DPRD Kota Yogyakarta Tegaskan Penanganan Stunting Perlu Maraton dan Kerja Sama Lintas Sektor
WARTAJOGJA.ID – Penanganan stunting di wilayah Kota Yogyakarta ditegaskan tidak dapat diselesaikan melalui cara instan atau sekadar kerja cepat dalam waktu singkat, melainkan memerlukan konsistensi serta kolaborasi jangka panjang dari seluruh elemen masyarakat layaknya sebuah lari maraton.
Hal tersebut ditekankan oleh Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Susanto Dwi Antoro, saat hadir menjadi narasumber dalam acara Sosialisasi Penanganan Stunting yang digelar di Kelurahan Warungboto, Kemantren Umbulharjo, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Acara strategis ini diselenggarakan atas kerja sama erat antara Komisi A DPRD Kota Yogyakarta dengan Komisi A DPRD DIY guna memperkuat sinergi penanganan gizi buruk di tingkat wilayah.
Dalam paparannya di hadapan warga Warungboto, Susanto menjelaskan bahwa analogi maraton dipilih karena persoalan stunting berkaitan erat dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa di masa depan, yang mana dampaknya akan sangat masif bagi generasi mendatang jika tidak ditangani secara berkelanjutan dari hulu hingga ke hilir.
"Stunting tidak hanya bisa ditangani dengan sprint atau lari cepat jarak pendek, tapi perlu maraton, kita butuh napas panjang dan kerja sama semua pihak karena ini menyangkut masa depan generasi kita," ujar Susanto Dwi Antoro yang juga merupakan politikus PDI Perjuangan tersebut.
Ia juga mengingatkan agar semua pihak tidak lantas lengah meskipun angka stunting di Kota Yogyakarta saat ini secara statistik sudah berada di bawah rata-rata nasional.
Keberadaan kasus yang masih ditemukan menunjukkan bahwa edukasi serta intervensi gizi harus terus digalakkan karena persoalan tumbuh kembang anak bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi seperti Dinas Kesehatan saja, melainkan seluruh elemen masyarakat.
Pihaknya di Komisi A DPRD Kota Yogyakarta menyatakan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal program kewilayahan agar turut memberikan dukungan terhadap penanganan kasus tersebut, mengingat stunting harus ditangani dari semua lini termasuk urusan sosial, kemasyarakatan, dan kewilayahan.
"Stunting ini kan bagai api kecil yang akan membakar masa depan, Pak Walikota memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan anak-anak agar menjadi SDM unggul, sehingga kita semua ikut bertanggung jawab untuk penanganan stunting, tanpa terkecuali," tandas Susanto.
Lebih lanjut, Susanto menilai bahwa Kota Yogyakarta sebenarnya sudah memiliki modal yang sangat kuat, mulai dari unsur kebijakan yang terintegrasi, dukungan akademisi, hingga partisipasi aktif masyarakat, meskipun tantangan struktural masih sering menghinggapi.
Ia mengibaratkan kondisi kota ini seperti sebuah mesin yang sudah sangat baik, namun tinggal memastikan bahan bakarnya cukup dan jalannya lurus agar tujuan tercapai. "Jadi keberhasilan percepatan stunting bukan dari satu program yang heroik tetapi orkestrasi kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan, ini yang saya maksud maraton," urainya menjelaskan strategi besar dewan.
Dukungan nyata bagi Kota Yogyakarta juga muncul dalam sosialisasi tersebut melalui pernyataan Ketua Komisi A DPRD DIY yang turut hadir menyampaikan penguatan dari sisi fiskal. Untuk tahun anggaran 2026 ini, pagu Dana Keistimewaan (Danais) yang dialokasikan khusus untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di tiap kelurahan mengalami kenaikan signifikan, di mana jika sebelumnya dianggarkan sebesar Rp100 juta, kini angkanya naik menjadi Rp120 juta per kelurahan.
Kenaikan anggaran ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pemenuhan gizi bagi balita serta ibu hamil langsung di tingkat akar rumput, sehingga target "Zero Stunting" di wilayah Yogyakarta dapat segera terealisasi sepenuhnya.
Post a Comment