Menteri Fadli Zon : Pasar Kangen Jogja Sebagai Ruang Edukasi dan Penggerak Ekonomi Rakyat
WARTAJOGJA.ID – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Pasar Kangen Yogyakarta yang dinilainya bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan juga ruang edukasi budaya bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat mengunjungi acara yang berlangsung di Lodji Paris, Jalan Parangtritis, Yogyakarta, Sabtu malam, 23 Maret 2026.
"Ada buku-buku tua, ada majalah, ada barang-barang jadul, ada macam-macam aneka rupa ya. Mainan-mainan tradisional, mainan-mainan lama," kata Fadli Zon saat menjelaskan beragam koleksi yang ia temui di lokasi.
Menurut Fadli, Pasar Kangen merupakan inisiatif positif yang mampu menggabungkan aspek rekreasi dengan nilai pendidikan.
"Ya ini bagian dari edukasi, rekreasi, dan juga tepat dilakukan di masa liburan Lebaran gitu. Inisiatif yang sangat positif, bagus untuk menggerakkan ekonomi rakyat," tambahnya.
Fadli Zon juga menyoroti potensi besar Pasar Kangen untuk dikembangkan menjadi acara rutin yang dilakukan secara berkala. Ia membandingkan konsep pasar barang antik tersebut dengan budaya di beberapa negara Eropa.
"Kalau di negara-negara di Eropa, ini
dilakukan tiap minggu. Seperti di Prancis. Mereka juga di berbagai tempat pindah-pindah," ujar Fadli.
Ia berharap Pasar Kangen dapat memiliki asosiasi atau kelompok yang terorganisir untuk berpindah lokasi secara rutin sehingga jangkauan manfaatnya kepada masyarakat dan pedagang UMKM bisa lebih luas.
Dukungan Kementerian Kebudayaan
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung kegiatan berbasis budaya dan ekonomi kreatif seperti Pasar Kangen. Fadli menyatakan bahwa kementeriannya siap memberikan bantuan dalam bentuk apa pun yang memungkinkan.
"Ya, tentu, tentu. Apa yang bisa kita support, kita bantu," pungkasnya saat ditanya mengenai bentuk dukungan Kementerian Kebudayaan di masa mendatang.
Pasar Kangen Yogyakarta sendiri dikenal sebagai salah satu festival tahunan di Yogyakarta yang menghadirkan suasana tempo dulu melalui berbagai kuliner tradisional dan barang-barang lawas, yang kali ini berhasil menarik perhatian khusus dari jajaran kementerian pusat.
Sementara inisiator Pasar Kangen Yogyakarta, Ong Hari Wahyu, menegaskan bahwa tradisi Syawalan tahun ini kembali diperkuat melalui ruang nostalgia yang dihadirkan lewat Pasar Kangen yang dipusatkan di Lodji Paris, Jalan Parangtritis, mulai 23 Maret hingga 5 April 2026.
Menurutnya, Pasar Kangen edisi khusus Syawalan ini bukan sekadar ajang jual beli biasa, melainkan sebuah wadah krusial untuk merawat memori kolektif masyarakat Yogyakarta di tengah gempuran modernisasi.
Ong menekankan bahwa momentum setelah Lebaran adalah saat yang paling tepat untuk menyediakan ruang pertemuan atau silaturahmi bagi warga yang ingin melepas rindu melalui kuliner tradisional, kerajinan lawas, serta berbagai hiburan rakyat yang kini semakin jarang ditemui di ruang publik.
Konsep yang diusung dalam perhelatan kali ini menggabungkan nuansa tradisi Lebaran dengan filosofi budaya Jawa yang kental guna memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Ong Hari Wahyu menjelaskan bahwa kehadiran pasar tradisional ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan karena melibatkan puluhan UMKM lokal dan seniman daerah sehingga mereka dapat merasakan langsung berkah ekonomi di masa liburan.
Pengunjung yang hadir dapat menikmati sajian autentik seperti jadah tempe, sate klathak, hingga jamu gendong, sembari menyaksikan pertunjukan seni seperti ketoprak, wayang, dan musik keroncong yang dipentaskan di panggung hiburan setiap malam.
Lebih lanjut, Ong menyampaikan bahwa Pasar Kangen Syawalan di Lodji Paris ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan secara harmonis sebagai identitas kota. Melalui kegiatan pendukung seperti kenduri, doa bersama, dan dekorasi khas Idul Fitri, acara ini bertransformasi menjadi ruang spiritual sekaligus edukasi budaya bagi generasi muda.
Harapannya, Pasar Kangen sebagai ikon budaya Yogyakarta yang mendunia, di mana wisatawan tidak hanya datang untuk melihat objek wisata fisik, tetapi juga dapat merasakan atmosfer budaya yang hidup dan berdenyut di tengah masyarakat yang guyub rukun.
Post a Comment