News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Semua Destinasi Yogya Tutup, Wisatawan Jangan Bandel Pindah Tempat Plesir

Semua Destinasi Yogya Tutup, Wisatawan Jangan Bandel Pindah Tempat Plesir


Penyekatan jalan saat PPKM Darurat di Yogyakarta (ist)

WARTAJOGJA.ID : Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memang tak jadi memberlakukan lockdwon atau karantina total meski menutup seluruh destinasi dalam masa pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat 3-20 Juli.

Namun, masyarakat dan wisatawan diminta tidak bandel, mencari jalan untuk tetap berpergian mencari spot-spot baru saat penularan Covid-19 masih tinggi saat ini.

"Tiga sumber mobilitas di Yogya yakni tempat wisata, perkantoran, juga pusat belanja sekarang sudah ditutup semua, jangan lalu kerumunannya yang berpindah," kata 
Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Riris Andono Ahmad Senin 12 Juli 2021.

Riris mengatakan jika kerumunan itu hanya berpindah saja, maka akan sia sia upaya menekan penularan Covid-19 melalui PPKM Darurat. 

"Tujuan PPKM Darurat ini utamanya menekan mobilitas, kasus akan turun jika orang yabg berdiam di rumah itu meningkat, idealnya 70 persen dalam satu satuan epidemologis," katanya.

Di wilayah DIY, satu contoh yang disebut satu satuan epidemiologis itu meliputi tiga wilayah utama yakni Kartamantul atau Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Ketiga daerah itu posisinya  berada dalam satu garis linear atau sumbu folosofi yang ditandai dengan tiga simbol. Yakni di utara Gunung Merapi, di tengah Tugu Jogja dan si selatan Laut Selatan.  

Setiap harinya mobilitas warga dan wisatawan di tiga wilayah itu sangat mudah meski saat ini sudah mulai disekat perbatasannya.

"Kalau Kabupaten Kulon Progo dan Gunungkidul relatif jauh titik mobilitasnya," kata Riris.

Para pelaku perjalanan belakangan terus jadi sorotan Pemerintah DIY sebagai satu bagian dari penularan kasus.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Berty Murtiningsih menuturkan baru dua hari terakhir yakni Sabtu-Minggu, 10-11 Juli tak ditemukan kasus penularan yang riwayatnya dari pelaku perjalanan daerah.

"Sejak PPKM Darurat diberlakukan mulai 3-9 Juli ada 31 kasus penularan  hasil perjalanan luar daerah, tertinggi saat hari kedua PPKM Darurat pada 4 Juli ada 12 kasus perjalanan luar daerah terpapar Covid," kata Berty.

Meski di tingkat provinsi DIY penurunan mobilitas PPKM Darurat baru tercapai sekitar 15 persen, namun di dalam perkotaan hasilnya cukup efektif.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Agus Arif Nugroho mengatakan penyekatan dan pengalihan arus lalu lintas (lalin) di sejumlah ruas jalan di Kota Yogyakarta cukup berdampak pada penurunan mobilitas. 

“Penurunan mobilitas volume lalu lintas di Kota Yogya akhir pekan lalu sudah sekitar 57 persen. Parameternya adalah pengurangan panjang antrean kendaraan di traffic light,” kata Agus.

Dicontohkan pada lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) simpang Permata sisi barat awalnya panjang antrean kendaraan berkisar 35- 40 meter. Namun setelah dilakukan rekayasa manajemen lalu lintas PPKM Darurat panjang antrean menjadi 20- 25 meter atau turun sekitar 29 persen. 

Sedangkan pada APILL simpang Galeria timur antrean kendaraan di Jalan Urip Sumoharjo biasanya sekitar 70 meter menjadi sekitar 10 meter atau turun sekitar 86-90 persen. Jika dirata- rata, lanjutnya, pada 9 simpang ada penurunan sekitar 57 persen.

“Tolong dipahami penyekatan ini bukan untuk mempersulit tapi agar kebutuhan primer terpenuhi dan menekan laju pertumbuhan Covid-19. Jadi aktivitas non esensial atau sekunder bisa ditunda dulu,” kata dia. (Cak/Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment