Haedar Nashir Ingatkan Reformasi Polri Harus Komprehensif dan Hindari Potensi Masalah
WARTAJOGJA.ID – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya umat Islam sedunia memiliki satu kalender tunggal untuk menyatukan penetapan hari-hari besar Islam di masa depan.
Hal ini disampaikan menyusul kerap adanya perbedaan penetapan awal puasa Ramadan yang masih terjadi baik di tingkat nasional maupun global.
Menurut Haedar, keberadaan kalender tunggal global merupakan solusi agar umat Muslim bisa bersatu secara keseluruhan layaknya sistem kalender masehi yang telah mapan digunakan di seluruh dunia.
Haedar menyatakan bahwa selama umat Islam belum menyepakati satu kalender tunggal, perbedaan penetapan awal Ramadan dan hari besar lainnya akan terus berulang.
Namun, ia menekankan bahwa perbedaan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari wilayah ijtihad karena adanya perbedaan metode yang digunakan oleh berbagai pihak.
"Terimakasih kepada semua pihak yang tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh kedewasaan meskipun berada dalam situasi perbedaan hari," kata Haedar di sela mengisi acara di Student Dormitory UMY, Jumat (20/2).
“Mau siapapun, mau proses apapun, agar kita bisa satu secara keseluruhan seperti kalender masehi,” ujar Haedar.
Ia menilai bahwa perbedaan yang ada saat ini tidak menjadi masalah selama disikapi dengan kecerdasan dan sikap tasamuh atau toleransi.
Haedar meminta agar di tengah ruang ijtihad ini, umat tidak perlu saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri, melainkan harus tetap fokus pada tujuan substantif ibadah puasa yaitu meraih derajat ketakwaan.
Sebelumnya, dalam konteks sosial, Haedar berharap Ramadan 1447 H menjadi momen bagi umat Islam untuk menjadi "kanopi sosial" yang merekatkan hubungan antar sesama.
Puasa diharapkan tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu yang dapat merusak kerukunan, terutama di tengah gempuran informasi dan postingan media sosial yang sering memicu amarah serta kebencian. Dengan bekal keimanan, umat Islam diharapkan tetap tenang dan damai dalam menjalankan ibadah tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk perbedaan awal Ramadan.
Lebih lanjut, Haedar menekankan bahwa ketakwaan yang diraih dari puasa harus berdampak pada perbaikan akhlak pribadi maupun publik.
Ia mendorong umat Islam untuk tidak menjadi fatalis atau menyerah pada nasib, melainkan harus berjuang keras meningkatkan kualitas hidup terutama di bidang ekonomi. Puasa dianggap sebagai latihan untuk hidup efisien dan prihatin yang menjadi pangkal kemajuan peradaban. “Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan,” pungkasnya.
Post a Comment