DPRD Kota Yogyakarta Soroti Kesiapan Wisata Libur Sekolah, Ingatkan Ini
WARTAJOGJA.ID – Lonjakan pelancong pada musim libur sekolah tahun ini menjadi batu ujian nyata bagi kesiapan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menampung kunjungan wisata. Kendala krusial muncul di lapangan lantaran tidak difungsikannya kantong parkir bus di kawasan Senopati.
Wakil Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Yogyakarta, Danang Rudiyatmoko, menyebutkan situasi dinamis saat ini sebagai sebuah tantangan serius bagi pihak eksekutif dalam memfasilitasi pergerakan pelancong, khususnya wisatawan nusantara yang mayoritas datang berombongan menggunakan bus wisata. Menurut dia, momentum liburan tahun ini benar-benar merupakan batu ujian terkait sejauh mana kesiapan kota ini menampung para wisatawan saat musim libur sekolah tiba.
Danang Rudiyatmoko memaparkan bahwa kebijakan pembatasan akses tersebut mengakibatkan bus wisata tidak dapat merapat hingga ke kawasan Titik Nol Kilometer. Pada saat yang bersamaan, jalur menuju ke arah Malioboro juga sedang diberlakukan rekayasa lalu lintas oleh instansi terkait. Kondisi krusial ini memicu pertanyaan mendasar mengenai dampak sistemisnya terhadap minat kunjungan para pelancong ke depannya.
Guna mengatasi penumpukan, saat ini Pemerintah Kota Yogyakarta mengarahkan armada bus wisata menuju ke Taman Parkir Terminal Giwangan serta area Menara Kopi. Kendati demikian, jarak lokasi pemindahan tersebut dinilai terlampau jauh untuk dijangkau oleh wisatawan apabila harus berjalan kaki menuju ke pusat keramaian di Malioboro dan destinasi edukasi Taman Pintar.
“Taman parkir di Menara Kopi, akses ke Malioboro apalagi ke Taman Pintar sangat jauh kalau jalan kaki. Ini yang menjadi tantangan Pemkot dalam memfasilitasi. Mau diangkut pakai apa? Agen wisata berpikir akses wisata bagaimana,” ujar legislator dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.
Lebih lanjut, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menekankan bahwa urusan kepariwisataan daerah tidak boleh hanya dibebankan dan ditangani oleh Dinas Pariwisata seorang diri. Dinas Perhubungan juga dituntut bergerak cepat untuk menyediakan kantong parkir yang memadai sekaligus menyiapkan layanan shuttle yang terkoneksi langsung menuju pusat kota. Terkait pemenuhan fasilitas krusial tersebut, Danang Rudiyatmoko dengan tegas mempertanyakan, “Tersedia belum.”
Selama kurun waktu ini, keberadaan kantong parkir Senopati dan Abu Bakar diakui sangat membantu dalam menampung pergerakan armada wisatawan yang datang ke kota gudeg. Melalui pemanfaatan fasilitas parkir strategis itu, rata-rata volume kunjungan pada masa puncak liburan mampu menembus angka hingga 1000000 orang. Dampak positifnya, objek wisata Taman Pintar sebagai salah satu destinasi vital saat liburan sekolah mampu mencatatkan kontribusi pendapatan tiket sebesar 12 hingga 13 miliar rupiah yang masuk sebagai penghasilan Badan Layanan Umum Daerah.
“Taman Pintar cukup vital karena masa libur sekolah. Dari kawasan pantai dan lain-lain, ending-nya ke kawasan Malioboro,” kata Danang Rudiyatmoko menjelaskan keterkaitan antardestinasi tersebut.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak bahwa konsep penataan sumbu filosofi sejatinya telah melekat kuat dalam regulasi Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta sejak 10 tahun yang lalu. Walakin, integrasi nyata antara kebijakan penataan kawasan dengan kemudahan akses wisata dinilai belum memiliki peta jalan atau roadmap yang jelas hingga saat ini. Atas dasar itulah, Danang Rudiyatmoko mengingatkan dengan menyatakan, “Jangan terlalu lama mengintegrasikan, nanti wisatawan lari.”
Sebagai langkah konkret dalam mencari jalan keluar dari problematika pelik ini, Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Yogyakarta telah menjadwalkan agenda untuk melakukan fasilitasi langsung ke Kementerian Pariwisata pada tanggal 21 Juni 2026 mendatang. Upaya strategis ini ditempuh dengan tujuan utama untuk mencari dukungan alokasi anggaran Dana Alokasi Khusus maupun sokongan pembiayaan bagi penyelenggaraan berbagai event pariwisata lain di wilayah Kota Yogyakarta.
Mengingat postur Pendapatan Asli Daerah Kota Yogyakarta sangat bergantung pada sektor pariwisata, Danang Rudiyatmoko mendorong penuh adanya perencanaan yang matang dan menyeluruh terkait penataan kawasan serta penyelenggaraan event penunjang pariwisata di seputaran Malioboro. Demi mewujudkan hal tersebut, ia menilai mutlak diperlukan koordinasi lintas wilayah yang sinergis antar-pemerintah daerah.
“Ini menjadi target sebagai pemikiran saya, sekaligus membuka ruang diskusi dengan Pemda DIY, Sleman, dan Bantul, untuk membuka akses penopang wisata Kota di mana. Perlu dialog satu meja,” pungkas Danang Rudiyatmoko mengakhiri penjelasannya.
Post a Comment