News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Milenial Guru Masa Depan yang Mesti Serba Bisa

Milenial Guru Masa Depan yang Mesti Serba Bisa



Banyumas – Transformasi era digital pada masa depan mau tak mau mesti mengkondisikan peran kaum milenial yang, menurut versi Nielsen Media Research, adalah kelompok kaum dewasa yang pada tahun 2019 telah berusia 22 s.d. 38 tahun.

Kelompok kaum dewasa ini dianggap paling menguasai skill digital dan kemampuan literasi digitalnya paling tinggi. Karena itu, mestinya ke depan kaum milenial amat diharap sebagai agen perubahan yang kreatif dan produktif di tengah lingkungan sosialnya.

”Karena mereka juga berciri menjaga integritas kejujuran dan suka perubahan lingkungan, biasanya kaum milenial tidak mudah percaya informasi, suka tantangan dan perubahan, serta inovatif. Kemampuan itu sangat dibutuhkan untuk menggerakkan lingkungan sosialnya,” papar Dr. Fauzan, dosen Ilmu Hubungan Internasional Fisipol UPN Yogyakarta saat berbicara dalam webinar yang digelar Kementerian Kominfo untuk wilayah Kabupaten Banyumas, 23 Juni lalu.

”Yang pasti, di era revolusi 4.0 di mana hampir 68 persen populasi saat ini adalah kaum milenial, maka peran mereka sebagai guru perubahan sosial lingkungan dituntut semakin nyata. Apalagi, pada era digital, di mana kebutuhan ketersambungan online dengan dunia digital sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat melebihi kebutuhan sembako. Meski kaum milenial biasanya apolitis, tapi punya kepedulian terhadap perubahan sosial masyarakatnya,” ujar Fauzan

Webinar yang mengusung topik ”Milenial sebagai Guru Literasi Digital” itu dimoderatori oleh presenter Danys Septiana, serta menghadirkan pula narasumber lain, yakni: Anggraini Hermana (praktisi pendidikan), Aulia Putri (konsultan digital safety dari Kaizen Room), Yuni Wahyuning yang juga praktisi pendidikan, dan Rinni Wulandari, juara Indonesian Idol 2007 selaku key opinion leader. 

Lantas, bagaimana peran nyata yang segera diambil oleh kaum milenial sebagai guru literasi digital pada masa depan, khususnya di masa pandemi saat ini?

Anggraini Hermana mengurai jawaban. Kata dia, mengingat kaum milenial ini paling jago dalam skill digital, mereka mesti segera tampil sebagai sosok yang teachable. Guru yang mumpuni dan multiajar. Kaum milenial mestinya tidak cuma mampu meyakinkan lingkungannya tentang transformasi layanan yang serba digital, hingga pembayaran dan layanan publik serba digital. Kaum milenial juga mesti bisa mengajarkan bahwa itu semua mudah dilakukan dengan satu sentuhan jari.

”Ajari lingkungan cara membayar pajak, bayar listrik, dan beragam aplikasi publik pada kaum sepuh yang awalnya malas belajar menjadi tertarik berpartisipasi mandiri sebagai warga modern yang serba digital. Jangan cuma omong, tapi ajari masyarakat bahwa benar digitalisasi bikin hidup jadi lebih mudah. Di situlah peran milenial sebagai guru perubahan, menjadi nyata bagi keluarga dan masyarakat sosial terdekatnya,” ungkap Anggraini.

Lebih jauh, kalau bisa, kaum milenial juga tampil teachable mengajari lingkungan terdekatnya. Bisa dari tante dan keponakan, juga ibu-ibu PKK di kampung untuk tidak hanya menjadikan grup WhatsApp sebagai grup ngrumpi. Tapi juga bisa mengajari bikin konten promosi menarik untuk jualan pempek milik warga di TikTok atau Instagram.

”Itu semua akan bikin kaum milenial betul-betul guru yang memajukan zamannya. Dimulai dari lingkungan terkecil, lalu berkembang lebih luas. Dengan begitu, skill digital yang menjadi ciri kelebihan kaum milenial benar-benar efektif buat lingkungan sosialnya,” ujar Anggraini, serius.

Rinni Wulandari tak mau ketinggalan. Sebagai entertainer, ia mengaku awalnya juga tidak update dengan perubahan lingkungan yang sudah serba digital. Sampai-sampai, tuturnya, ia justru diajari keponakan bagaimana membuat video, bikin lagu dan promosiin lagu single lewat TikTok, Instagram hingga bikin cover lagu lewat Youtube.

”Sungguh, saya enggak bisa sestabil sekarang dalam menjaga popularitas sebagai penyanyi. Tawaran kerjaan pun jadi ngalir lewat beragam platform digital. Kuncinya adalah mau belajar. Jangan nyerah dengan perubahan digital yang tengah dan akan terus berlangsung,” pesan Rinni, berbagi kisah suksesnya. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment