News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Era Cashless. Ngopi di Angkringan Pun Tinggal Tempel XR-code dari Ponsel

Era Cashless. Ngopi di Angkringan Pun Tinggal Tempel XR-code dari Ponsel





BLORA: Ada satu lagi gaya hidup baru yang hadir di masyarakat kita lebih dari tiga tahun belakangan. Yakni, hadirnya cashless society, masyarakat yang bertransaksi tanpa uang tunai lagi. Kini dengan hadirnya banyak aplikasi dompet digital atau e-wallet seperti OVO, Shopeepay, Gopay, Dana, dan banyak lainnya, sangat membantu masyarakat untuk bertransaksi membeli dan membayar sesuatu dengan beragam bantuan fitur mereka. Sehingga, kini masyarakat bisa belanja tanpa harus memakai uang tunai secara aman dan nyaman.

"Tinggal download aplikasinya dan top up isi saldonya, kita bisa belanja dan bayar lebih cepat dan malah kadang banyak diskonnya," papar Kristiyuana, praktisi pendidikan dan socialpreneur dari Blora ketika menjadi narasumber webinar literasi digital untuk warga masyarakat Kabupaten Blora, Jateng, 28 Juni lalu.

Hadirnya platform financial technologi (fintech) berupa dompet digital ini tentu mengubah sebagian gaya hidup masyarakat kita, karena memang dompet digital membawa beberapa kelebihan menarik. Apa saja?

Kristiyuana memerinci. Dengan menggunakan aplikasi e-wallet, kata Mbak Kris, kita bisa terhindar dari pemakaian uang palsu, karena cashless. Transaksi lebih cepat, dalam hitungan detik tuntas, dan tentu menghindari penularan virus -- tidak cuma Covid-19 -- yang bisa terjadi lewat peralihan uang tunai. Dengan e-wallet, urusannya praktis dan aman. Tinggal ketik, input data, lalu kirim lewat ponsel, atau bahkan cukup tempel XR-code atau barcode di ponsel ke barcode penjual.

"Sekarang, mau ngopi atau jajan di angkringan atau belanja di banyak toko offline, apalagi online, lebih mudah bayarnya dengan OVO. Bayar Gojek dengan Gopay, bahkan untuk belanja di Shopee dengan Shopeepay saya paling suka. Banyak cash back dan diskonnya kadang sampe 30 persen. Buat ibu seperti saya, ini sangat menguntungkan. Apalagi riwayat transaksinya terekap lengkap. Juga tak bakal ribet dengan kembalian permen, karena aplikasi membayarkan detil dan akurat nilainya," urai Mbak Kris, mengupas tuntas keuntungan e-wallet.

Dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Blora itu tak tampil sorangan. Dalam webinar gelaran Kementerian Kominfo itu hadir pembicara lain: Erfan Ariyaputra (trainer dan developer expert), Jota Eko Hapsoro (CEO Jogjania.com), M. Dzaki Riana (founder Instania.id), dan Venabella Arin, presenter tv yang bertindak selaku key opinion leader. Diskusi virtual yang mengusung tema “Mengenal Fitur dan Sistem Aplikasi Dompet Digital” itu dimoderatori oleh Mafin Rizqi.

So pasti, meskipun mudah dan memudahkan banyak transaksi pembayaran, bukan berarti dompet digital tak punya risiko. Erfan Ariyaputra mengaku, dulu dalam proses top up ia sempat dua kali gagal mengisi 'by system'. "Tapi kalau kita cepat melapor ke system, maka uang tetap bisa kembali ke rekening kita. Beberapa transaksi saya juga sempat gagal bayar, tapi kalau cepat dilaporkan uang kembali," kata Erfan. 

Yang penting, lanjutnya, kita mesti jaga emosi, jangan sampai emosi belanja karena ada promo atau diskon. Seperti di salah satu marketplace ada diskon dan malah aplikasi pay later, bayar belakangan, bisa bayar bulan depan. "Ini kalau tidak hati-hati malah bikin kita menumpuk utang belanja. Padahal, kalau tidak emosi, barang itu sebenarnya belum kita butuhkan," Erfan mengingatkan. 

Daripada boros buat belanja, Dzaki Riana malahan menyarankan peserta webinar yang susah menyimpan uang untuk juga menabung di dompet digital. Meski ada limit yang berbeda-beda tiap platform, ada yang Rp 10 juta hingga maks Rp 20 juta, Selain itu, berbeda dengan di bank, simpanan di e-wallet juga tidak berbunga. 

"Walau tidak berbunga, tapi bagus buat tempat mengumpulkan pemasukan yang, kalau suatu saat sudah mencapai saldo Rp 10 - 20 juta, kita pindah ke rekening bank. Ini sudah saya coba dan malah jadi sarana mengerem belanja. Karena setiap ada transferan yang masuk, saya merasa itu tabungan yang mesti dihemat, bukan untuk dihabiskan," kata Dzaki. 

Jadi? Semua terpulang pada kita semua. "Jangan belanja sesuai keinginan, tetapi belanjalah sesuai kebutuhan," jelas Dzaki, berbagi pengalaman. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment