News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Begini Kelanjutan Sidang Kasus Arisan Hoki Yogya dan Emak-Emak Yang Sabar Mengawalnya

Begini Kelanjutan Sidang Kasus Arisan Hoki Yogya dan Emak-Emak Yang Sabar Mengawalnya


Para emak-emak korban arisan Hoki saat mendatangi PN Bantul Juni 2021 silam hingga kini terus mengawal kasusnya


WARTAJOGJA.ID : Belasan peserta arisan Hoki yang merupakan emak-emak  dengan didampingi  Penasehat Hukumnya, Marhendra Handoko SH kembali mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Rabu (27/10/2021) siang.

Ini adalah kesekian kali mereka dengan sabar mengawal dan menuntut keadilan atas kasus yang bergulir sejak pertengahan 2021 silam.

Mereka terus mendatangi pengadilan itu karena merasa telah menjadi korban penipuan berkedok arisan online 'Hoki' yang pemiliknya seorang perempuan bernama GP, istri salah seorang anggota DPRD Kabupaten Bantul.

Pada Rabu (27/10) itu sedianya mereka akan mendengarkan keterangan 3 orang saksi terkait kasus arisan online tersebut. 

Namun sayangnya saat majelis hakim yang dipimpin Rajendra SH membuka persidangan  sekitar pukul 13.15 WIB, pihak tergugat 1 yakni GP (32 tahun) dan tergugat II,  suaminya  yang anggota DPRD Bantul, DT (40 tahun) maupun penasehat hukumnya tidak hadir.

“Karena untuk mendengarkan keterangan saksi dibutuhkan kehadiran  dari pihak tergugat, maka sidang ditunda seminggu lagi pada tanggal 3 November,” kata Rajendra sembari mengetuk palu menutup sidang yang hanya berlangsung sekitar 10 menit tersebut.

Salah satu peserta arisan, Meika yang merupakan pedagang buah dan sayur mengaku sangat berharap uang haknya bisa dibayarkan oleh tergugat. 

“Saya ikut arisan itu niatnya mau nabung biar tidak kontrak rumah bulanan. Jadi saya ikut yang get (putus arisan,red) Rp 10 juta, dengan harapan  bisa untuk membayar kontrak rumah satu tahun. Tetapi ternyata hingga kini uang saya belum terbayar,”kata Meika.

Padahal saat membayar kepada GP, baik secara langsung ataupun transfer, dirinya sangat disiplin. Sebab  kalau terlambat, terkena denda.

“Saya itu kalau sudah saatnya bayar arisan, umpama anak minta es krim pun tidak saya belikan. Saya gunakan bayar arisan dulu. Jadi mohon kembalikan uang saya,”katanya dengan wajah  mendung.

Dirinya ikut arisan karena tertarik yang mengajak adalah GP dan dirinya merupakan reseller buah dari tempat usaha GP. Selain juga dirinya yakin GP amanah, mengingat dari keluarga mampu, rumah nya magrong-magrong dan suaminya adalah anggota dewan.

“Saya itu pasok 700.000 setiap dua minggu sekali,” katanya. 

Peserta arisan lainya, Lumintu seorang pedagang sayur di Jalan Nitipuran, Ngestiharjo,Kasihan,Bantul mengatakan jika uangnya yang belum terbayar hampir Rp 30 juta. Karena dia ikut beberapa room (kelompok arisan) dan beberapa get.  Dia juga menanggung beban moral, karena dua saudaranya juga ikut arisan setelah tahu dirinya ikut arisan Hoki.

“Saya sangat berharap, tergugat hadir dan ada itikad baik. Kami  ini sangat butuh uang tersebut, untuk berbagai keperluan. Tolong berikan hak kami,” katanya.

Sementara Marhendra mengatakan jika  gugatan para peserta arisan Hoki terdaftar dengan nomor perkara 51/Pdt.G/2021/PN dan sidang perdana telah digelar sejak 10 Juni 2021 silam.

“Para penggugat ini berasal dari banyak daerah, mulai Banjarnegara, Cilacap, Kebumen bahkan ada yang dari Sumatera  Utara. Jadi memang para peserta ini tidak saling kenal satu dengan  lain pada awalnya.  Yang menawari kemudian mengumpulkan mereka dalam room  ini adalah GP dengan get arisan  bervariasi mulai Rp 1 juta hingga Rp 50 juta. Tentu nilai pasokan juga berbeda-beda sesuai dengan get-nya,” katanya.

Awalnya arisan lancar, namun mulai Februari 2021 terjadi gagal bayar. Upaya mediasi telah dilakukan, namun hingga kasus ini bergulir di pengadilan pihak tergugat belum  membayar hak para peserta. Padahal mereka sudah setor arisan. Total nilai kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1 Miliar.

“Para peserta ini ada yang merupakan reseller usaha GP baik buah, pakaian dan jenis usaha yang lain. Total peserta arisan Hoki ada 50 orang. Para peserta mau ikut arisan karena yakin GP dari keluarga mampu sehingga dinilai akan amanah dalam memutar uang arisan,” tandasnya.

Sementara juru bicara peserta arisan, Maria Yosefa Ayu sebelumnya mengatakan saat masuk room, tiap peserta dikenakan biaya admin mulai Rp 400.000 hingga Rp 750.000 yang semua disetor ke rekening GP. Pembayaran get lancar dari April hingga September 2020. Setelah itu, tidak ada pembayaran lagi. Bahkan mulai Januari 2021, GP menghentikan arisan secara sepihak, padahal uang member sudah banyak yang disetor.

"Kami hitung keuntungan yang diraup GP dari uang admin dan selisih setoran arisan Rp 602,8 juta. Sebab, satu orang bisa ikut beberapa room," kata Maria Yosefa Ayu. (Cak/Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment