News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Tantangan Orangtua Saat Anak-anak Memegang Gadget di Tangan

Tantangan Orangtua Saat Anak-anak Memegang Gadget di Tangan




Magelang – Kini kita hidup dalam sebuah dunia digital. Berbeda dengan era sebelumnya, dunia digital yang ditandai dengan kemudahan dan kecepatannya menuntut kecakapan pemahaman orangtua terhadap dunia baru itu untuk pendidikan anak.

Banyak generasi lahir di masa ketika teknologi digital sedang pesat-pesatnya mengalami perkembangan. Masalah muncul ketika banyak orangtua tidak paham tentang kapan waktu yang tepat mengenalkan dunia digital kepada anak berikut materinya. Karena, jika kekeliruan penentuan waktu dan materi bisa berakibat fatal.

”Asosiasi dokter anak Amerika dan Kanada menekankan anak usia 0-2 tahun tidak diperbolehkan terpapar gadget. Anak 3-5 tahun dibatasi satu jam per hari dan dua jam untuk anak 6-18 tahun,” tutur trainer nasional Riana Mashar pada webinar literasi digital yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/8/2021)

Dalam diskusi virtual bertajuk ”Menjadi Orangtua Berkarakter di Era Digital” yang dipandu moderator Bobby Aulia itu, staf pengajar Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta itu hadir bersama narasumber lain: Diana Aletheia Balienda (Entrepreneur, Digital Trainer, dan Graphologist), Sani Widowati (Princeton Bridge Year On-site Director Indonesia), Fuzna Marzuqoh (Trainer dan Motivator), dan Kurniawan DY (Pelatih Sepak Bola/Mantan Pemain Timnas Sepak Bola Indonesia) selaku key opinion leader, serta Christanti Zaenal Arifin (TP PKK Kabupaten Magelang) selaku penyampai keynote speech.

Riana mengatakan, dampak media digital telah membuat anak-anak usia sekolah dasar melakukan pacaran melalui chatting di kolom percakapan WhatsApp layaknya orang dewasa. Hal itu bisa terjadi jika orangtua abai dan tidak perhatian kepada apa yang dilakukan anak-anak saat memegang gadget di tangan.

Menurut Riana, orangtua harus memperhatikan anak-anak milenial pada hal-hal prioritas seperti aspek customization (menyesuaikan kebutuhan anak), mobilitas, akses, dan perasaan mereka. 

Lalu, bagaimana menjadi orangtua berkarakter? Riana mengutip apa yang pernah disampaikan psikolog sekaligus tokoh pendidikan karakter Thomas Lickona (2008), yang membedakan karakter menjadi dua: performance character dan moral character. 

”Performance character ialah kita harus melakukan yang terbaik dan memiliki komitmen untuk terus lebih baik seperti memiliki pengaturan tujuan, percaya diri dan optimis, inisiatif, dan kreatif. Moral character berarti melakukan sesuatu dengan benar, di antaranya sikap respek, adil, bertanggung jawab, mencintai, dan rendah hati,” jelas Riana.

Riana menambahkan, apa yang dapat dilakukan sebagai orangtua dalam ruang inovasi yang serba mudah dan cepat ala dunia digital adalah mampu berpikiran inovatif dengan tetap berpegang pada batasan koridor ruang masalah tertentu (innovative thinking inside the box).

”Berpikir inovatif, berarti menemukan solusi atas permasalahan dan itu bisa diambil dari mana saja. Selain perhatian, peran orangtua juga memberikan aturan dengan sistem reward dan punishment,” pungkas Riana.

Narasumber lain dalam webinar ini, Ketua Perkumpulan Trainer Profesional Indonesia DPW Jawa Tengah Fuzna Marzuqoh menyatakan, menjadi orangtua berkarakter di era digital idealnya mampu memahami risiko penggunaan gadget pada anak-anak untuk kemudian mengarahkan pada hal-hal yang bermafaat.

Risiko penggunaan gadget pada anak, kata Fuzna, bisa berupa risiko fisik dan risiko gangguan perkembangan bahasa dan sosial. Gangguan fisik terjadi apabila anak menggunakan teknologi digital secara berlebihan, seperti gangguan kesehatan mata, masalah tidur, kesulitan konsentrasi, ketidakseimbangan perkembangan motorik kasar dan halus, hingga gangguan pencernaan.

”Gangguan perkembangan bahasa dan sosial berupa menunda perkembangan bicara dan bahasa anak, membatasi pergaulan sosial, dan mengurangi waktu berkualitas bersama keluarga,” ujar Fuzna.
Untuk menjadi orangtua berkarakter, maka ia harus menambah pengetahuan, mengarahkan penggunaan perangkat dan media digital dengan tepat, mengimbangi waktu penggunaan media digital dengan interaksi di dunia nyata, meminjamkan anak perangkat digital sesuai keperluan. 

”Selanjutnya, memilihkan program atau aplikasi positif, mendampingi dan meningkatkan interaksi, gunakan perangkat digital secara bijaksana, dan menelusuri kegiatan anak di dunia maya,” jelas Fuzna menutup paparan. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment