Satu Dekade Jogja Fashion Parade: Rayakan Inklusivitas Wastra di Panggung "Vastra Prabha"
WARTAJOGJA.ID – Kota Yogyakarta kembali mempertegas taringnya sebagai pusat mode dan kreativitas melalui gelaran Jogja Fashion Parade (JFP) 2026. Memasuki usia satu dekade, perhelatan yang berlangsung pada 6–8 Februari 2026 di Sleman City Hall ini mengusung tema "Vastra Prabha", sebuah representasi pancaran kemewahan wastra Nusantara yang dipadukan dengan gaya kontemporer untuk menggeliatkan industri kreatif dan produk lokal.
Tahun ini, JFP tampil lebih megah dengan skala nasional yang hampir menjangkau seluruh pelosok Indonesia. Sebanyak 159 desainer dari berbagai daerah, mulai dari Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Barat, turut serta memamerkan karya terbaik mereka.
Kehadiran delegasi model dari Malaysia pun semakin menambah bobot internasional pada event yang menjadi magnet wisata MICE di Yogyakarta ini.
Creative Director JFP 2026, Nyudi Dwijo Susilo, mengungkapkan bahwa keunikan utama edisi ke-10 ini terletak pada semangat inklusivitas yang diusung. Untuk pertama kalinya, panggung runway JFP memberikan ruang luas bagi plus-size model dengan berat badan di atas 100 kilogram serta mature model atau model usia senior.
Menurutnya, langkah ini diambil untuk membuktikan bahwa mode adalah milik semua kalangan tanpa terbatas bentuk tubuh maupun usia.
"Kami ingin membuat JFP ini bagi semua kalangan, semua bentuk tubuh, semua usia. Jadi semuanya bisa untuk tampil, tapi tetap dengan kemasan profesional. Bahwa tidak semua panggung mau menerima hal seperti itu, namun di sini semua bentuk keindahan dirayakan," ujar Nyudi saat ditemui di sela acara.
Selain parade busana yang melibatkan sekitar 600 model kids, teen, hingga profesional, JFP 2026 juga menjadi ajang unjuk gigi bagi produk UMKM melalui kehadiran booth pameran. Nyudi, yang juga menampilkan koleksi brand miliknya, Elgan, mempresentasikan 35 look yang didominasi oleh jaket batik warna alam dengan kombinasi denim dan linen. Ia menegaskan bahwa pemilihan waktu penyelenggaraan di awal tahun, tepat sebelum momen Ramadan, adalah strategi jitu untuk mencuri start promosi bagi para pelaku usaha.
Optimisme terhadap industri kreatif tetap tinggi meskipun ekonomi global tengah menghadapi tantangan. Nyudi meyakini bahwa sektor UMKM kerajinan dan mode tetap menjadi tulang punggung yang paling tangguh bertahan. Melalui panggung fisik seperti JFP, pengalaman visual dan sentuhan langsung terhadap material wastra tidak dapat digantikan oleh platform digital manapun.
"Di setiap kegelapan pasti ada cahaya terang. Meskipun orang bilang daya beli menurun, di segmen tertentu industri ini masih jalan. Harapan saya produksi tetap berputar, karena ternyata yang paling bertahan di situasi seperti ini adalah UMKM," pungkas Nyudi.
Dengan integrasi antara pameran produk, pagelaran seni mode, dan penyerapan tenaga kerja kreatif, Jogja Fashion Parade 2026 sukses menjadi motor penggerak ekonomi yang memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota wisata berbasis industri kreatif yang inklusif dan mendunia.
Post a Comment