News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Memilih Model Pembelajaran yang Tepat dalam Pendidikan Berbasis Online

Memilih Model Pembelajaran yang Tepat dalam Pendidikan Berbasis Online





BLORA: Kepala Seksi Guru Bidang Pendidikan Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah Agus Muhasin menuturkan tantangan bagi para pengajar di masa pandemi Covid-19. Yakni, menemukan model pembelajaran yang tepat agar peserta didik memahami setiap materi yang diberikan walau tanpa tatap muka.

Setiap pengajar, kata Agus, dituntut mampu menyiapkan sistem belajar, silabus dan metode pembelajaran dengan pola belajar digital yang datang secara tiba-tiba akibat seluruh pembelajaran menjadi daring.

"Betapapun canggihnya teknologi yang digunakan belum mampu menggantikan pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Sebab, metode konvensional jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran online," ujar Agus Muhasin saat hadir sebagai narasumber dalam webinar literasi digital bertajuk "Strategi Membangun Kecakapan Digital bagi Pengajar" yang digelar Kementerian Kominfo dan Debindo untuk warga Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Senin (26/7/2021). 

Meski demikian, lanjut Agus, setidaknya ada empat pemilihan model pembelajaran yang bisa diaplikasikan dalam pembelajaran online ini yang terbagi dalam dua jenis, yakni synchronous learning atau tatap muka dan asynchronous learning atau tatap maya.

"Synchronous learning menjadi metode yang digunakan para pengajar melalui pembahasan pembelajaran secara langsung dengan dua cara yakni pertama live synchronous learning dan kedua virtual synchronous," kata Agus.

Adapun asynchronous learning merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan teknologi modern seperti aplikasi dan fitur-fitur tertentu. 

"Asynchronous sendiri juga memiliki dua cara yakni self directed asynchronous serta collaborative asynchronous, ini pun definisinya berbeda," tutur Agus.

Self directed asynchronous, sambung Agus, menunjuk pada metode pembelajaran yang bisa dilakukan secara mandiri dan bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Sedangkan collaborative asynchronous menunjuk metode pembalajaran yang melibatkan pihak lain atau kolaborasi.

Agus menambahkan, pemilihan resource pembelajaran sendiri ada dua ragam, baik melalui content curator alias menggunakan bantuan atau sumber lain dan do it your self (DIY) content alias menciptakan sendiri konten pendukung.

"Soal content ini tergantung dari pengajar akan memilih yang paling efektif untuk materinya," kata Agus dalam webinar yang juga menghadirkan narasumber Imam Alba (Direktur Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana- LPAW), Imam Wahyudi (Direktur Content Creative Indonesia), dan Suyanto (Pengawas Madrasah Kantor Kemenag Grobogan) itu.

Agus Muhsin mengingatkan, pemilihan metode dan model pembelajaran juga tak melupakan kondisi bahwa saat ini mereka menghadapi generasi yang sangat familiar dengan internet.

"Sebagai guru tentu kita harus memahami karakter peserta didik itu, karena guru yang ada di tahun ini adalah guru yang mengajar generasi dengan sebutan generasi Z. Generasi yang lebih banyak dan lebih baik mengenal teknologi, lebih self-oriented student, dan lebih banyak resource yang di gunakan," urai Agus.

Generasi Z ini, masih kata Agus, menunjuk anak-anak yang lahir di rentangan tahun 1995 sampai 2010 yang tidak bisa ditutupi dari kenyataan yang ada, di mana mereka memiliki kemampuan untuk memilih, biasa dilibatkan dalam mengambil keputusan, meski kurang berani mengambil risiko. 

"Terhadap generasi Z ini guru perlu membantu mengembangkan semangat membantu sesama dan kegiatan mengajar yang dilakukan sebaiknya menarik serta mampu membuat peserta didik senang dan peka terhadap kondisi sekelilingnya," ujar Agus.

Dari perspektif lain, Direktur Content Creative Indonesia Imam Wahyudi mengatakan, kelebihan pembelajaran luring selama ini adalah adanya umpan balik sehingga interaksi terbangun. Sedangkan pembelajaran daring memiliki kelebihan tidak terikat ruang dan fleksibilitas dalam waktu.

"Kekurangan pembelajaran luring sendiri karena sangat terikat ruang sedangkan pembelajaran daring kekurangannya umpan balik tidak bisa seketika, selain adanya biaya tambahan dari pemanfaatan teknologi, misalnya pembelian pulsa," kata Imam.

Namun di balik itu masing-masing pembelajaran juga memiliki peluang. Misalnya untuk luring terciptanya sambung rasa dan daring memunculkan pengembangan teknologi aplikasi.

Sebagaimana di kota/kabupaten lain, di Kabupaten Blora Kementerian Kominfo juga akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan Webinar Literasi Digital: Indonesia Makin Cakap Digital selama periode Mei hingga Desember 2021.

Serial webinar ini untuk mendukung percepatan transformasi digital, agar masyarakat makin cakap digital dalam memanfaatkan internet demi menunjang kemajuan bangsa.

Warga masyarakat diundang untuk bergabung sebagai peserta dan akan terus memperoleh materi pelatihan literasi digital dengan cara mendaftar melalui akun sosial @siberkreasi. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment