News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Penyuluh Agama Antusias Ikuti Pembekalan BKKBN untuk Penguatan Peran dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting

Penyuluh Agama Antusias Ikuti Pembekalan BKKBN untuk Penguatan Peran dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting


Penyuluh Agama Antusias Ikuti Pembekalan BKKBN untuk Penguatan Peran dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting

WARTAJOGJA.ID --- Para penyuluh dari semua agama yang ada di Yogyakarta antusias mengikuti pembekalan penguatan peran dalam upaya percepatan penurunan stunting yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Sahid Jaya Hotel & Convention Yogyakarta, Kamis (30/11)

Dihadapan Kepala BKKBN Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dan lebih dari 300 penyuluh agama Ustadz Wijayanto menyampaikan bahwa problem umum bangsa Indonesia adalah rendahnya literasi, sistem sosial paternalistik, dan budaya lisan. 

Di dalam masyarakat, sistem panutan menjadi syarat perubahan, maka peran pemuka masyarakat sangatlah menentukan dalam mengajak kepada perubahan ke arah yang lebih baik. Maka itu, peran penyuluh agama sangatlah penting, lanjut  Ustadz Wijayanto.

Terlebih lagi masyarakat kita memiliki tiga kelemahan, yaitu malas berfikir, tidak fokus, dan gampang terpengaruh, demikian dikatakan Ustadz Wijayanto.

Katanya, “Maka generasi berikutnya akan sangat tergantung kepada pendahulu atau tokoh panutannya untuk bisa berubah.” 

Tokoh pendahulu atau panutan itu bisa orang tua atau para pemuka masyarakat, di dalamnya termasuk dan terutama para Penyuluh Agama.

Mengutip Ayat Al Quran, Ustadz mengingatkan bahwa kita janganlah menghasilkan generasi penerus yang lemah 

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (QS. An-Nisa' Ayat 9).”

Jadi merupakan dosa besar kalau kita mengabaikan upaya pencegahan stunting, karena stunting akan menghasilkan generasi penerus yang lemah dan kurang produktif.

Terkait upaya menciptakan generasi penerus yang kuat, Ustadz juga mengingatkan pentingnya menyusui anak agar anak sehat dan bebas stunting. 

Hal ini diamanatkan dalam Al Quran, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (Al Baqarah Ayat 233).”

Menurut Ustadz Wijayanto, kurang dari 50% ibu yang menyusui anaknya sampai tuntas. Dari yang tidak menyusui, hanya 10% saja yang benar-benar tidak mampu mengeluarkan air susu, sedangkan sisanya sebetulnya mampu menyusui tapi tidak menyusui dengan tuntas karena berbagai alasan.

Kepala BKKBN Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) yang hadir memberikan sambutan dalam acara yang bertajuk Sosialisasi Dan Pembekalan Bagi Para Penyuluh Agama dalam Percepatan Penurunan Stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta ini mengingatkan bahwa di Indonesia setiap tahun terdapat 4,8 juta kehamilan dan 1,2 juta diantaranya lahir dan tumbuh dalam keadaan stunting. 

“Jadi di negara kita banyak yang hamil, banyak melahirkan, dan banyak stunting. Akibatnya Human Capital Index negara kita berada pada urutan 130 dari seluruh negara di dunia. Ini perlu dikoreksi” Hasto mengingatkan. 

Selain masalah stunting, Hasto juga menitipkan kepada para Penyuluh Agama untuk turut mengedukasi masyakat meningkatkan kualitas SDM. Hasto menunjukkan bahwa tingkat kasus mental emosional disorder yang mencapai 9,8%, Napza 5,1% dan Orang Dengan Gangguan Jiwa sebesar 7/1.000 penduduk.

Kepala BKKBN menitipkan konten dan materi terkait stunting kepada 1.008 Penyuluh Agama dari semua agama yang ada di DIY. Mereka terdiri dari 183 Penyuluh Agama PNS dan 825 Penyuluh Agama non PNS. Untuk maksud tersebut BKKBN telah menyusun materi-materi penyuluhan dalam bentuk audio visual yang bisa disimak dan diunduh para penyuluh agama di channel Youtube BKKBN Official.

Sementara itu,  Kepala Perwakilan BKKBN DIY Shodiqin SH MM dalam laporan penyelenggaraan menyampaikan bahwa fokus utama upaya penurunan angka stunting  yang dilakukan BKKBN adalah pada pencegahan stunting dengan sasaran program remaja, calon pengantin, dan pasangan usia subur. Mereka perlu dikondisikan agar dapat mempersiapkan perkawinan, merencanakan dan merawat kehamilan, serta mengasuh anak agar bebas dari stunting. Dalam hal penyiapan perkawinan sebagai awal proses menuju kehamilan, BKKBN mengintensifkan semua jalur-jalur KIE yang bisa dipergunakan. 

“Berkaitan hal tersebut, maka peran para Penyuluh Agama sangatlah menentukan dalam menyebar-luaskan pentingnya pencegahan stunting kepada kelompok sasaran.” Jelas Shodiqin.

Oleh karena itu, kepada para Penyuluh Agama dan tokoh-tokoh agama perlu dibekali dengan materi audio visual sebagai bahan dalam memberikan penyuluhan. Pun diberikan pengenalan Aplikasi Elsimil. Elsimil merupakan singkatan dari Aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil. 

Aplikasi ini berguna untuk mendeteksi lebih awal terhadap potensi bayi yang akan dilahirkan dengan melihat kodisi calon pasangan pengantin. Pemantauan kesiapan hamil dengan data-data kesehatan dasar yaitu usia (ideal 21-35 tahun), serta indeks masa tubuh (berat/tinggi badan) yang idealnya 18,5 – 25,0.

Data dasar lain yang harus diinput adalah lingkar lengan atas (ideal di atas 23.5cm)serta kadar Hb yang idealnya berkisar 12  -16 gram/desi liter. Juga dimasukkan data apakah  pasangan tersebut salah satu atau keduanya merokok atau tidak.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY yang diwakili Sigit Waskita, Kabid Penerangan Agama Islam menyatakan Kantor Wilayah sampai Kantor Urusan Agama (KUA) mendukung penuh upaya penurunan stunting dengan memastikan bahwa calon pengantin (catin) yang akan mendaftarkan perkawinan harus sudah mengunduh dan mengisi aplikasi Elsimil.

“Bulan September catin yang menggunakan Elsimil hanya sekitar 5.000 pasang saja. Namun setelah kita turun melakukan monev dan mengumpulkan seluruh Kepala KUA, sampai akhir November ini sudah lebih dari 13.000 catin yang mendownload Elsimil,” pungkasnya. (Cak/Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment