News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Harlah Ke-70 ASRI, ISI Yogya Gelar Pameran Para Pendiri Dan Pembangun

Harlah Ke-70 ASRI, ISI Yogya Gelar Pameran Para Pendiri Dan Pembangun



Salah satu karya dalam pameran Harlah 70 ASRI (cak)

WARTAJOGJA.ID: Kampus Institut Seni Indonesia atau ISI Yogyakarta sedang punya gawe.

Salah satu kampus tertua di tanah air itu, tengah merayakan hari jadinya yang ke 70 tahun 2020 ini.

Salah satu cara yang dilakukan ISI dalam merayakan hari jadinya menggelar pameran seni rupa cukup unik untuk mengenang perjalanannya saat masih bernama Akademi Seni Rupa Indonesia atau ASRI.

Pameran bertajuk Harlah ke-70 ASRI: Tonggak Para Pendiri dan Pembangun ASRI itu dilangsungkan 20 - 30 November 2020 di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta.
 
"Pameran seni rupa ini menjadi satu upaya untuk mendialogkan masa lalu dengan sekarang," ujar salah satu dewan kurator pameran itu, Sudjud Dartanto Kamis (26/11).

Sujud menuturkan, perkembangan seni tanah air di masa lalu, tak bisa dipisahkan dengan spirit yang mewarnai perjuangan bangsa saat itu. Sehingga berbagai aktivitas berkesenian yang lahir kerap tertuang dalam bentuk ekspresi ekspresi yang mencerminkan kemerdekaan diri atau mental.

"Bahwa seni rupa di masa perjuangan itu ada untuk melahirkan jiwa-jiwa merdeka. Inilah spirit yang ingin diusung melalui pameran ini,"

Ketua Panitia Harlah ke-70 ASRI Warsono mengatakan sedianya pameran ini sempat akan digelar di Jogja National Museum atau JNM yang merupakan kampus pertama ASRI pada September-Oktober 2020 lalu. Namun karena pandemi Covid-19, setelah berbagai pertimbangan akhirnya pameran ini diundur November dan digelar di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta. 

"Peringatan harlah ke 70 ini merupakan momen yang spesial sekaligus kontekstual," ujar Warsono. Harlah sendiri dimulai dengan rangkaian temu alumni hingga peluncuran buku 70 ASRI.

Warsono mengatakan dari pameran ini ada ikhtiar untuk mengembalikan marwah seni sebagai bagian hidup masyarakat. Bukan bagian yang eksklusif. 

"Sebab dalam perkembangan seni yang dimotori ASRI di masa silam juga berkembang bersama persoalan sosial dan persoalan lain yang hadir di masyarakat. Ini menjadi momen refleksi dan menghidupkan kembali nilai nilai filosofi yang digariskan pendahulu kami," katanya.

Ketua Pameran Seni Rupa itu, Rain Rosidi mengatakan pameran seni rupa ini berangkat dari semangat perayaan 70 tahun Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta sejak kelahirannya tahun 1950 saat bernama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). 


Karya dalam pameran Harlah 70 ASRI (cak)


Lembaga pendidikan seni rupa tertua di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara ini lahir dari amanat 
Konggres Kebudayaan pertama tahun 1948, pada tahun ini terjadi agresi militer Belanda kedua di Yogyakarta. 

ASRI digagas dan diidirikan oleh para pemikir dan seniman dengan spirit nasionalisme dan keragaman (multikultur) yang demikian kuat. Sejarah panjang dengan segenap dinamika yang tak mudah dan pencapaian dalam aspek pemikiran dan penciptaan seni rupa ini pantas dirayakan dengan takzim.  
 
Sebagai bentuk pengingatan atas kekaryaan para tonggak pendiri dan pembangun Akademi Seni Rupa Indonesia(ASRI) sampai Sekolah Tinggi Seni Rupa(STSRI) “ASRI” dalam kurun waktu 1950-1969 maka pameran seni rupa ini menghadirkan karya-karya para pendiri dan pembangun Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). 

Periode itu adalah kurun masa republik muda Indonesia yang ditandai oleh berbagai momentum bersejarah: momen setelah proklamasi kemerdekaan 1945, momen transisi dari Republik Indonesia Serikat (RIS) hingga kembali ke Republik utuh (1949-1950), momen pemilu pertama 1955, dan momen awal Rencana Pembagunan Lima Tahun (REPELITA) pertama(1969-1974).  
 

Panitia dan kurator pameran Harlah 70 ASRI (cak)

"Dari pameran ini kami mengajak publik membayangkan bagaimana karya-karya ini lahir dari suasana Indonesia muda yang tengah menata dan mendefinisikan diri ditengah gejolak sosial, ekonomi, budaya dan politik yang saat itu fluktuatif," katanya.

Pendirian ASRI sendiri melibatkan pemimpin bangsa, Presiden Soekarno dalam proses “menandai dan memaknai” Indonesia melalui karya-karya monumental di Jakarta dan sejumlah kota lainnya.   
 
Dari sejumlah arsip menerangkan mereka antara lain: Abas Alibasyah, Abdul Kadir, Abdul Salam, 
Djajengasmoro, Edhi Sunarso, Fadjar Sidik, G. Sidharta Soegijo, Hendra Gunawan, Hendro Jasmoro, 
Kusnadi, Lian Sahar, RJ Katamsi, Rusli, Saptohoedojo, Soedarso, Suromo, Sutopo, Suwaji, Trubus Soedarsono, Wardoyo, dan Widayat. Mereka adalah para pendiri ASRI yang kemudian dikenal sebagai para maestro seni rupa Indonesia. Karya-karya dalam pameran dapat dikatakan adalah karya-karya koleksi yang belum begitu banyak ditonton oleh publik.  
 
Pameran ini juga menegaskan bahwa memahami Indonesia dapat dilakukan melalui kehidupan institusi pendidikan tinggi seni rupa melalui gagasan pengajaran hingga metode kurikulumnya yang awalnya diamanatkan untuk membangun Indonesia dan menuntaskan cita-cita revolusi. 

Pada awal pembentukannya, sistem pendidikan ASRI dilaksanakan dalam suasana yang penuh keterbatasan, karena sarana dan prasarana yang belum memadai, tetapi semangat para siswa awal dan pengajar pada masa itu membentuk landasan pola pengajaran seni rupa hingga masa kini dan terus berkembang sesuai perubahan dan perkembangan zaman. 
 
Materi karya dalam pameran ini berasal dari koleksi kolektor seni Dr. Oei Hong Djien dan OHD Museum, Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso, Sapto Hoedojo Art Gallery, Studio Nasirun, dan Taman Budaya Yogyakarta. 

Selain itu juga menampilkan koleksi kolektor seni Budi Trisno Tjahjono tentang RJ.Katamsi yang dihadirkan melalui ruang khusus, dan juga sejumlah arsip dan dokumentasi dari seniman Dyan Anggraeni, keluarga dari Djayengasmoro, tokoh pendiri ASRI yang tidak banyak publik mengetahuinya, terutama tentang perannya dalam masa pra pendirian ASRI.  

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment