sistem produksi tradisional menuju manufaktur berkelanjutan yang berbasis ekonomi sirkular.

​Dosen Jurusan Teknik Industri FTI UII, Feris Firdaus, resmi meraih gelar Doktor dari Program Studi Ilmu Lingkungan Manajemen Sumber Daya Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta setelah mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka pada Selasa, 23 Juni 2026. 

Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi industri batik nasional yang saat ini masih didominasi oleh sistem produksi tradisional berbasis ekonomi linier dengan prinsip mengambil, membuat, dan membuang (take-make-dispose). 

Sistem ini ditandai oleh penggunaan bahan baku baru secara terus-menerus, tingginya konsumsi air dan energi, penggunaan pewarna sintetis, serta penghasilan limbah cair dan padat yang berpotensi mencemari lingkungan sekitar.

​"Industri batik merupakan salah satu industri kreatif berbasis budaya yang memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity. Namun, praktik manufaktur saat ini menghadapi tekanan eksternal berupa regulasi lingkungan, tuntutan pasar hijau, perubahan preferensi konsumen, serta agenda pembangunan berkelanjutan yang menuntut transformasi industri menuju sistem yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan," kata Feris Firdaus, Rabu, 24 Juni 2026.

​Feris menjelaskan bahwa selama ini berbagai penelitian telah membahas ekonomi sirkular, manufaktur berkelanjutan, dan transisi keberlanjutan. 

Meski demikian, sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada identifikasi praktik ekonomi sirkular, pengukuran kinerja keberlanjutan, atau evaluasi dampak lingkungan secara parsial saja. Menurutnya, belum banyak penelitian yang mengintegrasikan faktor penghambat dan pendorong, hubungan sistemik, kelayakan ekonomi, tingkat kesiapan wilayah, dan strategi implementasi ke dalam satu kerangka transisi yang komprehensif. Selain itu, belum ditemukan model yang secara spesifik menjelaskan bagaimana sentra industri batik dengan karakteristik dan tingkat kesiapan yang berbeda dapat bertransisi secara bertahap menuju manufaktur berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular, sehingga kesenjangan inilah yang menjadi dasar utama pengembangan penelitiannya.


​Penelitian ini memiliki 4 tujuan utama yang dirumuskan secara sistematis. Tujuan pertama adalah mengidentifikasi dan menganalisis faktor penghambat serta faktor pendorong yang memengaruhi transisi manufaktur industri batik menuju sistem berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular melalui integrasi SWOT dan Pareto. 

Tujuan kedua adalah menganalisis hubungan sistemik antara faktor driver, pressure, state, impact, dan response melalui integrasi DPSIR dan Pareto.

 Tujuan ketiga adalah mengevaluasi kelayakan biaya-manfaat serta menentukan prioritas manufaktur industri batik berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular melalui Cost-Benefit Analysis (CBA) dan Analytic Network Process (ANP). 

Tujuan keempat adalah merumuskan Strategi Bridging Intervention yang adaptif, bertahap, dan berbasis karakteristik wilayah untuk menjembatani kondisi eksisting industri batik menuju manufaktur berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular.

​Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengintegrasikan SWOT-Pareto, DPSIR-Pareto, Cost-Benefit Analysis (CBA), Analytic Network Process (ANP), benchmarking, observasi lapangan, wawancara mendalam, studi literatur, serta validasi pakar. 

Objek penelitian ini mencakup 10 sentra industri batik yang mewakili karakteristik wilayah di Indonesia, yaitu Sleman, Bantul, Surakarta, Pekalongan, dan Cirebon di Pulau Jawa, serta Jambi, Palembang, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Papua di luar Pulau Jawa. Integrasi berbagai metode tersebut memungkinkan analisis yang lebih komprehensif terhadap aspek ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, teknologi, pasar, dan kelembagaan.

​Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi manufaktur industri batik dipengaruhi oleh kombinasi faktor penghambat dan faktor pendorong yang melibatkan produsen, konsumen, pemerintah, serta lingkungan pasar. 

Hambatan dominan yang ditemukan berasal dari rendahnya kapasitas produsen, keterbatasan modal dan pembiayaan, lemahnya dukungan kebijakan, keterbatasan teknologi pengolahan limbah, serta rendahnya kesadaran pasar terhadap produk batik ramah lingkungan. Sebaliknya, identitas budaya batik yang kuat, meningkatnya tren pasar hijau, peluang ekonomi kreatif, potensi ekspor, dan dukungan pembangunan berkelanjutan menjadi faktor pendorong utama dalam transisi tersebut. 

Hasil analisis DPSIR-Pareto menegaskan bahwa kapasitas produsen, pola produksi linier, pengelolaan limbah, dan penggunaan bahan sintetis merupakan faktor sistemik yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan industri batik, sehingga memerlukan intervensi yang terintegrasi dan berkelanjutan.

​Di sisi lain, hasil Cost-Benefit Analysis (CBA) menunjukkan bahwa manufaktur industri batik berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih besar dibandingkan manufaktur tradisional berbasis ekonomi linier, meskipun memerlukan investasi awal yang lebih tinggi. 

Pada sentra industri batik di Pulau Jawa, implementasi ekonomi sirkular menunjukkan kelayakan ekonomi yang lebih baik karena didukung oleh kapasitas produksi, pasar, dan kelembagaan yang relatif kuat. 

Sementara itu, hasil Analytic Network Process (ANP) menunjukkan bahwa strategi manufaktur berkelanjutan menjadi prioritas pada seluruh sentra batik yang diteliti, namun tingkat kesiapan dan jalur implementasinya berbeda antarwilayah. Kota Pekalongan memiliki tingkat kesiapan tertinggi, yang kemudian diikuti oleh Cirebon, Surakarta, Bali, Bantul, dan Sleman. Untuk wilayah di luar Pulau Jawa, Bali menjadi sentra yang paling siap untuk mengimplementasikan ekonomi sirkular, sedangkan Jambi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Palembang, dan Papua masih memerlukan strategi penguatan yang berbeda sesuai dengan kondisi lokal masing-masing.

​Kontribusi utama dari penelitian yang digagas akademisi FTI UII ini adalah pengembangan Model Strategi Bridging Intervention sebagai causal transition pathway yang menjembatani kondisi eksisting manufaktur industri batik berbasis ekonomi linier menuju manufaktur industri batik berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular. 

Model ini berhasil mengintegrasikan SWOT-Pareto, DPSIR-Pareto, CBA, ANP, dan benchmarking dalam satu kerangka pengambilan keputusan yang mampu menghubungkan faktor prioritas, hubungan sistemik, kelayakan ekonomi, tingkat kesiapan wilayah, dan strategi implementasi.

​Berdasarkan model yang dikembangkan, 10 sentra industri batik tersebut diklasifikasikan ke dalam 5 kategori transisi yang spesifik. Kategori pertama adalah Immediate Transition yang meliputi Pekalongan, Cirebon, dan Surakarta. Kategori kedua adalah Moderate Transition yang mencakup Bali, Bantul, dan Sleman. Kategori ketiga adalah Gradual atau Phased Transition yang ditempati oleh Jambi. Kategori keempat adalah Market Building yang diarahkan untuk Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Palembang. Kategori kelima adalah Capacity Building yang dikhususkan bagi wilayah Papua. Setiap kategori ini memiliki jalur transisi dan strategi implementasi yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan serta karakteristik wilayah masing-masing.

​"Secara teoritis, penelitian ini memperluas aplikasi Sustainability Transition Theory, Capability Maturity Model Integration (CMMI), Circular Economy Readiness Model, dan teori pertumbuhan organisasi ke dalam konteks industri kreatif berbasis budaya. Secara metodologis, kami menawarkan pendekatan integratif yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif untuk mendukung pengambilan keputusan transisi keberlanjutan," ujar Feris Firdaus.

​Secara praktis, penelitian ini menyediakan peta jalan (roadmap) dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong transformasi industri batik yang lebih berkelanjutan. Implementasi Strategi Bridging Intervention ini juga berkontribusi langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 mengenai Good Health and Well-Being, SDG 8 tentang Decent Work and Economic Growth, SDG 9 terkait Industry, Innovation and Infrastructure, SDG 12 untuk Responsible Consumption and Production, SDG 13 mengenai Climate Action, dan SDG 15 tentang Life on Land. Melalui capaian akademis mutakhir dari dosen Jurusan Teknik Industri ini, FTI UII tidak hanya menghasilkan kontribusi akademik berupa model transisi yang baru, tetapi juga memberikan sumbangsih praktis yang nyata dalam mendukung transformasi industri batik Indonesia menuju sistem manufaktur yang lebih kompetitif, berkelanjutan, dan berbasis ekonomi sirkular.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment