News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Lereng Merapi Bopeng-Bopeng, Sultan HB X : Nambang Pasir Opo Nambang Opo?

Lereng Merapi Bopeng-Bopeng, Sultan HB X : Nambang Pasir Opo Nambang Opo?

 

Sultan HB X sidak kawasan lereng Merapi (dok.Pemda DIY)

WARTAJOGJA.ID : Raja Keraton yang juga Gubernur  Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamenku Buwono X mengaku pedih  melihat kondisi sekitar lereng Gunung Merapi yang kini tak elok lagi.

Sultan sempat menyambangi langsung kawasan lereng Merapi pada akhir pekan lalu bersama permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan terkejut tanah-tanah yang masuk wilayah Sultan Ground di kaki Merapi khususnya di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman sudah sedemikian parah akibat penambangan pasir liar secara membabi buta.

Sultan melakukan inspeksi langsung wilayah terdampak pertambangan dan lokasi-lokasi yang selama ini dinilai cukup tersembunyi seperti Sungai Gendol, Sungai Opak, Sungai Kuning serta wilayah Umbulharjo, Argomulyo, Glagaharjo, Kepuharjo Kecamatan Cangkringan selama kurang lebih empat jam.

“Saya terkejut dan tak membayangkan kerusakan di lereng Merapi itu sedemikian parah,” kata Sultan di Yogyakarta Senin 13 September 2021.

Sultan menuturkan, dari pengamatannya, bekas-bekas tambang ilegal itu dibiarkan menganga tanpa upaya reklamasi. Penambangan pasir setiap hari dilakukan oknum-oknum tak bertanggungjawab dan menyisakan lubang-lubang besar dengan kedalamanan 50-80 meter.

“Penambangan itu hanya mencari duitnya saja, bentuk keserakahan yang saya maksud, tanpa upaya reklamasi, iki nambang opo, golek pasir opo golek opo (ini menambang apa, cari pasir atau mencari apa ?) " ujar Sultan.

Sultan tak bisa menerima, jika alasan bahwa aksi penambangan itu karena hanya ingin memanfaatkan material muntahan erupsi Merapi yang terus terjadi.

“Kalau digali sedalam 100 meter pun ya tetap akan ketemunya lava, karena di Yogya itu lava semua,” kata Sultan yang sudah menginstruksikan aksi penambangan liar di tanah Sultan Ground itu berlanjut.

Sultan menuturkan, selama ini pihak Keraton Yogyakarta juga Pemerintah DIY tak pernah mengeluarkan satu pun ijin penambangan pasir liar di kaki Gunung Merapi. “Jadi saya tutup semua, 14 titik penambangan itu,” ujar Sultan yang merinci dari 14 titik itu sebanyak delapan titik di area Sultan Ground dan sisanya di luar tanah Sultan Ground.

“Yang di luar tanah Sultan Ground juga tak ada ijin, jadi yang menutup ESDM (Dinas Energi Sumber Daya Mineral),” Sultan menambahkan.

Sultan pun telah mengumpulkan dan memberi titah kepada warga di lereng Merapi, khususnya kelompok tani, Desa Hargobinangun Pakem hingga Pemerintah Kabupaten Sleman di Desa Hargobinangun, Pakem Sleman, pada Sabtu (11/9) lalu.

“Ingsun kagungan kersa, Gunung bali gunung, kuwi opo sing bisa tak andhareke marang sliramu kabeh, muga-muga bisa kelaksanan,” pesan Sultan dalam titahnya.

Jika diterjemahkan, pesan Sultan itu berarti,’Saya memiliki keinginan, gunung harus kembali ke gunung, itu yang aku pesankan kepadamu semua, semoga bisa dilaksanakan,’

Sultan pun memerintahkan agar Kawasan Gunung Merapi harus dijaga kelestariannya seperti sedia kala dan tidak diperkenankan melakukan eksploitasi sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

Hal ini dilakukan sesuai semboyan Hamemayu Hayuning Bawana atau turut memperindah keindahan dunia, yang menjadi falsafah atau pegangan hidup masyarakat Jawa sebagaimana diajarkan pendiri Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Menurut Sultan, alam tidak butuh manusia, melainkan manusialah yang butuh alam. Untuk itu, manusia sejatinya harus memperlakukan alam dengan baik.

Sri Sultan juga menegaskan kepada warga terdampak akan berupaya mengembalikan kelestarian lingkungan di lereng Gunung Merapi pasca menutup seluruh praktik tambang pasir ilegal. (Cak/Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment