News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Elemen Masyarakat Duga Ada Penambangan Liar, Ini Penjelasan TNGM

Elemen Masyarakat Duga Ada Penambangan Liar, Ini Penjelasan TNGM


ilustrasi penambangan (ist)


WARTAJOGJA.ID: Elemen Masyarakat dari Forum Rakyat Jogjakarta (Fokja) menyoroti dugaan aktivitas penambangan material di Dusun Ngori Desa Kemiren Srumbung Magelang Jawa Tengah. 

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini menilai ada dugaan penambangan galian C di lokasi tersebut ilegal alias tidak mengantongi izin. Selain merugikan dari segi pemasukan daerah maupun negara, kegiatan yang dilakukan juga dikhawatirkan merusak ekosistem alam kawasan lereng Merapi.

Dari penelusuran yang dilakukan Fokja, lokasi lahan yang ditambang seluas sekitar 90 hektar. Tempat ini masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Ketua Fokja, Iwan F mengatakan aktivitas terlarang itu diduga telah berlangsung selama 4 bulan terakhir hingga saat ini. Setidaknya ada kurang lebih 300 unit truk keluar masuk lokasi untuk mengangkut hasil kekayaan alam lereng Merapi.

“Kami menduga ada yang dilanggar dalam hal ini sehingga terjadi penambangan dimana menurut kami itu merupakan aktivitas ilegal. Kami juga menduga ada pihak-pihak yang sengaja mengambil keuntungan di sana,” kata Iwan Fathoni di Sleman, Jumat (18/06/2021).

Ia menegaskan, jika memang akan dilakukan penambangan di sana maka harus mengantongi izin dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) yang merupakan direktorat di bawah lingkup Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sedangkan untuk izin jual beli hasil tambang maka wajib dapat izin terlebih dahulu dari Kementerian Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

“Karena kegiatan di sana belum mangantongi izin, maka aktivitas penambangan harus segera ditertibkan atau bahkan ditutup. Kami meminta pihak-pihak yang terkait untuk segera turun tangan menangani persoalan tersebut,” jelasnya.

Ia menggambarkan, satu truk berisi pasir akan dihargai sekitar Rp 700.000. Jika ada sebanyak 300 unit truk keluar masuk area penambangan ilegal maka negara dan pemerintah daerah akan kehilangan pemasukan sekitar Rp 210.000.000 setiap hari.
Agar kegiatan pengerukan kekayaan alam kawasan Merapi secara tak resmi itu tidak berlarut-larut, Fokja dalam waktu dekat akan mengirimkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. 

Fokja juga mendesak agar pihak berwewenang di tingkat daerah untuk segera mengusut secara tuntas parmasalahan ini.

Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi saat dikonfirmasi menegaskan tak ada aktivitas penambangan di wilayah taman nasional. 

Ia menyatakan wilayah TNGM memang ada sebagian masuk wilayah Dusun Ngori, namun tempat terjadinya penambanan illegal yang dimaksud dipastikan tak berada di kawasan taman nasional.

“Taman nasional (TNGM) tidak akan pernah memberikan izin penambangan, karena penambangan memang tidak pernah ada dalam taman nasional,” tegas Muhammad Wahyudi.

Bahkan terakhir petugas TNGM seminggu lalu melakukan pemantauan di Dusun Ngori. Dalam pemantauan tersebut di sana tak ditemukan adanya penambangan di kawasan taman nasional.

“Satu minggu lalu kami dari Ngori dan saat di lokasi tidak ada penambangan,” jelasnya.

Muhammad Wahyudi menduga ada aksi kucing-kucingan di lokasi. Saat petugas melakukan pemeriksaan maka para penambang pergi, namun ketika petugas meninggalkan lokasi mereka justru datang kembali.

“Kalau ada yang masuk TNGM segera kita suruh turun. Petugas tidak bisa 24 jam di sana, bisa jadi saat petugas turun mereka naik lagi. Jadi malah kucing-kucingan,” tegasnya. (Pk/Kr)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment