News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Sido Muncul Kuku Bima dan Yayasan TOP Kucurkan Donasi Rp 355 Juta Operasi Bibir Sumbing Gratis di Bogor

Sido Muncul Kuku Bima dan Yayasan TOP Kucurkan Donasi Rp 355 Juta Operasi Bibir Sumbing Gratis di Bogor

WARTAJOGJA.ID : Keterbatasan fisik berupa bibir sumbing dan celah langit-langit mulut sering kali menjelma menjadi problem kompleks yang merenggut kegembiraan masa kecil anak-anak. 

Hambatan fungsional ini tidak sekadar mengganggu kemampuan verbal dan proses pencernaan makanan, melainkan memicu efek domino psikologis berupa hilangnya kepercayaan diri hingga ancaman stunting akibat defisit pemenuhan gizi kronis. 

Memahami beratnya beban finansial keluarga kurang mampu yang harus membiayai tindakan bedah rekonstruksi secara bertahap, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk melalui lini produk Kuku Bima menggandeng Yayasan Tangan Orang Peduli atau TOP Surabaya dan Rumah Sakit Permata Jonggol untuk menyelenggarakan program operasi gratis bagi dua puluh pasien anak. 

Agenda bakti sosial kemanusiaan ini digulirkan sebagai wujud kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan publik sekaligus menyambut hari jadi Sido Muncul ke-75 yang jatuh pada November 2026 mendatang.

Akumulasi sokongan dana kemanusiaan bernilai total Rp355.250.000 berhasil dihimpun dengan rincian bersumber dari kas internal Yayasan TOP Surabaya sebesar Rp200.000.000 serta kontribusi dari Sido Muncul senilai Rp155.250.000. Seremoni penyerahan bantuan secara simbolis dilangsungkan pada Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di RS Permata Jonggol, Kabupaten Bogor. 

Penyerahan plakat donasi dipimpin secara langsung oleh Direktur Utama Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat didampingi perwakilan Yayasan TOP Maya Sari kepada Direktur RS Permata Jonggol dr. Sri Handayani, MARS. 

Momentum krusial ini turut disaksikan  Camat Jonggol Andri Rahman, S.STP., M.Si., jajaran dokter spesialis, aparatur medis, beserta perwakilan keluarga penerima manfaat, sedangkan Ketua Yayasan TOP Surabaya Natalia Soetrisno memantau jalannya acara virtual. 

Sinergi perdana antarkedua institusi ini dapat berjalan sukses berkat kepeloporan Rheno Adrian Hidayat, salah satu anggota Yayasan TOP yang bertindak aktif menjembatani jalinan komunikasi dengan manajemen Sido Muncul.

Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat menegaskan bahwa baksos ini merupakan bentuk komitmen empati perusahaan dalam memperluas jangkauan fasilitas pemeliharaan medis, khususnya bagi anak-anak dari kalangan rentan miskin. 

Berkaca pada histori masa mudanya di usia 21 tahun yang sempat merasakan dinamika tubuh tidak sehat, Irwan memahami betul bahwa setiap ibu pasti merasakan kesedihan mendalam ketika menghadapi kenyataan bayinya lahir dengan keterbatasan fisik. 

Irwan mengimbau para orang tua untuk aktif mencari akses informasi medis dan menegaskan pentingnya andil korporasi swasta dalam menambal keterbatasan jangkauan jaminan kesehatan milik pemerintah.

"Saya rasa semua orang tua pasti ingin anaknya dioperasi, cuma bingung bagaimana caranya. Kalau ada yang mengalami bibir sumbing, silakan mendaftar ke rumah sakit atau lewat BPJS. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Perlu partisipasi masyarakat dan pengusaha untuk membantu warga yang membutuhkan," ujar Irwan.

Dalam kesempatan yang sama, Irwan melayangkan kekaguman tinggi atas dedikasi kolektif anak-anak muda di dalam Yayasan TOP yang bersedia menyisihkan fokus dan tenaga di tengah rutinitas olahraga raket demi menolong sesama yang membutuhkan. 

Penghargaan setinggi-tingginya juga dia sematkan kepada formasi dokter ahli, yakni dokter Selvi, dokter Hilmi, dokter Hengky, dan dokter Sudianto yang secara sukarela menyumbangkan keahlian bedah plastik mereka tanpa menuntut bayaran materiil.

"Jarang ada orang bermain olahraga, mengadakan turnamen, tetapi tetap ingat masyarakat yang membutuhkan. Ini luar biasa. Dokter-dokter ini luar biasa karena mengoperasi tanpa dibayar. Ada dokter Selvi, dokter Hilmi, dokter Hengky, dan dokter Sudianto. Mereka yang sebenarnya paling berjasa. Kalau sudah sembuh, mereka pasti lebih pede. Masa depannya juga mudah-mudahan jadi lebih baik," kata Irwan.

Sido Muncul sendiri berkomitmen memutus efek domino negatif dari kelainan fisik tersebut agar seluruh anak Indonesia dapat tumbuh dengan kuat dan sehat guna mengoptimalkan momentum bonus demografi nasional. 

Melalui konsistensi gerakan kepedulian yang terintegrasi sejak tahun 2018 di Kupang, Nusa Tenggara Timur ini, akumulasi jumlah warga kurang mampu yang berhasil dipulihkan kesehatannya secara gratis lewat program Sido Muncul kini telah mencapai total 774 pasien di berbagai pelosok tanah air.

Kasus bibir sumbing yang cenderung meningkat hingga mencapai 7.500 kasus baru per tahun di Indonesia memperkuat tekad berkelanjutan dari program ini. 

Aksi sosial kali ini memiliki latar belakang unik karena lahir dari ekosistem komunitas pecinta olahraga raket yang berpusat di Surabaya. 

Yayasan TOP berdiri di atas keyakinan bahwa semangat kompetisi di dalam lapangan tenis lapangan dan olahraga padel dapat dikonversi menjadi sebuah gerakan solidaritas sosial yang berkelanjutan di tengah masyarakat. 

Utusan Yayasan TOP Maya Sari mengonfirmasi bahwa porsi pendanaan senilai dua ratus juta rupiah yang dialokasikan dalam baksos ini merupakan profit murni dari penyelenggaraan ajang Tolak Angin X TOP Tennis and Padel Tournament 2026 di Surabaya. 

Sepak terjang gerakan kemanusiaan TOP sendiri tercatat sangat luas, mulai dari pembangunan infrastruktur akses air bersih lewat program Water of Life di tiga titik kekeringan Bojonegoro pada tahun lalu, penyaluran bantuan pangan panti jompo dan panti asuhan di Surabaya, renovasi fasilitas publik, hingga pemberian beasiswa pendidikan berkelanjutan.

"Kami dari komunitas tenis di Surabaya rutin mengadakan turnamen, lalu hasilnya digunakan untuk kegiatan charity. Setiap pertandingan, sponsor, dan dukungan yang diberikan ternyata bisa menghadirkan harapan baru bagi anak-anak dan keluarga pasien. Harapannya bisa ketularan konsistensi Sido Muncul dalam berbagi dan juga ketularan suksesnya supaya manfaat yang diberikan lebih besar lagi," papar Maya Sari.

Direktur RS Permata Jonggol dr. Sri Handayani, MARS memastikan seluruh rangkaian tindakan pembedahan dilaksanakan dengan standar baku mutu medis yang ketat demi mengeliminasi potensi risiko fatalitas. Formasi klinis utama yang diterjunkan terdiri dari kolaborasi apik antara dokter spesialis anak, spesialis bedah plastik, dan spesialis anestesi, di mana dokter Shelly Madona Djaprie, Sp.BP-RE bertindak langsung sebagai salah satu operator bedah rekonstruksi. Sri Handayani memaparkan bahwa setiap anak wajib dinyatakan lolos penapisan kesehatan oleh dokter spesialis anak terlebih dahulu guna menjamin kesiapan fisik pasien sebelum masuk meja operasi. Guna menyerap aspirasi pengobatan massal di area Bogor, Bekasi, dan sekitarnya, posko pelayanan baksos gratis ini dipastikan akan tetap dibuka selama lima bulan penuh, terhitung mulai Mei hingga Oktober 2026.
"Ini bukan hanya tentang tindakan medis, tetapi juga awal perjalanan baru yang lebih baik bagi anak-anak yang kita cintai. 

Anak-anak diperiksa dulu oleh dokter spesialis anak. Kalau dinyatakan sehat dan lolos screening, baru bisa dilakukan tindakan operasi. Bakti sosial ini akan berlangsung selama 5 bulan, dari Mei hingga Oktober. 

Harapannya, ada banyak anak yang berhasil menjalani operasi gratis sehingga mereka bisa makan dengan nyaman, bicara dengan jelas, dan tentunya mengalami pertumbuhan sosial psikis dengan baik. Kami berharap bisa menjangkau masyarakat lebih luas lagi dan menangani lebih banyak pasien," urai dr. Sri Handayani.

Manajemen rumah sakit memberlakukan regulasi ketat terkait batas usia serta berat badan minimal calon pasien demi menjaga keselamatan proses pembiusan dan pembedahan. Untuk kategori operasi bibir sumbing, bayi diwajibkan menyentuh usia minimal tiga bulan dengan standar berat badan terendah lima kilogram. Sementara itu, untuk penanganan celah langit-langit mulut, jenjang umur pasien disyaratkan minimal satu tahun dengan kisaran bobot tubuh delapan hingga sembilan kilogram.

Di luar parameter antropometri tersebut, calon pasien anak mutlak berada dalam kondisi kebugaran prima serta bebas dari gangguan penyakit infeksi musiman seperti demam, batuk, pilek, ataupun komplikasi kelainan bawaan khusus.

Respons positif dan apresiasi mendalam datang dari Camat Jonggol Andri Rahman yang menyambut baik konsistensi komitmen sosial dari pihak swasta di wilayah otoritasnya. Andri mencatat bahwa program pemulihan celah bibir ini merupakan implementasi baksos jilid ketiga yang dilaksanakan Sido Muncul di RS Permata Jonggol setelah sebelumnya sukses mengentaskan problem stunting anak dan menggelar operasi katarak massal gratis.

"Kami bersyukur karena ini sudah menjadi kegiatan sosial ketiga bersama Sido Muncul di RS Permata Jonggol, setelah sebelumnya ada program stunting dan operasi katarak. Kami ucapkan terima kasih kepada Sido Muncul, RS Permata Jonggol, dan Yayasan TOP Surabaya. Kegiatan ini jadi sesuatu yang meringankan masyarakat, karena ada beberapa kondisi kesehatan yang tidak bisa di-cover oleh pemerintah dan dapat dibantu oleh swasta," tutur Andri Rahman.

Sisi emosional dan tumpuan harapan terekam jelas dari kesaksian jujur para orang tua pasien dari keluarga miskin, salah satunya Novianti yang mengasuh Maher, bayi laki-laki berusia sembilan bulan. Maher terlahir dengan kondisi bibir sumbing sekaligus celah pada langit-langit mulut yang memaksanya mencurahkan tenaga ekstra saat proses pemberian makanan dan susu harian demi menjaga stabilitas nutrisi sang buah hati, sehingga baksos gratis ini dinilai sangat meringankan beban ekonomi keluarganya.

"Terima kasih banget karena kami sudah dibantu. Kalau tidak ada program seperti ini, belum tentu kami bisa melakukan operasi untuk anak kami. Saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan operasi ini. Semoga anak saya bisa seperti anak-anak pada umumnya," aku Novianti dengan nada penuh haru.

Rasa bahagia serupa juga diluapkan oleh Haris Hidayat, seorang pria berusia 36 tahun yang sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan gorengan. Putranya yang bernama Hayat Banyuwira saat ini menginjak usia sembilan tahun dan diproyeksikan masih harus menjalani rangkaian operasi lanjutan hingga dua sampai tiga kali ke depan. Kondisi langit-langit mulut Hayat yang belum menutup sempurna mengakibatkan artikulasi bicaranya kurang jelas serta membuat makanan kerap menyelinap keluar lewat hidung, yang pada gilirannya memicu aksi perundungan dari teman bermain hingga sang anak tumbuh menjadi sosok yang minder.

"Kalau bicara suaranya masih kurang jelas. Terus kalau makan kadang keluar dari hidung karena bagian langit-langitnya masih terbuka. Harapan saya setelah operasi nanti dia bisa lebih beerlatih percaya diri dan tidak dibully lagi sama teman-temannya. Dia langsung peluk mamahnya sambil menangis saat mendengar kabar baksos ini. Mungkin dia memang pengin sembuh, tapi juga ngerti kondisi keluarga kami. Alhamdulillah saya rasanya sangat-sangat terharu dengan adanya program ini, karena anak saya butuh operasi lanjutan. Semoga bantuan ini bisa terus dilanjutkan. Dengan adanya operasi gratis ini, anak kami punya kesempatan untuk hidup lebih baik," kata Haris.


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment