News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Calon DPR RI Dapil DIY H. Setiya : Pemilu Ya Pilih Tahu !

Calon DPR RI Dapil DIY H. Setiya : Pemilu Ya Pilih Tahu !

WARTAJOGJA.ID: Kader Partai Golkar, H. Setiya, yang juga Calon DPR RI Dapil DIY nomor urut 5 menyatakan demokrasi, dimana kedaulatan adalah milik rakyat yang diwujudkan dalam pemilihan umum untuk memilih pemimpin yang ada di eksekutif dan legislatif, sejauh ini diyakini sebagai sistem terbaik untuk negeri ini.
 
"Melalui pemilu bisa dipilih pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat. Siapa saja, warga bangsa ini memiliki peluang yang sama untuk dipilih dan memilih," kata , H. Setiya Sabtu 16 Desember 2023.
 
Namun, pada prakteknya, ujar , H. Setiya, pelaksanaan pemilu hanya bersifat prosedural. Kedaulatan di tangan rakyat pada akhirnya dikalahkan oleh kuasa lain, terutama uang. 

"Praktek "money politic" telah membuat biaya politik menjadi super mahal. Artinya kesempatan mendapatkan pemimpin terbaik terhalang oleh biaya tinggi. Hanya mereka yang memiliki "isi tas" yang punya kesempatan memenangkan kompetisi. Sedangkan soal kapasitas, itu urusan kesekian," imbuhnya.
 
Kondisi ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Karena bangsa ini akan kehilangan kesempatan mendapatkan pemimpin yang berkapasitas, digantikan dengan para pemilik ‘isi tas”. 

"Menjadi tugas kita semua untuk mengembalikan substansi pemilu, memilih pemimpin terbaik, yang akan membawa kemajuan dan kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia," kata dia.

Pemimpin yang diperoleh dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Bukan dari konglomerat oleh rakyat untuk konglomerat. Dimana rakyat hanya akan menjadi objek belaka. 
 
"Sebagai warga negara yang berkesempatan ikut serta menjadi calon DPR RI dapil DIY, saya mencoba menawarkan narasi "tahu" dalam pemilu 2024," kata H. Setiya.

Narasi sederhana ini diharapkan mampu menjadi air penyejuk di tengah kekeringan. Sebagai upaya menciptakan harapan baru, akan demokrasi yang lebih menjanjikan. 
 
"Mengapa Tahu? Setidaknya ada dua alas an, mengapa saya memilih tahu sebagai narasi kampanye dalam mengikuti pemilu 2024," tutur H. Setiya.

Pertama, Tahu adalah makanan rakyat, diproduksi oleh rakyat dalam UMKM dan dinikmati oleh sebagian besar rakyat. Tahu mirip seperti makna demokrasi. Sehingga bisa menggambarkan esensi demokrasi. Dari, oleh dan untuk rakyat. 
 
"Tahu adalah makanan yang tidak saja sehat dikonsumsi, namun juga sehat untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Ribuan masyarakat mendapatkan berkah ekonomi dari tahu, sejak dari hulu hingga hilir. Dari produksi tahu, hingga perdagangan dan beragam varian kuliner berbahan tahu. Tahu yang baik justru dibuat dari bahan baku kedelai lokal, bukan kedelai impor. Ini juga menunjukkan nilai kedaulatan pangan," kata H. Setiya.
 
Kedua, Tahu juga memiliki makna mengetahui, mengerti, memahami.  Suatu nilai yang semestinya dimiliki semua pihak dalam berdemokrasi. Tidak saja dimiliki oleh rakyat namun juga para politisi, khususnya calon wakil rakyat. Nilai yang terus menerus perlu di upgrade dari waktu ke waktu.

"Tahu apa makna dari pemilu,
Tidak sedikit masyarakat yang masih belum cukup tahu arti penting dari pemilu. Wajar bila kemudian terjadi salah paham, karena memang belum cukup paham. Pemilu adalah manifestasi dari kedaulatan rakyat selama lima tahun, masih dipahami sebagai transaksi jangka pendek. Pemilu juga bisa digunakan untuk memberikan hukuman politisi yang tidak amanah, dengan tidak memilih lagi. Namun kenyataannya memori masyarakat sangat pendek, sehingga hukuman berubah menjadi dukungan kembali, hanya karena pemberian beberapa rupiah," beber H. Setiya.
 
Tahu siapa yang akan dipilih
Menjelang masa pemilihan nyatanya masih banyak, masyarakat pemilih yang belum tahu siapa saja calon yang tersedia untuk dipilih. Tahu saja belum, bagaimana bisa menilai dan membandingkan diantara calon tersebut mana yang paling bisa mewakili kepentingan rakyat. Apalagi dengan pemilu serentak, ada lima calon yang harus dipilih, tidak sedikit masyarakat yang merasa kebingungan. Akhirnya memilih yang uangnya datang.
 
H. Setiya menambahkan memilih yang mau tahu. Hal yang lazim disampaikan rakyat dalam pemilu adalah setiap calon yang terpilih seketika melupakan mereka. Padahal mereka dipilih untuk menjadi wakil atau kepanjangan tangan rakyat. Betapa terlukai hati rakyat, bila para wakil rakyat tiba-tiba “hilang ingatan” akan siapa yang telah memberikan dukungan suara, hingga bisa duduk di kursi Lembaga perwakilan rakyat. 
 
Calon yang lahir dari rakyat, yang mau tahu atas kebutuhan rakyat, akan mampu menjalankan peran sebagai wakil rakyat. Mewakili kepentingan rakyat di lembaga perwakilan rakyat. Sebaliknya mereka yang tidak tahu dan tidak mau tahu derita rakyat tentu tidak bisa diharapkan mewakili rakyat secara substansial. Karena mereka yang mau tahu, tidak akan mudah melupakan.
 
Sementara mereka yang mengedepankan kepentingan pribadi, sekedar untuk terpilih dan mendapat jabatan, pasti akan menghalalkan semua cara demi meraih obsesinya. Termasuk membeli putus suara rakyat. Yang seperti ini, bila terpilih bisa dipastikan agenda utamanya adalah mengembalikan modal dan menumpuk keuntungan pribadi untuk persiapan pemilu berikutnya. Esensi perwakilan rakyat akan tereduksi dengan agenda pribadi.
 
 
Memilih yang berpengetahuan
Menjalankan tugas sebagai wakil rakyat tentu dibutuhkan pengetahuan yang memadai. Lembaga perwakilan rakyat, bila diisi oleh mereka yang kurang memiliki pengetahuan dan kapasitas tentu tidak akan bisa menjalankan peran dengan baik. Pada akhirnya rakyat yang akan dirugikan. Karena tidak ada perlindungan dan pembelaan secara sistemik kepada kepentingan rakyat.
.
Hari ini, rakyat dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah. Hari-hari dimana mereka membutuhkan biaya hidup yang semakin besar. Sementara lima tahun sekali para calon legislator menebar uang. Masa tidak diterima? Apalagi seringkali dibungkus dengan narasi sedekah, uang transport dan seterusnya.
 
"Tentu tidak bijak untuk mengajak rakyat menolak pemberian tersebut. Silakan saja diterima, bila memang membutuhkannya," kata H. Setiya.

Namun soal pilihan, kembalilah kepada hati Nurani, jangan sampai tergadai. Karena kebebasan dan kerahasiaan pilihan dilindungi undang-undang. 

"Pilihlah dengan tahu. Meraka yang memang sudah kita tahu, pilihlah yang tahu diri, mau tahu akan derita rakyat dan berpengetahuan akan tugas poko fungsi sebagai wakil rakyat. Bila rakyat sebagai pemilik Daulat mengembalikan pilihan berdasarkan tahu, kita bisa kembali berharap pemilu akan menghasilkan wakil-wakil rakyat yang progresif dan membela kepentingan rakyat. Bukan yang membuat hati sakit, karena begitu terpilih seketika lupa dan melupakan rakyatnya," kata H. Setiya 
 
"Pemilu, ya pilih tahu. Karena yang mau tahu, tak akan melupakanmu! 
Salam tahu! " pungkas H. Setiya. (Rls)
.
 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment