News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Menepi Sejenak di Bulan Ramadan, Dosen FUPI UIN Jogja Paparkan Refleksi Sejarah Tafsir dari Kisah Ibnu Athiyah

Menepi Sejenak di Bulan Ramadan, Dosen FUPI UIN Jogja Paparkan Refleksi Sejarah Tafsir dari Kisah Ibnu Athiyah

WARTAJOGJA.ID : Di tengah budaya serba cepat yang menuntut produktivitas tanpa henti, Ramadan justru mengajarkan hal sebaliknya, berhenti sejenak, menata ulang ritme, dan memikirkan kembali makna dari apa yang kita kerjakan. Pesan reflektif itu disampaikan Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga, Muammar Zayn Qadafy, M.Hum., Ph.D., dalam Minutes of Barakah bertajuk “Tafsir Historis: Memahami Wahyu dalam Lintas Sejarah”, Minggu (15/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Ramadan bil Jami’ah yang digelar selama bulan suci oleh Masjid UIN Sunan Kalijaga,
Dalam paparannya, Muammar mengajak jamaah melihat kembali sejarah panjang intelektualisme tafsir dalam tradisi Islam. Menurutnya, perjalanan tafsir tidak hanya berisi penjelasan ayat, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang kesungguhan, ketekunan, dan makna karya yang benar-benar memberi manfaat bagi manusia.
Ia mencontohkan kisah seorang ulama besar dari Andalusia, Ibnu Athiyah al-Andalusiy, yang dikenal melalui karya tafsirnya yang berjudul Al-Muharrar al-Wajiz. Menariknya, karya tersebut merupakan satu-satunya kitab tafsir yang ditulis Ibnu Athiyah, dan disusun ketika ia masih berusia relatif muda.
“Setelah beliau wafat, kitab ini justru dibaca di mana-mana. Bahkan ulama besar lain, Abu Hayyan al-Andalusiy yang lahir di Granada lalu menetap di Kairo, menjadikan tafsir Ibnu Athiyah sebagai rujukan utama dalam karyanya,” ujarnya.
Menurut Muammar, kisah ini memberi pelajaran penting bahwa kebesaran seseorang tidak selalu diukur dari banyaknya karya atau panjangnya daftar pencapaian. Dalam sejarah Islam, ada tokoh-tokoh yang hanya menekuni satu bidang atau menghasilkan satu karya, tetapi karya itu bertahan lama dan memberi manfaat luas.
Ia kemudian mengutip perumpamaan dalam Al-Qur’an tentang sesuatu yang bermanfaat akan tetap tinggal di bumi, sedangkan buih akan hilang. Perumpamaan tersebut, menurutnya, sangat relevan dengan kehidupan modern yang sering dipenuhi kesibukan tanpa makna.
“Kita hidup di era yang penuh ketergesaan. Banyak orang merasa harus melakukan banyak hal sekaligus, menyenangkan atasan, memenuhi target, atau mengejar berbagai pencapaian. Tetapi kita jarang berhenti untuk bertanya, apakah semua itu benar-benar bermakna,” katanya.
Ia menilai, budaya produktivitas yang berlebihan sering membuat seseorang tidak sempat menekuni satu bidang secara mendalam. Akibatnya, banyak aktivitas dilakukan, tetapi sedikit yang benar-benar memberi dampak.
Dalam konteks itulah, Ramadan dipandang sebagai momentum spiritual untuk memperlambat langkah. Ritme hidup yang berubah selama berpuasa, menurutnya, bukan sesuatu yang harus disesali, tetapi justru kesempatan untuk melakukan refleksi.
Untuk itu, ia mengajak kita semua menjadikan Ramadan sebagai waktu untuk menginjak rem. Dengan berhenti sejenak, seseorang memiliki kesempatan untuk menilai kembali arah hidup, pekerjaan, dan tujuan yang ingin dicapai.
Menutup kajian, ia berharap bulan Ramadan dapat menjadi momentum bagi setiap orang untuk menata ulang prioritas hidup, agar tidak sekadar sibuk, tetapi juga bermakna.
Melalui kegiatan ini, UIN Sunan Kalijaga berkomitmen menghadirkan ruang dialog antara teks, tradisi, dan realitas kehidupan modern, sebagai wujud pemaduan keislaman dan keilmuan yang menjadi ciri khas kampus. Diharapkan, kajian-kajian seperti ini tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan, tetapi juga menumbuhkan refleksi dan kedewasaan intelektual bagi civitas akademika maupun masyarakat luas.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment