News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kelakuan Pembina Pramuka SMPN 1Turi Sleman Yang Sebabkan 10 Siswa Tewas

Kelakuan Pembina Pramuka SMPN 1Turi Sleman Yang Sebabkan 10 Siswa Tewas

WARTAJOGJA.ID : Kelakuan tersangka pembina pramuka SMPN 1 Turi Sleman, IYA alias Isvan Yoppy Andrian, 36 tahun diungkap pihak kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tersangka yang merupakan perancang program susur sungai itu telah ditahan polisi. Kegiatan susur Sungai Sempor Sleman itu sendiri menewaskan 10 orang siswa sekolah itu pada Jumat 21 Februari 2020 lalu.

Polisi mengungkap, tersangka yang merupakan guru olahraga di sekolah itu ketika kejadian hanya mengantar siswa menuju sungai Sempor. 

Tersangka saat itu meninggalkan 249 siswa tersebut hanya bersama empat pembina dari guru. 

"Alasan dia (IYA) saat itu pergi dari lokasi susur sungai karena ada keperluan di suatu tempat," ujar juru bicara Polda DIY Komisari Besar Polisi (Kombespol) Yuliyanto Ahad 23 Februari 2020.

Belum diketahui persis ke mana perginya tersangka saat itu ketika ratusan siswa berjibaku melawan deras arus sungai yang menerjang setinggi dada mereka tanpa peralatan
memadai.

Fakta itu diungkap ketika kepolisian memeriksa tujuh pembina pramuka SMPN 1 setelah kejadian memilukan itu terjadi. 

Dari tujuh pembina pramuka di sekolah itu, satu pembina yakni tersangka IYA meninggalkan lokasi, satu pembina menunggu di titik finish susur sungai, dan satu pembina lagi menunggu di sekolah. Hanya empat pembina yang diketahui ikut terjun susur sungai.

Seorang siswa laki laki peserta susur sungai itu menyebut, saat hendak susur sungai warga sekitar lokasi sudah mewanti wanti agar kegiatan itu dibatalkan. 

Pertimbangan warga saat itu karena wilayah atas lereng Merapi sedang turun hujan lebat dan dikhawatirkan sungai kecil itu sewaktu waktu meluap. 

Penuturan siswa itu, di kawasan tempat susur sungai itu juga sebenarnya baru saja diguyur hujan lebat lalu sempat mereda. 

"Tapi saat itu (tersangka IYA) bilang, 'Pramuka nggak takut panas dan hujan', kegiatan jadi jalan terus," ujar seorang siswa.

Tak hanya satu warga yang mengingatkan agar susur sungai itu dibatalkan demi keamanan. Namun sang pembina itu malah meremehkan soal ketingian air sungai yang masih rendah. 

"'Cuma segini saja, nggak papa,'" ujar siswa itu menirukan jawaban si pembina.

Tak.hanya itu, pembina pramuka SMPN 1 Turi juga menjawab seenaknya saat diingatkan warga jika susur sungai saat cuaca buruk berbahaya. "Hidup mati di tangan Tuhan," pengakuan siswa lainnya.

Remeyza Widya Elya, teman sekelas salah satu korban tewas SMPN 1 Turi, Khoirunisa Nur Cahyani, bercerita di sela melayat temannya. Bahwa ketinggian air saat mereka mulai susur sungai memang masih selutut. 

Namun tak lama setelah mereka turun untuk susur sungai, ketinggian air meningkat cepat menjadi setinggi dada. Lalu arus berubah sangat kencang dan tanpa ampun menggulung semua siswa.

"Saya selamat karena berhasil naik tebing pinggir sungai, lainnya hanyut," ujarnya.

(Don/Gus/Sup)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a comment