News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Eksplorasi Bunyi Musik Api

Eksplorasi Bunyi Musik Api

Eksplorasi Gerak Api dari Tiga Pantomimer (Dok.Rumah Budaya Royal House)

WARTAJOGJA.ID : Apa yang terlintas, saat Anda mendengar perhelatan pentas Musik Api? Sudah pasti diantara kita bisa langsung bereaksi dengan berbagai anasir dan interpretasi dengan judul yang tak lazim seperti judul pertunjukan musik di atas.

Jawaban kemudian mulai sedikit terkuak. Saat beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai dengan jumlah penonton terbatas mengikuti Standart Protokol Kesehatan Covid-19 berdatangan. Setiap penonton yang hadir, lantas dibagikan korek api gas satu-persatu dengan diberikan instruksi singkat.

Tak lama, lampu pun padam, suasana menjadi gelap dan hening berganti dengan lampu api-oncor. Sejenak, muncul 3 pantomimer (Ende Riza, Marco Dinarta, Josep Salamon) dari beberapa sudut ruang dengan ornament body-painting mulai mendekati penonton sembari mengajak untuk ikut merespon menyalakan korek api tadi.

Cress...creess...creeesss... suara yang timbul dari efek korek api gas yang dinyalakan hidup-mati berulang-ulang. Perlahan mulai terdengar saling bersahut-sahutan dan menyala secara tak beraturan. Hingga membuat kesan estetika visual dan bunyi tersendiri dalam ruang pertunjukan malam itu.

Itulah kilas pembuka dari pertunjukan Musik Api (18/12) silam, yang menjadi judul komposisi musik yang kali ini diusung oleh musisi-composer, Memet Chairul Slamet yang untuk pertama kalinya dihelat di Rumah Budaya Royal House Cultural Activities, Jl.Gito-Gati, Gondang Legi 17, RT/RW 03/13, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Aksi Eksplorasi Musik Api, Memet Chairul Slamet (Dok.Rumah Budaya Royal House)


Anasir Api

Setelah sebelumnya sukses mengusung pentas komposisi musik yang mengangkat tema alam dan lingkungan, seperti Musik Air (2009), dan Musik Batu (2019). Karya komposisi terakhir ini juga yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang Doktor Musik dari Program Pasca Sarjana Penciptaan Seni, ISI Yogyakarta. 

Memet dikenal gigih, terus berkarya dan bereksplorasi di jalur musik kontemporer yang menjadi pilihan hidupnya. Apalagi secara khusus, pentas malam itu menjadi sebuah persembahan bagi Sang Maestro Musik, Alm. Suka Hardjana. Seorang pengampu musik yang banyak membantu dan memberi dukungan dalam perjalanan bermusiknya sejauh ini.

Repertoar Musik Api yang digagas bersama Alexander Jedink, IKASDRAFI Production dan Rumah Budaya Royal House Cultural Activities ini, di kemas dalam 4 bagian terpisah, mulai Bunyi Percikan Api, Benda Pemanfaatan, Peleburan, Penanda Pertanda. Semua berkelindan saling mengisi satu dengan lainnya. Pentas kolaborasi melalui pendekatan sinematografi ini juga menjadi sebuah karya eksperimentasi yang menarik dalam penciptaan musik.

"Musik Api menjadi karya musk eksperimental yang berdasar pada bentuk asli sumber bunyinya yang disusun secara live lewat pendekatan audio-visual maupun pre-recording. Rangkaian efek bunyi yang saling bersahutan secara acak untuk membentuk pola ritme ini yang menjadi fokus dari pentas musik ini," ujar Pimpinan Produksi, Mahmoud Elqadrie.

Selain itu, dukungan Tito Pangesti Aji selaku Stage Manager dan sentuhan Emha Irawan sebagai Artistic Director juga ikut memberi warna tersendiri. Tata ruang panggung yang dekoratif berhasil menghadirkan kesan beragam ekspresi dari awal hingga akhir pertunjukan. Bingkai rekam-jejak dari setiap repertoar, baik yang terlihat di depan maupun di belakang panggung dalam menerjemahkan konsep rasionalitas dan imajinatif terlihat kuat saling mengisi.

Reaksi Vokal dan Rupa Visual dari Video-Art  (Dok.Rumah Budaya Royal House)

Ekspresi Musikal

Bagi Memet, karya Musik Api ini merupakan interpretasi dari keindahan bentuk api yang selalu berubah sekaligus merangsang dan memicu persepsi imajinasi secara auditif. "Unsur bunyi dan hadirnya api yang menjadi material dalam menyusun komposisi musik, ikut menghadirkan kesadaran arsitektural dalam rancang-bangun komposisi yang tak lazim," tandasnya saat menjelaskan konsep musiknya. 

Eksplorasi dari beragam sumber bunyi yang berbeda justru datang dari repertoar Penanda Pertanda yang menghadirkan vokal, Bramanti F. Nasution. Secara berulang-ulang, ia bernyanyi dengan teknik scream and growl yang lantang dalam hentakan beat-beat perkusi yang unik dan khas. Sembari merespon perpaduan rekayasa digital teknologi audio-visual dari obyek korek gas dan lelehan lava pijar gunung berapi lewat karya video-art garapan Joni Asman.

Setiap keterkejutan yang muncul dari pola ritme dengan timbre yang tak terduga. Tak pelak, ikut menghasilkan kebaruan cara pandang, melampaui batasan kultural dalam bermusik. Sejauh ini, eksplorasi bunyi yang tak biasa dari olah komposisi hasil reaksi api ini, cukup berhasil memadukan unsur api dan media pendukung lainnya, seperti suara korek api, kompor gas, ceret, alat pembuat kue putu, gerinda mesin, gunung api meletus, serta efek bunyi lainnya menjadi bagian unsur ekspresi musikal.

Kendati, dalam beberapa adegan masih terjadi pengulangan unsur bunyi dan rupa visual dari video-art yang ditampilkan. Unsur waktu dan gerak juga menjadi sesuatu yang mungkin perlu menjadi perhatian khusus. 

Efek Eksperimentasi Ruang Bunyi Api (Dok.Rumah Budaya Royal House)

Sementara karya video-art yang disorot dari depan melalui LCD projector terkesan mendominasi. Apalagi, karya musik ini ditonton tidak secara langsung. Tetapi lebih banyak terjadi di balik layar yang dibatasi oleh white-screen, layaknya menonton wayang.

Sebagai sebuah anasir, Api yang menjadi sumber olah kreasi ekspresi musikal ini dikemas menjadi pentas multi-media penanda-semiotik yang memadukan unsur gerak cahaya dan visual yang ikonik. Karya ini, menawarkan harapan kebaruan dan kekinian, melalui pemahaman ruang dan waktu sebagai penanda sekaligus pertanda jaman. Api menjadi peziarahan keseimbangan jaman dalam bingkai peradaban. (***)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment