News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

InJourney Destination Management Gelar Simulasi Bencana dan Peringati 20 Tahun Gempa Yogya di SMA N 1 Kalasan

InJourney Destination Management Gelar Simulasi Bencana dan Peringati 20 Tahun Gempa Yogya di SMA N 1 Kalasan

WARTAJOGJA.ID — Guna membangun budaya tanggap terhadap ancaman bencana alam, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko atau InJourney Destination Management bekerja sama dengan berbagai pihak menyelenggarakan simulasi kedaruratan di lingkungan sekolah. Langkah taktis ini diwujudkan nyata melalui pelaksanaan simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi yang bertempat di SMA Negeri 1 Kalasan pada hari Jumat siang, tanggal 22 Mei 2026. 

Sebanyak 504 peserta didik yang berasal dari seluruh kelas sepuluh dan kelas sebelas dilibatkan secara aktif dalam agenda mitigasi tersebut. Momentum simulasi ini juga diselenggarakan secara khusus guna memperingati dua dekade atau 20 tahun tragedi gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 silam.


Rangkaian latihan kedaruratan dimulai ketika sirene penanda terjadinya guncangan gempa bumi diaktifkan oleh pihak panitia. Mendengar sinyal peringatan tersebut, ratusan siswa bersama para guru pendamping secara sigap langsung mempraktikkan prosedur penyelamatan diri secara mandiri, kemudian disusul dengan pergerakan evakuasi bersama menuju ke area lapangan sekolah yang telah ditetapkan sebagai titik kumpul aman. Setelah seluruh rombongan berhasil dievakuasi ke ruang terbuka, jajaran guru segera melakukan proses pendataan intensif guna memastikan keselamatan mutlak dari seluruh peserta. Tidak hanya itu, skenario latihan juga diperkuat oleh simulasi dari tim kesehatan yang langsung melakukan tindakan penanganan medis darurat kepada sejumlah siswa yang diasumsikan mengalami cedera fisik saat proses penyelamatan berlangsung.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Lilik Kurniawan selaku Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia memberikan pandangan strategisnya. Ia menyampaikan bahwa upaya pembentukan kesiapsiagaan menghadapi bencana semestinya dikembangkan menjadi sebuah kultur atau budaya yang melekat erat di tengah kehidupan masyarakat, terlebih lagi bagi penduduk yang mendiami wilayah dengan indeks kerawanan tinggi seperti Daerah Istimewa Yogyakarta.

 Lilik menekankan pentingnya institusi pendidikan yang berada di zona rawan bencana untuk memiliki kesiapan yang bersifat menyeluruh, yang melibatkan elemen siswa, tenaga pendidik, hingga komponen sekolah lainnya secara terintegrasi.

"Bencana itu dekat dengan kita, jadi bagaimanapun kita harus siap. Gempa bumi Jogja 2006 tidak boleh dilupakan. Bukan untuk bersedih, tetapi untuk mengingatkan memori kolektif agar masyarakat selalu siap menghadapi bencana," ungkap Lilik Kurniawan di sela-sela peninjauan kegiatan.
Pada sisi lain, Chief Operating Officer InJourney Destination Management atau PT TWC, Indung Purwita Jati menerangkan bahwa implementasi kegiatan edukasi kebencanaan ini ditargetkan menyasar kalangan pelajar pada jenjang sekolah menengah atas. Berdasarkan data korporasi, program berkelanjutan ini telah berhasil memberikan pembekalan serta edukasi kesiapsiagaan bencana kepada sekitar 1.000 murid yang tersebar di sepuluh sekolah berbeda. Indung menegaskan komitmen pihaknya untuk terus menggulirkan program edukasi serupa ke depan sebagai wujud dari realisasi tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan atau CSR. Bagi perusahaan, di samping memegang amanah dalam mengelola berbagai destinasi pariwisata strategis, mereka juga memikul misi penting untuk memberikan kontribusi dan kemanfaatan yang konkret bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata.

"Kami memilih level SMA karena mereka sudah bisa menerima edukasi teknis maupun nonteknis terkait kesiapsiagaan bencana. Harapannya mereka tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi ambassador di lingkungan masing-masing untuk mengedukasi keluarga dan masyarakat sekitar," tandas Indung Purwita Jati dalam penjelasannya kepada media.
Menanggapi jalannya kegiatan mitigasi di sekolahnya, Wakil Kepala SMA Negeri 1 Kalasan, Aris Widaryanti mengutarakan fakta historis bahwa sebagian besar warga sekolah merupakan korban yang terdampak langsung oleh peristiwa gempa bumi Yogyakarta pada tahun 2006 lampau. Memori kolektif dan pengalaman masa lalu tersebut diakui menjadi dorongan kuat bagi seluruh ekosistem sekolah untuk bersikap lebih waspada serta selalu siap siaga mengingat posisi geografis sekolah yang berada di area rawan bencana.

 Guna menjaga komitmen tersebut, pihak sekolah secara berkala menggelar simulasi serupa setiap tahun, di mana pelaksanaan kali ini dirasakan jauh lebih semarak dan komprehensif atas kolaborasi erat bersama Kemenko PMK serta InJourney Destination Management.

"Setiap tahun kami rutin menyelenggarakan simulasi. Kali ini lebih meriah bersama Kemenko PMK dan InJourney. Kami ingin lebih siap menghadapi bencana, dengan awarness yang dimiliki seluruh warga sekolah," pungkas Aris Widaryanti di akhir kegiatan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment