News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ceroboh Berdigital Mesti Diantisipasi Bijak, karena Sesal Kemudian Pasti Tak Berguna

Ceroboh Berdigital Mesti Diantisipasi Bijak, karena Sesal Kemudian Pasti Tak Berguna



Pati: Tidak selamanya berinteraksi di jagat digital itu aman. Memang bagi yang jago menghindari, peluang dan cuan bisa dijemput dan mengalir deras. Tapi rupanya tak sedikit yang terpeleset jadi korban beragam kejahatan di ruang digital, termasuk kejahatan kekerasan sexual online. Meski kadang tak berisiko fisik, tapi secara psikologis mencekam, meneror jiwa korbanya. Tak sedikit yang jadi korban pemerasan yang berakibat puluhan juta melayang ke rekening pemeras setelah mengancam sebarkan video atau foto bernuansa pornografi.

Rusman Nurjaman, peneliti dari LAN Jakarta mengatakan, Kekerasan Seks Berbasis  Gender Online (KBGO), yang didominasi korban remaja wanita hingga ibu rumah tangga semakin meluas. Belum lama kita dikejutkan seorang pria mengaku polisi dan berhasil mengancam ibu rumah tangga dengan bermodal foto bugil si ibu, setelah sebelumnya si pria jadi teman baru di FB. Bahkan, di kota lain sampai ada 14 remaja berhasil diperdaya seorang pria lewat medsos untuk mengirim setoran foto telanjang dan bakal jadi sasaran ancaman bullying. 

”Dua berita itu nyata dan akan terus terjadi kalau kita tak bisa mengontrol dan cerdas berinteraksi di ruang digital. Orangtua dan guru juga penting berperan aktif untuk mencegahnya. Karena, semua itu kadang terjadi di ruang keluarga tanpa kendali orangtua atau guru saat siswa di sekolah,” papar Rusman Nurjaman, saat menjadi pembicara webinar literasi digital, Indonesia Makin Cakap Digital, yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk warga Kabupaten Pati, Jumat (19/11/2021).

Webinar yang diikuti ratusan peserta lintas generasi dan profesi ini membahas topik ”Menciptakan Ruang Digital yang Aman dari Kekerasan Seksual Online”. Dibuka dengan keynote speech dari Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, diskusi virtual yang dipandu moderator Ayu Perwari ini juga menghadirkan tiga pembicara lain. Yakni, Aina Masrurin, media planer dari situs ceritasantri.id; Dr. Nyoman Dyan Utari Dewi, dosen Universitas I Gusti Ngurah Rai, Bali; dan Sofyan Wijaya, founder CV At Soft Technology. Ikut pula bergabung Gina Sinaga, public speaker yang tampil sebagai key opinion leader.

Karena kebanyakan kasus ini bermula dari teman baru di beragam akun medsos, Aina Masrurin berpesan, bijaklah kita memilah dan memilih teman baru. Seperti memilih pacar atau calon suami, kita diajari menggunakan prinsip bibit bobot bebet. Pahami dan verifikasi betul latar belakang dan perilaku digitalnya. Cek histori digitalnya, bagaimana keseharian dia berdigital. Kedua, karena sering penjahat digital tampil dengan akun palsu, bukan asli data pribadi, maka ajak halus dia memperkenalkan jatidiri. 

”Jangan terkecoh foto profil yang mudah diedit. Banyak kasus remaja putri dirayu, mengira pelaku berwajah ganteng atau perwira polisi yang berpangkat dengan mengakali pasang foto orang lain. Cek dulu, telusuri histori jejak digitalnya lebih jauh. Jangan mudah menerima pertemanan dengan teman baru yang pakai akun dan foto palsu, waspadalah,” saran Aina.

Saran senada disampaikan Nyoman Dian Utari Dewi. Kalau sampai diajak kencan teman baru, bahkan pacar sekalipun, jangan mau diajak foto mesra atau bahkan nggak pakai pakaian. Itu sangat berbahaya kalau sampai digunakan untuk kejahatan sex bullying. Kadang bukan orang baru kenal, bisa juga oleh pacar yang putus dan mengancam ngajak balik, ditolak, lalu berbuat jahat dengan sarana medsos. 

”Jadi, jejak digital itu memang jahat. Jangan sembarang meninggalkan foto atau koment negatif yang kadang tak diduga jadi senjata mengancam kita. Ceroboh berdigital mesti diantisipasi secara bijak, karena sesal kemudian pasti tak akan berguna,” pungkas Nyoman Dian, mewanti-wanti. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment