News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Seminar Nasional Jawab Tantangan Zaman Lewat Resiliensi Berbasis Budaya di Yogyakarta

Seminar Nasional Jawab Tantangan Zaman Lewat Resiliensi Berbasis Budaya di Yogyakarta



WARTAJOGJA.ID : Sebagai upaya memberikan ruang dialog ilmiah dan reflektif dalam memperkuat kesehatan mental, ketahanan keluarga, dan pendidikan karakter, Kemuning Kembar menyelenggarakan Sarasehan Nasional bertema Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman yang berlangsung pada 2 hingga 3 Mei 2026. 

Kegiatan ini bertujuan mendorong pemahaman dan penguatan praktik pendidikan serta pengasuhan berbasis budaya sebagai fondasi kesejahteraan psikologis dan pembentukan karakter dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Budaya Nusantara sejatinya menyediakan perangkat pendidikan dan pengasuhan yang komprehensif melalui seni tradisi dan praktik keseharian. Dalam konteks budaya Jawa, nilai-nilai seperti asah, asih, asuh, andhap asor, dan ngemong rasane bocah bukan hanya sekadar ajaran normatif, melainkan juga prinsip relasional yang mendukung empati, regulasi emosi, serta keharmonisan sosial dalam keluarga. Nilai-nilai ini memiliki potensi besar sebagai sumber daya kultural dalam membangun resiliensi berbasis budaya. 

Forum ini diharapkan menjadi wadah pertemuan antara akademisi, praktisi pendidikan, psikolog, budayawan, dan pemangku kebijakan guna merumuskan strategi pengembangan pendidikan dan pengasuhan yang adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan. Terdapat enam panel utama yang disajikan dalam rangkaian kegiatan ini.

Pendiri Kemuning Kembar, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, mengutarakan bahwa gagasan acara ini berangkat dari kegelisahan terhadap metode pendidikan dan pengasuhan anak di masa kini. 

"Seminar ini adalah satu hal yang berangkat dari sebuah kegelisahan tentang pendidikan dan pengasuhan anak pada situasi sekarang ini, bagaimana ya caranya untuk bisa lebih menjawab tantangan-tantangan zaman," ungkap Indria.

 Ia menambahkan bahwa leluhur kita sebenarnya telah mewariskan sesuatu yang luar biasa untuk diangkat kembali dalam merespons tantangan masa kini.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pidato kunci dan arahan dari Direktur Jenderal Kebudayaan dan Pemeliharaan Tradisi. 

Panel pertama yang bertajuk Menjawab Tantangan Zaman: Budaya, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter Nyawiji, Greget, Sengguh lan Ora Mingkuh dibahas oleh Anggota Komisi X DPR RI Ruby Chaerani Syiffadia, Penghageng Tepas Tandha Yekti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gusti Kanjeng Ratu Hayu, serta Dr. Indria Laksmi Gamayanti. Indria sengaja melibatkan tokoh-tokoh muda dalam diskusi tersebut untuk memastikan terjadinya proses alih generasi. 

"Kenapa saya juga ingin melibatkan para tokoh-tokoh muda gitu supaya ada sebuah proses alih generasi. Karena nanti yang akan menjalankan ini kan adalah para generasi muda," ujarnya.

Pada panel kedua, peserta akan menyimak pembahasan bertajuk Langen Carita yang bertujuan menumbuhkan kemampuan memahami nilai, moral, dan makna kehidupan melalui narasi dan simbol. Sesi ini dipandu oleh praktisi budaya Tri Yuliyanti Setyasari dan psikolog klinis Intan Kusuma Wardani. 

Selanjutnya, panel ketiga mengupas topik tentang tari untuk mengembangkan kesadaran diri, disiplin koordinasi gerak, serta regulasi emosi, yang dibawakan oleh praktisi budaya sekaligus pendiri Sanggar Seni Kinanti Sekar, Kinanti Sekar Rahina, bersama psikolog klinis Anggiastri Hanantyasari Utami. Indria memaparkan bahwa pihaknya juga akan membedah aktivitas budaya mulai dari tantangan Carito yang dinilai sangat komprehensif untuk proses stimulasi, dilanjutkan dengan tari, hingga ditutup dengan dolanan, tembang, serta dongeng.

Indria menjelaskan bahwa seminar ini juga mengungkap bagaimana pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan, yang dalam bahasa psikologi disebut Adverse Childhood Experiences, berperan tidak hanya dalam pembentukan karakter, tetapi juga pada ketahanan mental dan daya lenting seseorang. 

Menurutnya, hal tersebut perlu dipantau betul agar tidak meninggalkan luka yang terbawa sampai dewasa. Ia menekankan bahwa teori dan ajaran leluhur kita tidak kalah dari berbagai teori yang dikembangkan di dunia barat, dan berharap warisan adiluhung ini bisa dijadikan metode yang membanggakan untuk mendidik anak cucu menjadi generasi yang tangguh. Terkait masalah anak-anak yang memerlukan penanganan pada layanan penitipan anak, Indria telah mengusulkan perlunya asesmen atau pemeriksaan tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga pada orang tua.

Menurut Indria, orang tua perlu dibekali dengan edukasi tentang cara mengelola diri sendiri terlebih dahulu sebelum mendampingi anak-anaknya. Ia menganalogikan hal tersebut dengan filosofi penggunaan masker oksigen di pesawat terbang. 

"Filosofinya sama dengan ketika kita naik pesawat terbang terus ketika udara tidak baik kan yang pakai oksigen mask itu kan yang tua dulu ya baru nolong anaknya karena orang tualah yang akan mendampingi," paparnya. Orang tua yang terbebani bisa berperilaku berlebihan atau berkekurangan sehingga tidak memberikan pengasuhan yang tepat. Oleh sebab itu, pendidikan pada orang tua sangat penting, serta diperlukan pemeriksaan dan terapi psikologi klinis yang komprehensif bagi anak.

Indria juga menuturkan bahwa berdasarkan cerita dari para orang tua, anak-anak yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan sering kali menunjukkan gejala masalah kesehatan seperti sering sakit, mudah marah, sangat takut ditinggal oleh orang tua secara berlebihan, dan mengalami mimpi buruk dalam waktu yang cukup lama. Meski ia belum melakukan pemeriksaan secara langsung, Indria siap sedia kapan pun dibutuhkan untuk membantu dan berharap hal ini bisa segera ditindaklanjuti. Ia telah berkoordinasi dengan DP3AP2 provinsi dan berkomunikasi dengan Pemkot Jogja yang menyatakan akan melakukan penanganan bekerja sama dengan psikolog klinis di Puskesmas. 

Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Restu Gunawan, M. Hum., menekankan pentingnya memajukan kebudayaan dan memperkuat literasi dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. 

Dalam sebuah seminar kebudayaan, Restu menyoroti bahwa dunia saat ini tunduk pada algoritme yang dapat mendikte kehidupan, termasuk dalam ranah seni dan ekspresi terdalam manusia. 

Algoritma tersebut merupakan produk dari kecerdasan artifisial yang terus berkembang dan mengambil keputusan berdasarkan data yang diberikan oleh manusia itu sendiri. Jika hal ini tidak diimbangi dengan literasi yang kuat berbasis kearifan lokal, masyarakat dikhawatirkan akan sepenuhnya dikuasai oleh kecerdasan buatan tersebut.

Sebagai langkah antisipatif, Restu memaparkan bahwa Indonesia memiliki sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. 



Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment