News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Jalur Perdata Tak Mempan, Warga Sleman Pidanakan Dugaan Penipuan Berkedok Investasi

Jalur Perdata Tak Mempan, Warga Sleman Pidanakan Dugaan Penipuan Berkedok Investasi


Ilustrasi investasi bodong (ist)

WARTAJOGJA.ID : Kasus penipuan berkedok investasi kembali terjadi di Yogya. Dengan iming-iming bagi hasil sebesar 5 persen, seorang perempuan wiraswasta warga Depok Sleman harus kehilangan uang Rp 260 juta. Perjanjian kerjasama dengan PT Agung Kusuma Jaya (AKJ) yang ditandatangani tiga tahun silam itu hingga kini tidak ada kelanjutannya dan uang ratusan juta milik korban tak kembali.

Korban Fransisca Marita Kusuma (37) mengungkapkan, kasus penipuan yang dialaminya itu berawal pada pertengahan tahun 2017 saat ia ditawari kerjasama oleh seseorang yang disebut-sebut bernama Adie Kusuma Salindra. Pria ini mengaku sebagai direktur PT AKJ yang tengah menggarap proyek perumahan Kusuma Jaya Permai di Playen Gunungkidul.

“Ia menawarkan kerjasama bagi hasil dari proyek perumahan yang digarapnya. Awalnya saya belum tertarik dan menolak tawaran itu,” ungkap korban, Rabu (16/09/2020).

Sebulan kemudian pria ini datang lagi kepada Sisca dan kembali menawarkan kerjasama yang pernah ia sampaikan dulu. Kali ini korban mulai tertarik dengan iming-iming akan mendapatkan bagi hasil 5 persen untuk investasi sebesar Rp 260 juta.

Kerjasama yang ditawarkan itu selama dua bulan, dimana tiap bulannya korban akan mendapat bagi hasil sebesar Rp 13 juta. Akhirnya Sisca menyetujui dan menandatangani perjanjian kerjasama dengan disaksikan notaris pada bulan Oktober.

“Bulan pertama yakni November saya mendapat bagi hasil Rp 13 juta, namun itu diperoleh setelah saya tagih-tagih terlebih dahulu. Pembayaran pun dilakukan secara bertahap yakni pada pertengahan dan akhir bulan,” ujarnya.

Pada bulan kedua yakni Desember, ketidakberesan mulai dirasakan Sisca. Uang bagi hasil hanya diterimanya sebesar Rp 8 juta saja, itu pun ia harus menunggu sampai lebih dari satu bulan hingga Januari 2018.

Kepada korban, Direktur PT AKJ ini meminta waktu satu bulan lagi. Nanti kekurangan sisa bagi hasil Rp 5 juta akan diserahkan dan pinjaman pokok sebesar Rp 260 juta dikembalikan utuh semuanya.

Belum sampai itu semua selesai dilunasi, korban mulai sulit menghubungi mitra kerjanya itu. Saat sambungan telephon berhasil terhubung, korban selalu diberi berbagai alasan dan seolah tak pernah ada niat dari Adie untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sisca pun berusaha melakukan penelusuran, ternyata perumahan yang digarap PT tersebut tak menunjukan adanya perkembangan. Dari awal pembangunan hingga kini baru berdiri dua rumah saja, itu pun unit hunian sebagai percontohan.

“Saya sudah mencoba melakukan pendekatan kekeluargaan, namun tidak ada itikad baik darinya. Akhirnya saya menempuh jalur perdata untuk permasalahan ini,” terangnya.

Dengan menggandeng kuasa hukum MG Etik Prawahyanti SH MH, korban menggugat secara perdata pada September 2019. 

Setelah melalui serangkaian sidang, tergugat akhirnya dinyatakan telah melakukan wanprestasi yang tertuang dalam putusan perdata nomor 123/Pdt.G/2019/PN/Yyk dimana ia berkewajiban membayar semua kerugian yang jumlahnya mencapai Rp 286 juta.

Namun pasca setahun putusan ditetapkan, hingga kini tergugat tak pernah melaksanakan kewajibannya. 

Padahal saat di depan hakim mediator dan majelis hakim pemeriksa perkara, tergugat pernah berjanji sanggup membayar hingga Rp 400 juta.

Karena tak ada perkembangan, Sisca akhirnya menempuh jalur pidana dengan melaporkan ke Polres Sleman atas dugaan penipuan. Dikatakannya, saat ini kasus yang dilaporkan itu akan memasuki gelar perkara.

Korban berharap petugas Polres Sleman dapat dengan cepat memproses laporannya itu. Sehingga apa yang dilakukannya itu dapat membuat jera terlapor serta ia tak mengulangi lagi perbuatannya. (Rls)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a comment