News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Sido Muncul Dorong Pemanfaatan Obat Herbal dalam Dunia Medis

Sido Muncul Dorong Pemanfaatan Obat Herbal dalam Dunia Medis


Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat (kemeja putih) memberikan plakat kepada Wakil Rektor Perencanaan dan Kerjasama Universitas Sriwijaya (Unsri) Profesor Dr. M Said dalam acara seminar Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat di Palembang, Kamis (31/8/2023).

WARTAJOGJA.ID :  PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk atau Sido Muncul menggelar seminar Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis (31/8/2023).

Kegiatan ini diikuti kurang lebih 300 mahasiswa dan digelar di gedung Azwar Agoes Fakultas Unsri, Palembang.

"Hari ini yang ke-49 kali saya mengadakan seminar di fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia," kata Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat di sela-sela seminar.

Dengan seminar ini, Sido Muncul mengajak semua elemen masyarakat untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri, terutama para dokter.

"Sampai hari ini menjadi kendala bahwa ini sering sekali kita dengar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Tapi saya mendengar itu dari tahun 1990 menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi sampai hari ini obat-obat jamu tidak menjadi tuan rumah di negerinya sendiri," ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat tuan rumah itu tidak terlaksana. Pertama, karena di industri jamu, obat-obat alami ini itu tidak ada pengobatanya.

Para dokter tidak paham mengenai jamu dan tidak mempelajari tentang kekhasiatan, kegunaan dan penggunaan bahan-bahan obat alami untuk pengobatan.

Kedua, tentang bahan-bahan alam yang digunakan. Lalu ketiga, yang dibutuhkan adalah bahan yang sudah terstandardisasi.

"Kalau dokternya paham soal bahan alam, kemudian Sido Muncul sudah mengeluarkan obat-obat, misalnya kunyit, jahe, daun dewa, dan bahan-bahan lain yang standardisasi dan yang ketiga ada uji toksisitas, jadi minimalnya pengujian toksisitas untuk menentukan dosis yang tepat bagi pasien. Saya rasa impian jamu obat herbal menjadi jamu tuan rumah di negeri sendiri akan terwujud," ujarnya.

"Kalau ada tiga hal itu yakni dokternya harus belajar tentang obat-obat alam, kedua standardisasi dan ketiga uji toksisitas," tegas Irwan.

Untuk mendorong pemahaman tentang obat herbal, Sido Muncul pun mengadakan seminar di setiap fakultas kedokteran untuk menyosialisasikan fungsi jamu dan tanaman herbal.

Wakil Rektor Perencanaan dan Kerja Sama Unsri Profesor Dr. M Said mengatakan bahwa penggunaan obat herbal dalam dunia medis adalah sebagai salah bentuk menuju Indonesia sehat. Sebab obat medis yang selama ini digunakan oleh dokter hanya berasal dari bahan kimia, yang dalam waktu panjang bisa menimbulkan efek buruk terhadap manusia.

"Sebenarnya herbal ini yang paling diminati masyarakat dibandingkan obat kimia lainnya. Agak mengerikan memang kalau berbicara tentang kimia,"katanya saat membuka acara seminar Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat.

Said mengaku bahwa Unsri pada tahun 2006 telah menyusun road map penelitian terkait tanaman herbal yang ada di Sumsel. Dari hasil penelitian di 10 Kabupaten/Kota, terdapat 150 jenis tanaman herbal yang sering digunakan masyarakat.

Namun, kata dia, tanaman herbal itu tidak dibudidayakan secara massal karena kurangnya pemahaman masyarakat terkait khasiat dari tanaman itu.

"Di Muara Enim, Ogan Ilir, OKI, kami (Unsri) melihat tanaman obat masih ditanam di pekarangan rumah. Ada juga di sela-sela kebun. Artinya masyarakat belum fokus menyiapkan lahan sendiri untuk tanaman obat. Pemakainya rata-rata adalah dukun kampung," ungkapnya.

Dengan hasil penelitian tersebut, kata Said, Unsri akan bekerja sama dengan Sido Muncul untuk mendorong budidaya tanaman obat herbal di masyarakat sehingga tanaman itu dapat dibudidayakan.

"Kampus Indralaya (Unsri) luasnya 740 hektare, ada lima embung. Lahannya masih tersedia bisa digunakan untuk tanaman obat. Nanti akan dituangkan MoU dari hulu sampai hilirnya agar dapat dibudidayakan lebih lanjut," jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen, Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Reni Indriani mengatakan di Indonesia terdapat 3.000 spesies tumbuhan obat tradisional.

Obat tradisional selama ini hanya dikenal masyarakat sebagai jamu. Namun, seiring perkembangan teknologi, penggunaan jamu itu sebenarnya dapat dikemas menjadi lebih baik, karena sari tanaman diekstrak dalam bentuk saset sehingga bisa dinikmati semua kalangan.

"Jamu adalah identitas lokal Indonesia yang secara turun temurun punya manfaat. Setiap tahun, teknologi terus berkembang, sehingga penyajian jamu ini tidak lagi sulit," katanya saat menyampaikan melalui daring. (Cak/Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment