News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pesan Teladan Sayidina Ali untuk Pembelajaran Era Digital

Pesan Teladan Sayidina Ali untuk Pembelajaran Era Digital




Grobogan: Pesan bijak pernah disampaikan salah satu sahabat Rasululah Muhammad SAW, Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau berpesan, ”Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka memang tidak hidup pada zamanmu”. Pesan itu kini nampaknya menemukan realitasnya karena hadirnya pandemi Covid-19, kita yang mesti mau menerima kenyataan kalau sistem pendidikan online yang terpaksa dijalani anak-anak mesti berbeda dengan zaman kita yang masih konvensional.

Dan, dengan beragam bentuk adaptasinya, orangtua yang mesti mengalah dengan realitas kalau anak kita belajar dari rumah dan bertatap muka dengan guru secara daring. Kita yang mesti mau mengawasi dan turut mengajari. Kadang membantu memilihkan konten tepat yang mesti diakses anak untuk melengkapi referensi pelajaran yang ditugaskan guru. 

”Repot dan ikut pusing, tapi memang anak kita mesti menghadapi zamannya sendiri dalam proses pembelajaran. Boleh jadi apa yang terjadi saat ini memang sudah menjadi sunatullah bagi anak kita. Dan, pesan Sayidina Ali rupanya benar, kita tetap mesti menerima pengajaran zaman kita dan berbeda dengan zaman anak kita sekarang,” begitu diungkap Ahmad Luthfi, pengajar pesantren Afada Boyolali, saat berbicara diskusi webinar literasi digital Indonesia Makin Cakap Digital yang digelar Kementerian Kominfo bersama Debindo untuk warga Kabupaten Grobogan, Jateng, 12 Juli 2021.

Sejak hadirnya pandemi Covid-19, dunia pendidikan kita sangat terpukul. Karena mencegah penularan, maka sistem belajar siswa dari TK hingga perguruan tinggi mesti menyesuaikan kondisi untuk menghindari kontak fisik. Yakni, bermigrasi dari kelas-kelas yang semula tatap muka fisik menjadi online atau memanfaatkan jaringan digital dengan kelas-kelas virtual dan dilakukan dari rumah.

”Meski perubahan mendesak dan mendadak, tapi kita semua mesti mau adaptif dan menjalaninya entah sampai kapan. Yang jelas, hikmahnya kita mesti dipaksa menjalani hidup, baik belajar dan segala keperluan dengan bergantung pada jaringan internet. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Walau semula rumit, tapi alah bisa karena biasa,” tambah Ahmad Luthfi kepada lebih dari 500 peserta webinar lintas usia dan profesi, di mana mayoritas siswa SMP 1 Ngeringan, Grobogan.

Ahmad Luthfi tak sendirian membahas diskusi seru dengan topik ”Tantangan Pembelajaran di Era Digital” yang dipandu oleh moderator presenter TV Safinaz Achiar itu. Ada tiga pembicara lain, yakni: Zainudin MZ Monggilo (dosen Departemen Komunikasi Fisipol UGM), Noviana (dosen STIKES Nasional Surakarta), dan Rinduwan (pengurus GP Anshor Grobogan). Ikut bergabung, Tya Yuwono, seorang Momspreneur yang tampil sebagai key opinion leader.

Dalam proses pembelajaran di era digital saat ini, peran guru dan orangtua amatlah kunci. Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan dan pendiri Taman Siswa, seperti dikutip Zainudin MZ Monggilo, memberi sesanti pesan bijak ihwal pentingnya peran orangtua dan guru dalam tiga pusat pendidikan yang terdiri dari keluarga di rumah, sekolah bersama guru, dan masyarakat lingkungan kampungnya.

”Namun demikian, peran orangtua dan guru dalam proses pembelajaran anak haruslah Ing ngarso sung tulodho, di depan memberi teladan positif yang patut dicontoh anak, Ing madyo mangun karso, di tengah memberi semangat dan optimisme, serta Tut wuri handayani, dan saat di belakang tetap mensuport kekuatan. Dengan begitu, kini di era digital, peran orangtua dan guru tetaplah penting dalam kolaborasi segitiga emas. Murid, orangtua dan guru mesti bersinergi mewujudkan dan saling bersinergi positif, juga saling melengkapi menuju proses belajar secara online untuk meraih hasil maksimal,” pesan Zainudin serius.   

Yang jelas, karena anak sekarang sudah menjalani proses yang bersarana dan materi belajar yang berbeda,  menurut Novita Dewi, guru dan orangtualah yang mesti adaptif dan tidak perlu memaksakan cara yang sama dengan cara belajar orangtua khususnya. 

”Teknologi digital hanya tool untuk menemukan, memilih, dan menemukan ilmu yang makin maksimal untuk menambah wawasan dan tumbuh kembang. Anak akan terus berkembang sesuai ciri khas anak muda yang suka hal-hal baru dan tidak mau lagi didikte. Biarkan anak menemukan dirinya sendiri,” pesan penutup Novita. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment