News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Menengok Fenomena Klitih Jogja lewat Pameran Museum Lost Space

Menengok Fenomena Klitih Jogja lewat Pameran Museum Lost Space


Pameran seni bertajuk Museum Lost Space mencoba menunjukkan bukti-bukti Klitih sejak tahun 90an hingga sekarang ini. 


WARTAJOGJA.ID : Bagi warga Jogja, kata Klitih sudah sangat akrab.

Ini merupakan salah satu fenomena sosial berwujud aksi kekerasan dan kejahatan jalanan yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah sekitarnya. 

Fenomena ini terjadi pada umumnya terhadap anak muda usia 14-19 tahun yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas

Klitih tidak hanya baru-baru ini mencuat ke tengah-tengah warga Yogyakarta, tetapi sudah sejak tahun 90 an klitih telah ada di Yogyakarta.

Pameran seni bertajuk Museum Lost Space mencoba menunjukkan bukti-bukti Klitih sejak tahun 90an hingga sekarang ini. Pemeran ini digelar di Galeri Lorong, Dusun Jeblok, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Pameran ini menunjukkan nama-nama geng, sketsa-sketsa, peta dimana geng berada, hingga senjata-senjata yang digunakan untuk melancarkan aksi klitih di jalanan Yogyakarta.

Berbagai macam senjata dipamerkan pada pameran ini seperti, pedang, gir, buntut ikan pari, knuckle, hingga korek api. Bahkan beberapa senjata memiliki nama di kalangan geng klitih seperti pedang pencabut nyawa.

Seniman, Yahya Dwi Kurniawan menjelaskan tujuan dari dibuatnya pameran ini adalah untuk memberikan edukasi kepada pelaku klitih, dan juga masyarakat. Bahwa menurut dia, klitih tidak begitu saja terjadi tetapi banyak variabel yang menyebabkan klitih terjadi.

"Klitih tidak terjadi begitu saja, tetapi saat saya melakukan observasi selama 8 bulan ternyata banyak variabelnya. Seperti yang sering ditemui mereka anak-anak muda kehilangan ruang untuk berekspresi," kata dia ditemui di Galeri Lorong, Kamis (11/3/2021).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kebanyakan pelaku klitih berasal dari Yogyakarta. Dimana mereka melihat perkembangan Kota Yogyakarta namun tidak bisa menikmati kemajuan kota sebagai warga asli Yogyakarta.

Lebih lanjut, Yahya menjelaskan ada perbedaan klitih dari zaman ke zaman, misalnya pada era 90an klitih lebih didominasi dengan alasan ekonomi dan wilayah sedangkan era sekarang adalah eksistensi.

"Pemicunya banyak salah satunya kecemburuan sosial. Misalnya saat mereka mau nongkrong di coffee shop yang saat ini merebak mereka tidak mampu mengingat UMR Yogyakarta kecil. Satu dua kali oke lah, kalau tiap hari uang jajan mereka gak cukup, sedangkan yang membeli malah para pendatang," kata dia.

Lalu saat para pelaku klitih ingin bermain di kampungnya, sudah banyak kos-kosan dibangun di kampungnya sehingga tidak ada ruang mereka untuk berekspresi dan bermain.

"Dulu ada ruang publik yaitu di alun-alun utara tetapi sekarang dipasang pagar, sehingga mereka kembali ke jalanan. Oleh sebab itu pameran ini dinamakan Museum Lost Space, " kata dia.

Sepenuturan dirinya pelaku klitih dapat keluar dari lingkaran klitih ketika mereka masuk kuliah atau mendapatkan teman-teman baru di luar lingkaran klitih.

"Ketika masuk kuliah mendapat teman baru dan teman-teman barunya tidak membicarakan kejahatan jalanan lagi, mereka otomatis akan keluar dari lingkaran klitih," ujar dia.

Dirinya mencoba mengajak beberapa orang pelaku klitih untuk ikut serta dalam pameran ini, para pelaku diizinkan untuk mencoret-coret kanvas dengan cat semprot. Seperti saat mencoret-coret tembok dengan geng klitih mereka.

"Sebenarnya mereka ini banyak yang bisa melukis, bermain musik, mereka butuh tempat untuk eksistensi. Selain itu mereka juga butuh untuk diajak berdialog berkomunikasi," kata dia. (Cak/Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a comment