News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Jangan Mudah Percaya Informasi dari Akun Anonimous

Jangan Mudah Percaya Informasi dari Akun Anonimous




Pati – Mengapa kita mesti menjaga keberadaban di internet? Karena ternyata medsos yang beragam platform di internet itu sudah menjadi tanpa batas. Sekali kita memposting atau memberi komentar di akun kita, akan dilihat langsung oleh jutaan penghuni dunia maya yang makin tanpa batas. Apa pengaruhnya?
Jejak digital, yang merupakan reputasi pribadi kita, dinilai baik buruknya oleh beragam kepentingan. Ada pengusaha yang akan kasih kita order atau pekerjaan. Atau sekolah, kalau kita guru tempat kita kerja. Atau, kalau politisi, akan dilihat calon pemilih. Jelas, amat dipertimbangkan betul kita menjaga adab, baik buruk kita di internet.
”Sekarang, kalau pemilih, jelas mereka berhitung saat memilih wakil atau pemimpinnya. Baik daerah atau nasional, mengintip dan memantau kesehariannya akan sangat jadi perhitungan mereka dalam menentukan pilihan. Juga perusahaan, kini HRD banyak yang intip ikuti semua pelamar kerja di dunia medsos. Perilaku pelamar di medsos kini jadi pertimbangan diterima atau tidak. Jadi, jaga betul keberadaban Anda di dunia digital,” pesan Kamila Hamidah, pengajar Institut Pesantren Mathaliul Falah, Kajen, Kabupaten Pati, saat berbicara dalam webinar literasi digital bertema ”Menjadi Pengguna Internet yang Beradab”, gelaran Kementerian Kominfo untuk warga Kabupaten Pati, 5 Oktober 2021.
Dalam webinar yang diikuti 18.000 peserta lebih secara daring dari seputar eks-Karesidenan Pati, Kamila tampil dipandu moderator Ahmad Zacky bersama pembicara lain: Murniandani Ayusari, konten kreator Jaring Pasar Nusantara; Ali Rochmat, dosen STAI Al Husein; Andhika Rendra Pribadi, praktisi pendidikan; serta Audrey Chandra, news presenter sebagai key opinion leader.
Salah satu tips aman menjaga keadaban di internet disarankan oleh Murniandani. Informasi di internet itu, kata dia, bak tsunami sangat berlimpah tanpa batas dan kadang tak terbendung membanjiri dunia maya tanpa jeda.
Biasakan untuk tak gampang mengkonsumsi tanpa menyaring dan merecek sumbernya. Pilah dan pilih penulis yang akuntabel dan hindari penulis dan membuat konten yang tanpa identitas atau anonimous. Sumber anonimous seyogianya jangan diakses informasinya, karena kadang dia mengirim postingan hanya dengan niat provokasi atau kompor distorsi sosial yang tak bertanggung jawab.
”Langsung hapus kalau Anda dikirimi pesan atau koment dari sumber yang anonimous. Salah satu resep manjur agar Anda semua tidak terkontaminasi informasi yang tak akuntabel dari sumber anonimous”, pesan serius Murni.
Bahkan belum lama ada pesan kita terima di isntitut pesantren dari Direskrim Cyber Polri, “ Agar kita diminta memberi bekal santri agar para santri tidal latah jarinya di internet. Mereka kawatir pesantren terpapar ajaran radikal keagamaan dan gampang tersulut provokasi medsos yang tak bertanggung jawab. Membuat santri ikutan ajaran mereka dan menyebar ajaran mereka mengunggah ujaran kebencian tanpa paham sumbernya kredibel atau akuntabel tidak? Nah karena bareskrim akan menindak pelaku yang mengunggah ujaran kebencian kalau sampe ada yang melapor. Dan jejak digital yang buruk akan abadi dan tak terhapus, siapapun akan ditidak tegas. Jangan karena perilaku latah digital akan mengantarkan penyesalan kita karena membuat kita dikirim ke penjara nyata karena salah dan tanpa thingking sebelum posting. Jadi berpikirlah dua kali saat menerima informasi yang belum jelas kedibilitasnya . Jangan tersulut provokasi dan emosi di dunia maya, risikonya nyata”, pesan Kamila.
Buat remaja dan siswa di berbagai sekolah. Audrey Chandra menyarankan jangan sembarang pula mengikuti dan mempercayai postingan idola atau publik figure yang kita suka di internet. “ Mereka manusia biasa yang kadang emosi dan maslah hidupnya tak selalu positif. Bisa saja suatu saat dia masuk komunitas atau kelompok yang tak disukai negara atau masyarakat dan menyampaikan pesan negative. Jangan karena itu idola kit akita percaya segalla pesan dan postinganya di istagram atau medsos lainya. Kuncinya selalu positif thingking dalam meresponya, sesal kemudian tak berguna”, pungkas Audrey.***

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment